Sebenarnya, ini bukan sebuah perjalanan backpacking hanya jalan-jalan biasa untuk mengisi waktu luang saja. Kebetulan, saya sudah pernah dua kali ke Kawah Putih. Perjalanan yang pertama, saya tempuh dengan menggunakan transportasi umum, dan yang kedua menggunakan mobil sewaan. Keduanya sama-sama menyenangkan, tinggal disesuaikan saja dengan kemampuan finansial dan tingkat kenyamanan. Pada umumnya, untuk bepergian dibawah 4 orang, lebih baik menggunakan transportasi umum, karena terhitung lebih murah namun harus rela repot-repot ganti mobil angkutan. Sedangkan, lebih dari 4 orang bisa sewa mobil dari Jakarta. Walaupun sewa mobil cukup mahal, tapi karena di-share dengan yang lain secara umum akan lebih hemat.
Pada awalnya, saya tertarik berniat pergi ke Kawah Putih, karena melihat foto teman yang sudah berkunjung ke sana. Air telaga yang berwarna abu-abu cenderung kehijauan, ditambah banyaknya batang-batang pohon mati yang masih menancap di atas tanah sulfur yang berwarna putih, membuat pemandangan di Kawah Putih begitu dramatis. Mirip sekali dengan lokasi syuting film favorit saya The Lord Of The Rings (sumpah, deh…). Saya seakan tidak percaya, bila tempat tersebut ada di kota Bandung, bukan di Selandia Baru. Itulah sebabnya, alasan kenapa saya sangat ingin pergi ke sana.
Selain itu, alasan saya berikutnya adalah mengantar teman. Baik perjalanan pertama dan kedua, saya memang sengaja memilih Kawah Putih sebagai objek tujuan wisata agar teman-teman saya dari luar negeri bisa tahu betapa indahnya Indonesia. Saking indahnya, Kawah Putih sering dipakai untuk tempat foto pre-wedding orang-orang Bandung, bahkan ada juga dari Jakarta.
Perjalanan pertama saya ke Kawah Putih bermula dari teman saya yang asli Thailand ingin berjalan-jalan ke Bandung. Rencananya, sih, hanya berkeliling Bandung saja. Tapi, setelah saya pikir-pikir akan tidak berkesan bila sudah jauh-jauh ke Bandung hanya pergi ke mal untuk belanja. Kemudian, saya usulkan kepada mereka bagamaina kalau sekalian berkunjung ke Kawah Putih dan mereka pun setuju.
Saya akan bahas step by step menuju Kawah Putih dari Jakarta. Pertama, kita harus mencapai Bandung terlebih dahulu, karena tidak ada bis jurusan Kawah Putih yang langsung dari Jakarta. Untuk itu, kita bisa pilih perusahaan-perusahaan bus tujuan Bandung yang banyak bertebaran (daun kalee…). Yang mau lebih nyaman, dapat memanfaatkan jasa travel. Sebagai perbandingan, harga bus ekonomi Jakarta-Bandung sekitar Rp 25.000, sedangkan untuk bis eksekutif ac bisa sampai Rp 55.000. Harga bus eksekutif reatif sama dengan biaya travel ke Bandung. Jadi tinggal pilih saja, sesuai keinginan.
Lama tempuh ke Bandung kurang lebih sekitar 3 jam, oleh sebab itu usahakan pergi lebih pagi bila berniat hanya satu hari saja. Semua bus dari Jakarta, rata-rata akan berakhir di terminal Leuwi Panjang. Sedangkan untuk travel menggunakan sistem point to point, artinya travel tersebut bisa mengantar kita sesuai tujuan yang dikehendaki. Terminal Leuwi panjang tidak ubahnya seperti terminal-terminal lain di Indonesia (kayak udah pernah keliling Indonesia aja, haha…). Kondisi bangunannya sudah agak tua dan agak kusam (sebenarnya bukan agak tapi memang tua dan kusam). Penempatan bus tidak beraturan, jadi sebaiknya berjalanlah di pinggir kalau tidak mau tertabrak bus yang berseliweran masuk dan keluar terminal.

