Selasa, 14 Juni 2011

Backpacking Part 4 (Kepulauan Seribu)



Pulau Putri

Sewaktu saya masih kecil, nama pulau seribu sudah membuat saya penasaran untuk datang ke sana. Apalagi, teman-teman semasa SMP seringkali bercerita mengenai liburan mereka ke pulau bidadari atau ke pulau ayer. Sungguh beruntung, akhirnya saya bisa mewujudkan mimpi saya itu walaupun harus menunggu lebih dari 10 tahun. Kesempatan saya bersua dengan pulau seribu datang dari ajakan seorang teman di tahun 2010 lalu. Pada kunjungan pertama, saya diberi kesempatan mencicipi keindahan private island, sedangkan untuk kunjungan yang kedua, saya mengikuti tour island yang dibuat oleh klub Jakarta Tempoe Doeloe.
Salah satu alasan mengapa saya baru bisa pergi menjelajah pulau seribu adalah minimnya informasi kala itu. Untuk pergi ke sana, saya tidak tahu harus naik perahu dari pelabuhan apa, menginap dimana, dan biaya yang harus disiapkan. Karena yang saya tahu, Pulau Seribu adalah tempat liburan hanya untuk kalangan “atas”. Makanya, ketika ada kesempatan untuk pergi ke sana, saya tidak ingin melewatkannya.
Pada saat kunjungan pertama, saya pergi melalui pelabuhan Marina, Ancol. Pelabuhan Marina memang dikhususkan bagi para pelancong yang hendak ke Pulau Seribu menggunakan boat. Ketika itu, saya begitu excited, karena ini akan jadi pengalaman pertama ke Pulau Seribu. Sebenarnya, dua hari sebelumnya saya jatuh dari motor. Kaki dan tangan saya terluka cukup parah, saya pun sempat ragu jadi pergi atau tidak. Berhubung sudah janji dengan teman dan tidak mau rugi melewatkan gratisan, terpaksa bela-belain walaupun tangan kaki nyut-nyutan,haha…
Waktu tempuh ke pulau Putri dari pelabuhan Marina sekitar 2 jam lebih. Kapal melaju cepat memecah ombak, maklum kapal yang saya tumpangi bermesin ganda 40 PK. Kalau bayar, saya mungkin harus mengeluarkan uang Rp 150 ribu,- sekali jalan untuk kapal. Sedangkan untuk penginapan, satu malamnya bisa Rp 1 juta-an,- (beruntung teman saya punya saudara yang kerja di sana jadi agak KKN dikit,hehe...). Selama perjalanan, saya tidak merasakan guncangan ombak. Mungkin, karena saking cepatnya laju kapal. Tidak lama, kapalpun merapat di pulau Putri. Saya kemudian menaruh barang bawaan di kamar dan bersiap menjelajahi pulau.
Sebelum jalan-jalan, saya makan dulu, maklum sudah lewat jam makan siang. Nasi dan lauknya sudah diambilin teman saya, tugas saya cuma makan saja,hehe… Luas pulau Putri tidak sebesar pulau Pramuka (sok’ tahu, padahal belum pernah ke sana). Untuk mengelilinginya mungkin cuma perlu 30 menit jalan kaki. Di tengah pulau masih ada hutan alami, jadi terkadang suka banyak hewan sejenis kera, lutung, dan sebangsanya mampir ke penginapan. Yang lebih suereem, sering ada biawak mondar-mandir di depan pintu. Makanya, pintu kamar diusahakan selalu terkunci takut ada binatang ular atau yang lain masuk ke kamar.
Setelah puas menjelajahi pulau (kemarin nggak sempat mengelilingi seluruh pulau, sih), saya kemudian bersiap ke dermaga untuk melihat sunset. Saya bersama turis-turis yang lain naik kapal bak terbuka (eh, kalau kapal kayak gitu apa ya namanya) lalu, menuju laut lepas. Kata teman saya, biasanya banyak lumba-lumba yang suka berenang mengikuti kapal. Namun, karena kemarin agak mendung, nggak ada satupun lumba-lumba yang terlihat. Walau mendung, sunset-nya tetap kelihatan, kok, sebab mataharinya berada di ujung horizon. Menjelang malam, kapal kembali ke dermaga. Ya, lumayanlah hari itu bisa melihat sunset, walaupun luka-luka saya agak sakit kena sinar matahari.
Malamnya, karena hujan saya di diam kamar saja nonton tv. Ada di pulau saat hujan sangat menyeramkan. Saya jadi teringat petualangan saya ketika menginap di pulau Sempu. Kira-kira rasanya sama-lah seperti itu, bedanya pulau Sempu cuma berjarak 5 menit dari daratan utama sedangkan pulau Putri berjarak 2 jam dari Jakarta, jadi ombaknya lebih sangar. Saat itu, anginnya kencang sekali, pohon-pohon sampai pada bunyi kreeek kreek. Saya sempat keluar untuk beli makanan, dan tidak sengaja melihat kondisi laut saat itu. Ombaknya benar-benar seperti di film perfect storm. Tapi, anehnya saya jarang sekali mendengar petir, mungkin karena di sekitar pulau hanya ada laut. Jadi, tidak ada muatan listrik netral untuk terciptanya petir, sebab bumi lah yang berfungsi sebagai penghantar muatan listrik netral (sok’ tahu lagi).
Saya bangun sekitar jam 6 (telat sholat shubuh), abis itu langsung mandi dan sarapan. Lagi-lagi, teman saya yang membawakan nasi dan lauknya, saya tinggal menyantap saja. Sisa-sisa badai semalam masih terlihat jelas, banyak sekali daun-daun dan cabang pohon yang berserakan. Rencananya, saya mau menginap 2 malam, tapi luka di tangan saya agak terasa sakit kalau terkena angin laut (mungkin karena sedikit mengandung garam). Jadi, saya memutuskan untuk pulang hari itu juga. Sebelum pulang, saya pergi ke tabung observasi untuk melihat ikan di bawah laut. Ikannya besar-besar sekali. Turis lain banyak yang mengisi waktu luang dengan naik banana boat, naik bebek-bebekan seperti di taman mini, dan ada juga yang memancing. Jadwal kapal ke Jakarta cuma 1 kali, yaitu pagi jam 10. Jadi, saya harus siap-siap ada di dermaga sebelum jam 10 atau pulang keesokan harinya. Jam 10 kapal datang, tapi yang sekarang agak kecil dan agak lambat dari yang kemarin. Tapi, ini masih lebih baik sebab kalau naik kapal mesin punya nelayan bisa memakan waktu 8 jam untuk sampai Jakarta. Sampai di dermaga Marina, saya jalan-jalan ke Ancol sebentar, lalu pulang ke rumah. Oh, iya, perjalanan ke pulau Putri saya cuma habis Rp 100 ribuan, itu juga hanya untuk pengeluaran pribadi dan masuk Ancol.
wuidih, ikannya gede-gede... serem
kolam observasi bawah laut.
di sekeliling pulau Putri banyak juga pulau lain yang belum dikembangkan (berniat investasi?)
karena bosen di dalem terus, mending nge-liat pemandangan dari luar kapal...