Saat turun dari bus, kita akan dihampiri oleh banyak calo, supir taksi, tukang jualan, sampai tukang minta-minta. Kalau artis wanna be mungkin akan senang-senang aja, tapi buat yang tidak biasa akan sangat terganggu. Saran saya untuk traveler wanita, kalau ke tempat seperti terminal atau stasiun lebih baik ditemani oleh teman laki-laki. Karena biasanya orang-orang yang saya sebutkan di atas, terkadang sangat mengganggu dan terus mengejar kita. Saya sampai capek untuk bilang “
nggak” berkali-kali kepada mereka. Kasusnya mirip-mirip waktu saya ke Bali dulu. Mereka biasanya akan bertanya,
nggak” berkali-kali kepada mereka. Kasusnya mirip-mirip waktu saya ke Bali dulu. Mereka biasanya akan bertanya,
“mau kemana, mas?”
biasanya, saya jawab “nggak”, maksudnya biar mereka pergi. Tapi, jangan harap mereka menyerah, pertanyaan balasan dari mereka umumnya,
“ mau ke garut, subang, bla… bla… bla…” (mereka nyebutin kota-kota sekitar Bandung, pasti waktu pelajaran IPS dapet nilai bagus)
“jadi, mau kemana, mas?”
Karena saya malas menjawab lagi, saya bilang saja “ntar, saya mau cari makan dulu”
worst case, mereka benar-benar nungguin kita makan kayak waktu ke Gunung Bromo (nah, loh…), kalau diam saja mereka suka bilang,
“ditanya diem aja… gagu, ya?” (bah…)
Kemarin, saya berkesempatan untuk menginap satu malam di Bandung. Sebab Kawah Putih masih 2 jam perjalanan lagi dan akan sangat melelahkan bila langsung ke sana. Apalagi saya membawa teman wanita, jadi saya putuskan cari penginapan di Bandung saja dulu. Sebelumnya kalau ke Bandung, saya selalu menginap di kost teman, sehingga saya sempat kebingungan mencari penginapan yang cocok. Maksudnya, cocok untuk budget saya, karena teman saya dari Thailand sepertinya tidak bermasalah dengan harga penginapan,haha…
Di kota manapun, rasanya mencari penginapan murah gampang-gampang susah. Sekalipun, saya anak jakarta (weee…) kalau bukan dari buku traveling, rasanya saya masih belum tahu kalau pusat penginapan murah di Jakarta ada di jalan Jaksa (dekat Monas). Untuk itu, saya juga memanfaatkan buku traveling untuk mencari penginapan murah. Pilihan saya, jatuh pada Gelanggang Remaja apa gitu… (namanya lupa). Letaknya sangat strategis, persis di samping BIP Plaza di daerah Dago.
Kamar paling bagus dibandrol dengan harga Rp 150 ribu-an dan kamar dormintory seharga Rp 30 ribu/ orang. Anehnya, untuk tidur di dormitory pengelola mengharuskan minimal 4 orang, jadi kalau datang sendiri terpaksa harus bayar penuh untuk 4 orang. Hal itu karena, kunci kamarnya kita yang bawa. Kalau menginap sendirian, pilih saja kamar yang paling bagus daripada tidur di dormitory. Karena, cuma kami berempat yang tidur di dorm¸ kami mengajak 1 orang lagi teman untuk menginap sebab masih banyak kasur kosong. Dia berasal dari Thailand juga yang sedang belajar di UPI. Awalnya agak takut juga, karena kami tidak memberi tahu pengelola kalau ada 1 orang penyelundup,haha…
Ketika itu, saya pergi waktu bulan Ramadhan. Bagi yang shaum, bisa sahur di KFC yang ada di depan Gelanggang Remaja yang buka 24 jam. Habis sahur, saya tidur lagi,hehe… Bangun-bangun sudah pukul 9 pagi alias bablas. Kemudian, kami semua bergegas mandi dan makan pagi untuk menemani teman saya dari Thailand itu. Setalah makan di Pizza Hut, kami kembali ke terminal Leuwi Panjang untuk naik bis tujuan Ciwideuy. Di sini, kami berpisah dengan Supamongkol teman dari Thailand, karena dia sedang ada acara di kampus.
Jalur angkutan di Bandung sangat rumit, bahkan setiap saya tanya orang yang lewat, bisa ada beberapa jawaban untuk satu pertanyaan yang sama. Oleh sebab itu bila mau ke Bandung, akrabkan diri dengan peta atau mau lebih praktis bisa menggunakan google map dari Handphone 3G. Saya tidak melebih-lebihkan, sebab anak kuliah saja yang tinggal di Bandung tidak mengerti jalur angkot, gimana kita yang orang Jakarta. Wajar saja, sih, orang-orang Bandung lebih suka naik motor atau mobil pribadi untuk mobilitas mereka (uh, sombong…).