Pulau Onrust

Setelah jalan-jalan ke pulau Putri beberapa waktu lalu, sekarang saya berkesempatan mengunjungi pulau Onrust, dan dua pulau lainnya. Perjalanan kali ini, saya ditemani oleh teman-teman dari Jepang, Korea, Thailand, dan Polandia. Kebetulan, salah satu teman saya merupakan anggota klub Jakarta Tempo Doeloe. Jadi, ketika klub itu mengadakan acara jalan-jalan ke pulau Onrust, dia juga mengajak saya. Biaya perjalanan kemarin Rp 100 ribu,- sudah termasuk makan, kapal, kaos, dan pin. Lumayan lah nggak rugi-rugi banget dengan fasilitas yang disediakan panitia.
Dari Depok saya naik kereta menuju Kota. Saya dan teman-teman sudah janjian untuk bertemu di depan museum Bank Mandiri di depan stasiun Kota. Karena kereta telat, saya pun agak telat sampai sana. Saat itu, semua orang sudah datang. Tidak banyak membuang waktu sayapun langsung mencari taksi untuk ke Muara Kamal, sebab tour akan dimulai jam 8 pagi. Sengaja saya pilih taksi Ekspress, karena tarifnya lebih murah dari Blue Bird (bukan promosi), tapi untuk taksi kedua saya pakai Taksiku (dua-duanya recommended). Kami saat itu pergi ber-9, jadi kami bagi lima orang untuk di Ekspress dan sisanya di Taksiku.
Singkat kata, kami langsung meluncur ke TKP. Dermaga Muara Kamal agak jauh dari stasiun Kota, sekitar 40 menit perjalanan. Tempatnya juga agak terpencil dan tidak ada angkutan kota. Tapi, kita bisa pakai mobil omprengan untuk sampai sana. Kalau sudah malam, akan lebih susah lagi cari angkutan. Jadi, lebih baik pulang sebelum jam 6, atau bawa kendaraan sendiri. Tour akan mulai pada pukul 08.00, tapi jam 7.40 kita masih ada di jalan karena agak macet. Jalan ke Muara Kamal tidak terlalu lebar, namun yang lewat truk-truk besar. Sehingga, bila berpapasan, salah satu pihak harus sedikit menepi.
20 menit lebih, kami sampai dermaga Muara Kamal (untung nggak ditinggal). Kami pun dapat kaos dan pin dari panitia. Saat itu, ada lebih dari 4 perahu yang membawa para anggota tour ke pulau Onrust, karena jumlah orang yang ikut saya taksir lebih dari 100 orang termasuk panitia. Setelah berdoa bersama, kapal pun berangkat. Dermaga Muara Kamal terbilang agak kumuh, banyak sekali sampah yang berserakan di darat maupun di laut. Makanya, jarang pelancong ala koper yang lewat Muara Kamal untuk ke pulau Seribu. Mereka lebih suka naik kapal dari Marina Ancol.
Kapal yang saya tumpangi melaju tidak lebih dari 5 knot (sekita 10 km/ jam lah). Berbeda sekali dengan kapal ke pulau Putri. Kali ini, guncangan ombak sangat terasa sehingga saya lihat beberapa orang yang muntah-muntah karena mabok laut. 15 menit kemudian, saya sampai ke pulau pertama. Di pulau pertama yang saya kunjungi ada sebuah benteng tua yang sudah hancur di beberapa bagian. Keadaanya kurang terawat karena persoalan klasik yaitu “sampah”. Yang sering buang sampah sembarangan memang sampah masyarakat. Saya paling kesal, kalau sedang jalan-jalan wisata alam melihat sampah. Kalau punya waktu lebih banyak, mungkin saya akan pungutin tuh sampah seperti yang saya lakukan di pulau Sempu dulu. Please, sediain kantong sampah pribadi kalau sedang wisata alam. Jadi, sampahnya nggak dibuang begitu saja. Masalahnya, tempat seperti pulau Seribu dan pulau Sempu, bukan ada di tengah kota yang gampang dibersihkan kalau kotor. Sekali saja ada sampah yang terbuang akan sulit dibersihkan, apalagi kalau sudah ada di laut sangat sulit sekali mengumpulkan sampahnya. (consider the earth is our home, so we have to responsible to keep it clean).

Kecuali masalah sampah, tempat itu sebenarnya adalah tempat yang indah. Pasirnya berasal dari pecahan kulit kerang, kalau terinjak rasanya sedikit sakit (buat terapi cocok kali, ye). Yang aneh, di pulau itu ada sekawanan kucing yang entah dari mana datangnya. Saya bertanya kepada pemilik kapal, dan menanyakan apa itu kucing mereka (mungkin terbawa di perahu). Tapi, mereka bilang itu kucing dari Jakarta (wew). Beberapa saat kemudian, kami melanjutkan ke pulau berikutnya. Ada hal lucu sebelum ke pulau selanjutnya, rupanya badan kapal terbawa ombak sampai menyentuh dasar (karena nggak ada dermaga). Sehingga walau mesin sudah di gas pol, kapal belum mau jalan juga. Kapal harus didorong sedikit, dan yang gila si bapak menyuruh anaknya yang masih bocah untuk mendorong kapal (kasian banget luh, tong!). Mungkin karena kapal terlalu berat atau si anak yang terlalu kecil, kapal tetap nggak bergerak. Orang-orang bukannya mikir, malah pada ngobrol sendiri, padahal kapal lain sudah berangkat. Karena kasian, saya turun lagi ke pantai dan dorong tuh kapal dan buru-buru naik lagi biar nggak ketinggalan. Memang, “gara-gara” ikut pramuka (lebih tepatnya, berkat ikut pramuka) jiwa solidaritas dan kecintaan dengan alam yang saya miliki jadi tinggi sekali. Sesuai dengan isi Dasa Dharma ke-dua: cinta alam dan kasih sayang sesama manusia. Hidup Pramuka!!!
Jarak pulau pertama dan kedua tidak begitu jauh sekitar 10 menit perjalanan. Di pulau kedua ini, lebih luas dari pulau pertama. Di sini ada pos penjagaan dan tempat istirahat, selain itu ada banyak kuburan belanda. Pemandu tour menjelaskan, kalau dulunya pulau ini adalah penjara dan tempat buangan para korban kasus politik. Beberapa saat berjalan kaki, saya menjumpai kuburan yang konon adalah peristirahatan terakhir dari........ (wah lupa namanya, sorry!) yang pasti, ada kok di buku pelajaran sejarah. Lalu, tour dilanjutkan ke kuburan belanda. Ada satu makam yang agak nyentrik, karena batu nisannya paling besar sendiri dan ada tulisan bahasa belanda-nya (paling tulisan itu artinya “di sini telah terbaring dengan tenang bla... bla... bla...”). Katanya, kalau malam hari, si nyonya belande ini sering menampakan wujudnya. Puas dengar celotehan si pemandu, saya dan teman-teman sudah nggak sabar foto-foto dengan latar belakang laut lepas. Wuih, keren...
Panitia kemudian membagikan nasi bungkus. Saatnya makan siang rupanya. Jujur, makanannya enak banget, mungkin karena lapar kali, ya. Tidak lupa cari mushola untuk sholat dhuhur sekalian ashar, istirahat sebentar lalu lanjut ke pulau terakhir. Oh, ya... sorry lagi. Saya lupa pulau Onrust tuh yang mana ya, pulau pertama? pulau kedua? atau pulau ketiga?. Pokoknya, Onrust itu dari bahasa belanda yang berarti tidak pernah istirahat, mungkin bahasa inggrisnya unrest kali, ya (maybe). Sebenarnya pulau kedua dan pulau ketiga terhubung oleh jembatan yang melintasi laut, tapi sayang jembatannya terputus di bagian tengah karena ombak. Di pulau ketiga, masih tersisa beberapa bangunan yang dulunya tempat karantina. Saya sempat berjalan di atas jembatan sampai bagian yang terputus. Wow, seram sekali karena jembatan itu benar-benar di tengah laut. Yang jadi pertanyaan, kok, bisa ya bangun jembatan di tengah laut. Secara kalkulasi kedalaman laut lebih dari 10 meter, lalu bagaimana mereka menancapkan tiang-tiangnya dan membuatnya berdiri kokoh (setidaknya sampai sebelum jembatan itu runtuh). Pokoknya keren lah, arsiteknya. menjelang sore, kami kembali ke Muara Kamal. Untuk ke pusat kota, saya naik omprengan Rp 10.000,- menuju pluit. Dari sana dilanjutkan dengan Transjakarta ke downt town. Malamnya, saya diajak teman nonton acara dari kedutaan besar Thailand di Gedung Kesenian Jakarta. Wah, hari yang sangat indah yang tidak terlupakan.
Jalan-jalan ke pulau Seribu merupakan my fulfilled dream. Kalau bukan karena teman-teman saya itu, mungkin saya masih penasaran setengah mati dengan pulau seribu. Kalau ada waktu, saya juga mau ke pulau Tidung, sepertinya pulau itu menjadi terkenal baru-baru ini. Banyak teman yang mengajak ke sana, tapi belum sempat waktunya. Selain pulau Tidung, saya juga mau ke pulau Pramuka (mentang-mentang anak Pramuka), pulau Bidadari, dan pulau Ayer. Semoga saja saat yang tepat untuk mengunjungi pulau-pulau itu datang.


beberapa foto yang menceritakan sejarah pulau

catatan sejarah pulau Onrust


di pulau ini banyak kucing misterius, karena jarak pulau ke daratan Jakarta lebih dari 2 km (nggak mungkin, 'kan mereka berenang?)

Senin, 13 Juni 2011

Backpacking Part 3 (Bandung - Kawah Putih)