Setelah sampai Leuwi Panjang, bisa langsung cari bis ukuran sedang tujuan Ciwideuy. Ingat, tidak ada bis kalau sudah sore, jadi kalkulasikan waktu dengan tepat. Tarif ke Ciwideuy dari Bandung Rp 13 ribu memakan waktu 2 jam-an. Di beberapa titik, sering sekali macet, tapi secara umum perjalanan dengan bis cukup lancar. Sepanjang perjalanan, kita akan melihat perkebunan strawberry di kanan-kiri jalan. Sayang, lebar jalan sangat sempit. Tiap jalur hanya cukup untuk satu mobil, jadi saya suka ngeri kalau ada motor yang mencoba menyalip, sebab rata-rata kecepatan mobil lumayan kencang untuk jalur sesempit itu.
Sampai di terminal Ciwideuy jangan kaget, kalau hanya kita yang jadi turis. Sebab, penumpang yang lain adalah penduduk setempat atau pedagang yang memasarkan barangnya di Bandung. Lumayan lama, saya celingak-celinguk di terminal sebab semua supir angkot yang saya tanya bagaimana untuk ke Kawah Putih, semuanya menawarkan harga borongan. Maksudnya, kita disuruh menyewa angkot mereka.
Saya mencoba untuk bertanya pada warga, tapi mereka takut memberi tahu karena supir angkot yang tadi segera menghampiri warga tersebut, sambil teriak-teriak pakai bahasa sunda. Dalam hati saya menggumam, “wah sialan, ini sih kayak waktu ke Bali waktu itu”. Ini salah satu alasan kenapa Indonesia masih terkucil dari pentas pariwisata internasional. Bagaimana turis asing mau nyaman berkunjung, lha wong saya saja yang orang indonesia dikerjai sama mereka. Akhirnya, saya menyerah karena hari sudah siang dan saya berniat kembali ke Jakarta hari itu juga. Lalu, saya tanya ke supir berapa harga sewa angkot, kemudia dia bilang,
“sewanya Rp 500ribu”
eh, buset mahal amat dah… saya bilang “kurangin, lah… orang deket gitu” (padahal saya tidak tahu masih jauh atau nggak, hehe…)
“udah… Rp 300 ribu deh”
“masih mahal, saya mahasiswa, kurangin lagi dong” (trik paling populer di kalangan anak kuliah untuk dapat diskon)
“nggak bisa, karena itu dah sama tiket masuk, uang bensin, bla… bla… bla…”
saya diam, sambil menghitung-hitung variabel biaya yang ada dan menanyakan pendapat yang lain. Tampaknya kita memang tidak punya pilihan.
“200 ribu, ya” saya masih berusaha menego.
“yauda, naik saja dulu” kata supirnya.

Karena, kita masih belum deal soal harga, selama perjalanan saya dan si supir adu bacot. Malah, kadang-kadang si supir pakai bahasa sunda, saya langsung bilang saja “ah, gue nggak ngerti”. Teman-teman yang lain cuma diam saja melihat saya keukeuh-keukeuhan sama supir angkot. Saya sudah sering jalan-jalan dan sering pula dimanfaatin sama tukang jualan, supir angkot, sama pengelola penginapan. Jadi kali ini, setidaknya saya harus melakukan perlawanan. Dengan sedikit nekat, saya bilang ke supir,
“yauda lah, kalau nggak mau saya turun saja ”
supir pun mikir-mikir, saya selama perjalanan kalkulasi sendiri agar keputusan saya menggertak supir tidak salah.
Perhitungan kasar saya,
tarif masuk biasanya Rp 13 ribu x 4 orang = Rp 62.000
ongkos standar angkot paling Rp 8 ribu x 4 orang = Rp 32.000
ongkos angkutan dari pintu masuk ke kawah Rp 10 ribu x 4 orang = Rp 40.000
jadi paling banter totalnya tidak sampai Rp 140 ribu berarti dia dah untung Rp 160 ribu dengan memasang harga Rp 300 ribu.
Si supir nggak kehilangan akal, lalu dia bilang dengan harga Rp 250 ribu sudah termasuk jalan-jalan ke Situ Patenggang. Karena sedang puasa, kelamaan adu bacot juga tidak baik untuk kesehatan,haha… malah bikin tambah haus saja. Saya pun menyetujui harga tersebut, dengan pertimbangan ada dua objek yang dikunjungi. Tidak rugi-rugi amat lah.