Sebenarnya, ini bukan sebuah perjalanan backpacking hanya jalan-jalan biasa untuk mengisi waktu luang saja. Kebetulan, saya sudah pernah dua kali ke Kawah Putih. Perjalanan yang pertama, saya tempuh dengan menggunakan transportasi umum, dan yang kedua menggunakan mobil sewaan. Keduanya sama-sama menyenangkan, tinggal disesuaikan saja dengan kemampuan finansial dan tingkat kenyamanan. Pada umumnya, untuk bepergian dibawah 4 orang, lebih baik menggunakan transportasi umum, karena terhitung lebih murah namun harus rela repot-repot ganti mobil angkutan. Sedangkan, lebih dari 4 orang bisa sewa mobil dari Jakarta. Walaupun sewa mobil cukup mahal, tapi karena di-share dengan yang lain secara umum akan lebih hemat.
Pada awalnya, saya tertarik berniat pergi ke Kawah Putih, karena melihat foto teman yang sudah berkunjung ke sana. Air telaga yang berwarna abu-abu cenderung kehijauan, ditambah banyaknya batang-batang pohon mati yang masih menancap di atas tanah sulfur yang berwarna putih, membuat pemandangan di Kawah Putih begitu dramatis. Mirip sekali dengan lokasi syuting film favorit saya The Lord Of The Rings (sumpah, deh…). Saya seakan tidak percaya, bila tempat tersebut ada di kota Bandung, bukan di Selandia Baru. Itulah sebabnya, alasan kenapa saya sangat ingin pergi ke sana.
Selain itu, alasan saya berikutnya adalah mengantar teman. Baik perjalanan pertama dan kedua, saya memang sengaja memilih Kawah Putih sebagai objek tujuan wisata agar teman-teman saya dari luar negeri bisa tahu betapa indahnya Indonesia. Saking indahnya, Kawah Putih sering dipakai untuk tempat foto pre-wedding orang-orang Bandung, bahkan ada juga dari Jakarta.
Perjalanan pertama saya ke Kawah Putih bermula dari teman saya yang asli Thailand ingin berjalan-jalan ke Bandung. Rencananya, sih, hanya berkeliling Bandung saja. Tapi, setelah saya pikir-pikir akan tidak berkesan bila sudah jauh-jauh ke Bandung hanya pergi ke mal untuk belanja. Kemudian, saya usulkan kepada mereka bagamaina kalau sekalian berkunjung ke Kawah Putih dan mereka pun setuju.
Saya akan bahas step by step menuju Kawah Putih dari Jakarta. Pertama, kita harus mencapai Bandung terlebih dahulu, karena tidak ada bis jurusan Kawah Putih yang langsung dari Jakarta. Untuk itu, kita bisa pilih perusahaan-perusahaan bus tujuan Bandung yang banyak bertebaran (daun kalee…). Yang mau lebih nyaman, dapat memanfaatkan jasa travel. Sebagai perbandingan, harga bus ekonomi Jakarta-Bandung sekitar Rp 25.000, sedangkan untuk bis eksekutif ac bisa sampai Rp 55.000. Harga bus eksekutif reatif sama dengan biaya travel ke Bandung. Jadi tinggal pilih saja, sesuai keinginan.
Lama tempuh ke Bandung kurang lebih sekitar 3 jam, oleh sebab itu usahakan pergi lebih pagi bila berniat hanya satu hari saja. Semua bus dari Jakarta, rata-rata akan berakhir di terminal Leuwi Panjang. Sedangkan untuk travel menggunakan sistem point to point, artinya travel tersebut bisa mengantar kita sesuai tujuan yang dikehendaki. Terminal Leuwi panjang tidak ubahnya seperti terminal-terminal lain di Indonesia (kayak udah pernah keliling Indonesia aja, haha…). Kondisi bangunannya sudah agak tua dan agak kusam (sebenarnya bukan agak tapi memang tua dan kusam). Penempatan bus tidak beraturan, jadi sebaiknya berjalanlah di pinggir kalau tidak mau tertabrak bus yang berseliweran masuk dan keluar terminal.

Saat turun dari bus, kita akan dihampiri oleh banyak calo, supir taksi, tukang jualan, sampai tukang minta-minta. Kalau artis wanna be mungkin akan senang-senang aja, tapi buat yang tidak biasa akan sangat terganggu. Saran saya untuk traveler wanita, kalau ke tempat seperti terminal atau stasiun lebih baik ditemani oleh teman laki-laki. Karena biasanya orang-orang yang saya sebutkan di atas, terkadang sangat mengganggu dan terus mengejar kita. Saya sampai capek untuk bilang “
nggak” berkali-kali kepada mereka. Kasusnya mirip-mirip waktu saya ke Bali dulu. Mereka biasanya akan bertanya,
“mau kemana, mas?”
biasanya, saya jawab “nggak”, maksudnya biar mereka pergi. Tapi, jangan harap mereka menyerah, pertanyaan balasan dari mereka umumnya,
“ mau ke garut, subang, bla… bla… bla…” (mereka nyebutin kota-kota sekitar Bandung, pasti waktu pelajaran IPS dapet nilai bagus)
“jadi, mau kemana, mas?”
Karena saya malas menjawab lagi, saya bilang saja “ntar, saya mau cari makan dulu”
worst case, mereka benar-benar nungguin kita makan kayak waktu ke Gunung Bromo (nah, loh…), kalau diam saja mereka suka bilang,
“ditanya diem aja… gagu, ya?” (bah…)
Kemarin, saya berkesempatan untuk menginap satu malam di Bandung. Sebab Kawah Putih masih 2 jam perjalanan lagi dan akan sangat melelahkan bila langsung ke sana. Apalagi saya membawa teman wanita, jadi saya putuskan cari penginapan di Bandung saja dulu. Sebelumnya kalau ke Bandung, saya selalu menginap di kost teman, sehingga saya sempat kebingungan mencari penginapan yang cocok. Maksudnya, cocok untuk budget saya, karena teman saya dari Thailand sepertinya tidak bermasalah dengan harga penginapan,haha…
Di kota manapun, rasanya mencari penginapan murah gampang-gampang susah. Sekalipun, saya anak jakarta (weee…) kalau bukan dari buku traveling, rasanya saya masih belum tahu kalau pusat penginapan murah di Jakarta ada di jalan Jaksa (dekat Monas). Untuk itu, saya juga memanfaatkan buku traveling untuk mencari penginapan murah. Pilihan saya, jatuh pada Gelanggang Remaja apa gitu… (namanya lupa). Letaknya sangat strategis, persis di samping BIP Plaza di daerah Dago.
Kamar paling bagus dibandrol dengan harga Rp 150 ribu-an dan kamar dormintory seharga Rp 30 ribu/ orang. Anehnya, untuk tidur di dormitory pengelola mengharuskan minimal 4 orang, jadi kalau datang sendiri terpaksa harus bayar penuh untuk 4 orang. Hal itu karena, kunci kamarnya kita yang bawa. Kalau menginap sendirian, pilih saja kamar yang paling bagus daripada tidur di dormitory. Karena, cuma kami berempat yang tidur di dorm¸ kami mengajak 1 orang lagi teman untuk menginap sebab masih banyak kasur kosong. Dia berasal dari Thailand juga yang sedang belajar di UPI. Awalnya agak takut juga, karena kami tidak memberi tahu pengelola kalau ada 1 orang penyelundup,haha…
Ketika itu, saya pergi waktu bulan Ramadhan. Bagi yang shaum, bisa sahur di KFC yang ada di depan Gelanggang Remaja yang buka 24 jam. Habis sahur, saya tidur lagi,hehe… Bangun-bangun sudah pukul 9 pagi alias bablas. Kemudian, kami semua bergegas mandi dan makan pagi untuk menemani teman saya dari Thailand itu. Setalah makan di Pizza Hut, kami kembali ke terminal Leuwi Panjang untuk naik bis tujuan Ciwideuy. Di sini, kami berpisah dengan Supamongkol teman dari Thailand, karena dia sedang ada acara di kampus.
Jalur angkutan di Bandung sangat rumit, bahkan setiap saya tanya orang yang lewat, bisa ada beberapa jawaban untuk satu pertanyaan yang sama. Oleh sebab itu bila mau ke Bandung, akrabkan diri dengan peta atau mau lebih praktis bisa menggunakan google map dari Handphone 3G. Saya tidak melebih-lebihkan, sebab anak kuliah saja yang tinggal di Bandung tidak mengerti jalur angkot, gimana kita yang orang Jakarta. Wajar saja, sih, orang-orang Bandung lebih suka naik motor atau mobil pribadi untuk mobilitas mereka (uh, sombong…).
Setelah sampai Leuwi Panjang, bisa langsung cari bis ukuran sedang tujuan Ciwideuy. Ingat, tidak ada bis kalau sudah sore, jadi kalkulasikan waktu dengan tepat. Tarif ke Ciwideuy dari Bandung Rp 13 ribu memakan waktu 2 jam-an. Di beberapa titik, sering sekali macet, tapi secara umum perjalanan dengan bis cukup lancar. Sepanjang perjalanan, kita akan melihat perkebunan strawberry di kanan-kiri jalan. Sayang, lebar jalan sangat sempit. Tiap jalur hanya cukup untuk satu mobil, jadi saya suka ngeri kalau ada motor yang mencoba menyalip, sebab rata-rata kecepatan mobil lumayan kencang untuk jalur sesempit itu.