Setelah 15 menit perjalanan dari terminal, kami sampai di Kawah Putih. Angkot pun langsung melaju ke kawah tanpa ba bi bu di depan loket. Artinya, kami tidak bayar uang loket, ealaaah… dasar licik. Saya tidak mau masalah tersebut mengganggu perjalanan, jadi saya nikmati saja wisata ke Kawah Putih. Tidak lama kami sampai di pemberhentian terakhir. Saya hitung-hitung, dari pintu masuk ke sini memakan waktu 10 menit an. Sebenarnya, bisa saja jalan tapi bukan masalah capai-nya. Jalan menuju kawah sekitar 3.5 meter artinya untuk 2 mobil berpapasan saja tidak cukup. Konsekuensi paling besar dari keadaan tersebut cuma ada dua, TERSEREMPET atau TERTABRAK.
Saat kami sampai di kawah, keadaan sedikit gerimis, bukan karena hujan namun karena banyaknya kabut yang mengandung uap air bisa dibilang prosesnya hampir sama dengan hujan juga sih. Tidak sia-sia pergi jauh ke Kawah Putih, apa yang saya lihat di foto sesuai dengan ekspektasi saya. Apalagi, saat itu tidak terlalu banyak wisatawan, jadi aura Kawah Putih benar-benar mistis karena tebalnya kabut yang menyelimuti. Wow, sangat FANTASTIS…
Saya sempat cuci kaki di crater, rasanya hangat sekali padahal udara di sekitar sangat dingin. Disarankan kalau ke Kawah Putih membawa masker atau selendang untuk menutup mulut. Seringkali kawah mengeluarkan uap belerang yang sangat pekat. Tapi, jangan khawatir ada banyak penjual masker dan penyewaan payung kalau hari sedang hujan. Untuk pulang ke Bandung, sama seperti kita pergi. Harap diingat, angkutan ke Bandung kalau malam sangat susah. Kami sempat kemalaman di Ciwideuy, sehingga kami harus berganti-ganti trayek untuk sampai Bandung sebab bis sudah tidak ada. Kalau, kemalaman, naik mobil ELF yang ada di depan indomart, tempat biasa angkutan mangkal, di terminal sudah sepi tidak ada mobil lagi.
Begitulah perjalanan saya yang pertama ke Kawah Putih, untuk perjalanan kedua tidak banyak yang bisa diceritakan, karena saya hanya duduk manis di mobil, tahu-tahu sudah sampai Kawah Putih. Itulah kekurangan naik mobil sewaan, perjalanan menjadi kurang mengesankan. Sebelum pulang, kami menyempatkan untuk pergi ke kebun strawberry. Ada beberapa macam jenis strawberry, yang paling manis adalah jenis calibrate (tahu benar atau salah penulisannya). Harganya sekitar Rp 40 ribu/ Kg, tapi saat kunjungan kedua saya dapat tempat beli strawberry yang harganya Rp 20 ribu/ Kg, jadi kalau dirasa harganya mahal bisa cari perkebunan yang lain. Kita juga bisa mencicipi dulu, kok, strawberry yang mau kita beli tinggal petik saja sendiri. Untuk tips memetik strawberry, sisakan sedikit batangnya agar strawberry tetap segar.

seperti middle earth di TLOTR, kan?
saat kunjungan pertama ke kawah putih
ada buah strawberry yang unik
kalau metik buah strawberry dengan tangkainya agar tidak cepat layu
kunjungan kedua saya bersama teman dari Korea dan Jepang
situ patenggang yang terkenal itu
di tengah situ patenggang ada yang namanya pulau cinta, tapi tidak sempat ke sana
kita bisa makan strawberry yang ada di kebun, gratisss!!!
kalau yang ini harus bayar, karena untuk dibawa pulang






tempat wisata yang mengiurkan sobat, makasih atas berbaginya.
BalasHapusya, sama-sama!
Hapussenang bisa memberikan rekomendasi tempat-tempat luar biasa di bumi Indonesia :D
thanks ya sob, ane ada rencana jdi bisa lebih hati2
BalasHapusDengan banyak membaca Field Report orang lain, kita semakin nyaman dan aman dalam berjalan-jalan.
Hapusbawa uang saja yang banyak... aman deh, haha...