Sampai di terminal Ciwideuy jangan kaget, kalau hanya kita yang jadi turis. Sebab, penumpang yang lain adalah penduduk setempat atau pedagang yang memasarkan barangnya di Bandung. Lumayan lama, saya celingak-celinguk di terminal sebab semua supir angkot yang saya tanya bagaimana untuk ke Kawah Putih, semuanya menawarkan harga borongan. Maksudnya, kita disuruh menyewa angkot mereka.
Saya mencoba untuk bertanya pada warga, tapi mereka takut memberi tahu karena supir angkot yang tadi segera menghampiri warga tersebut, sambil teriak-teriak pakai bahasa sunda. Dalam hati saya menggumam, “wah sialan, ini sih kayak waktu ke Bali waktu itu”. Ini salah satu alasan kenapa Indonesia masih terkucil dari pentas pariwisata internasional. Bagaimana turis asing mau nyaman berkunjung, lha wong saya saja yang orang indonesia dikerjai sama mereka. Akhirnya, saya menyerah karena hari sudah siang dan saya berniat kembali ke Jakarta hari itu juga. Lalu, saya tanya ke supir berapa harga sewa angkot, kemudia dia bilang,
“sewanya Rp 500ribu”
eh, buset mahal amat dah… saya bilang “kurangin, lah… orang deket gitu” (padahal saya tidak tahu masih jauh atau nggak, hehe…)
“udah… Rp 300 ribu deh”
“masih mahal, saya mahasiswa, kurangin lagi dong” (trik paling populer di kalangan anak kuliah untuk dapat diskon)
“nggak bisa, karena itu dah sama tiket masuk, uang bensin, bla… bla… bla…”
saya diam, sambil menghitung-hitung variabel biaya yang ada dan menanyakan pendapat yang lain. Tampaknya kita memang tidak punya pilihan.
“200 ribu, ya” saya masih berusaha menego.
“yauda, naik saja dulu” kata supirnya.

Karena, kita masih belum deal soal harga, selama perjalanan saya dan si supir adu bacot. Malah, kadang-kadang si supir pakai bahasa sunda, saya langsung bilang saja “ah, gue nggak ngerti”. Teman-teman yang lain cuma diam saja melihat saya keukeuh-keukeuhan sama supir angkot. Saya sudah sering jalan-jalan dan sering pula dimanfaatin sama tukang jualan, supir angkot, sama pengelola penginapan. Jadi kali ini, setidaknya saya harus melakukan perlawanan. Dengan sedikit nekat, saya bilang ke supir,
“yauda lah, kalau nggak mau saya turun saja
supir pun mikir-mikir, saya selama perjalanan kalkulasi sendiri agar keputusan saya menggertak supir tidak salah.
Perhitungan kasar saya,
tarif masuk biasanya Rp 13 ribu x 4 orang = Rp 62.000
ongkos standar angkot paling Rp 8 ribu x 4 orang = Rp 32.000
ongkos angkutan dari pintu masuk ke kawah Rp 10 ribu x 4 orang = Rp 40.000
jadi paling banter totalnya tidak sampai Rp 140 ribu berarti dia dah untung Rp 160 ribu dengan memasang harga Rp 300 ribu.
Si supir nggak kehilangan akal, lalu dia bilang dengan harga Rp 250 ribu sudah termasuk jalan-jalan ke Situ Patenggang. Karena sedang puasa, kelamaan adu bacot juga tidak baik untuk kesehatan,haha… malah bikin tambah haus saja. Saya pun menyetujui harga tersebut, dengan pertimbangan ada dua objek yang dikunjungi. Tidak rugi-rugi amat lah.

Setelah 15 menit perjalanan dari terminal, kami sampai di Kawah Putih. Angkot pun langsung melaju ke kawah tanpa ba bi bu di depan loket. Artinya, kami tidak bayar uang loket, ealaaah… dasar licik. Saya tidak mau masalah tersebut mengganggu perjalanan, jadi saya nikmati saja wisata ke Kawah Putih. Tidak lama kami sampai di pemberhentian terakhir. Saya hitung-hitung, dari pintu masuk ke sini memakan waktu 10 menit an. Sebenarnya, bisa saja jalan tapi bukan masalah capai-nya. Jalan menuju kawah sekitar 3.5 meter artinya untuk 2 mobil berpapasan saja tidak cukup. Konsekuensi paling besar dari keadaan tersebut cuma ada dua, TERSEREMPET atau TERTABRAK.
Saat kami sampai di kawah, keadaan sedikit gerimis, bukan karena hujan namun karena banyaknya kabut yang mengandung uap air bisa dibilang prosesnya hampir sama dengan hujan juga sih. Tidak sia-sia pergi jauh ke Kawah Putih, apa yang saya lihat di foto sesuai dengan ekspektasi saya. Apalagi, saat itu tidak terlalu banyak wisatawan, jadi aura Kawah Putih benar-benar mistis karena tebalnya kabut yang menyelimuti. Wow, sangat FANTASTIS…
Saya sempat cuci kaki di crater, rasanya hangat sekali padahal udara di sekitar sangat dingin. Disarankan kalau ke Kawah Putih membawa masker atau selendang untuk menutup mulut. Seringkali kawah mengeluarkan uap belerang yang sangat pekat. Tapi, jangan khawatir ada banyak penjual masker dan penyewaan payung kalau hari sedang hujan. Untuk pulang ke Bandung, sama seperti kita pergi. Harap diingat, angkutan ke Bandung kalau malam sangat susah. Kami sempat kemalaman di Ciwideuy, sehingga kami harus berganti-ganti trayek untuk sampai Bandung sebab bis sudah tidak ada. Kalau, kemalaman, naik mobil ELF yang ada di depan indomart, tempat biasa angkutan mangkal, di terminal sudah sepi tidak ada mobil lagi.

Begitulah perjalanan saya yang pertama ke Kawah Putih, untuk perjalanan kedua tidak banyak yang bisa diceritakan, karena saya hanya duduk manis di mobil, tahu-tahu sudah sampai Kawah Putih. Itulah kekurangan naik mobil sewaan, perjalanan menjadi kurang mengesankan. Sebelum pulang, kami menyempatkan untuk pergi ke kebun strawberry. Ada beberapa macam jenis strawberry, yang paling manis adalah jenis calibrate (tahu benar atau salah penulisannya). Harganya sekitar Rp 40 ribu/ Kg, tapi saat kunjungan kedua saya dapat tempat beli strawberry yang harganya Rp 20 ribu/ Kg, jadi kalau dirasa harganya mahal bisa cari perkebunan yang lain. Kita juga bisa mencicipi dulu, kok, strawberry yang mau kita beli tinggal petik saja sendiri. Untuk tips memetik strawberry, sisakan sedikit batangnya agar strawberry tetap segar.
seperti middle earth di TLOTR, kan?

saat kunjungan pertama ke kawah putih

ada buah strawberry yang unik

kalau metik buah strawberry dengan tangkainya agar tidak cepat layu

kunjungan kedua saya bersama teman dari Korea dan Jepang

situ patenggang yang terkenal itu

di tengah situ patenggang ada yang namanya pulau cinta, tapi tidak sempat ke sana

kita bisa makan strawberry yang ada di kebun, gratisss!!!
kalau yang ini harus bayar, karena untuk dibawa pulang

Selasa, 23 Maret 2010

Backpacking Part 2 (Bromo-Malang-Pulau Sempu)

Berhubung ada liburan di semester ini, saya bersama teman-teman satu jurusan berniat melakukan backpacking ke Jawa Timur. Dalam perjalanan kali ini, saya berniat menyelesaikan misi backpacking pertama yang belum sempurna, yaitu mengunjungi kawah Ijen, gunung Bromo, dan pulau Sempu. Karena saya inisiator pejalanan, otomatis saya pula lah yang membuat itinerary perjalanannya, mulai dari penginapan sampai transportasi ke daerah tujuan. Belum banyak buku yang mengulas tempat-tempat tersebut, untuk itu saya berusaha mencari informasi tambahan dari internet yang saya rasa tidak kalah informatifnya. Dari blog-blog yang saya kunjungi, kemudian saya buat panduan perjalanan yang kemudian saya bagikan ke teman-teman yang lain.


Persiapan perjalan kali ini, terhitung lama yaitu 6 bulan hampir sama seperti perencanaan ke Bali kemarin. Masalahnya bukan pada budget, tapi lebih kepada mencari waktu yang tepat. Kami sudah sepakat kalau lebih baik liburan dilakukan setelah ujian tengah semester. Dalam 6 bulan itu, saya mencoba mengetahui betul-betul medan yang saya akan hadapi, seperti apakah ada angkutan pada malam hari atau letak tempat makan yang terdekat dari penginapan, dsb. Perjalanan kemarin tidak ada bedanya dengan yang sebelumnya, teman-teman mempercayakan 100% kepada saya untuk semua hal, mereka maunya tahu beres saja. Sebenarnya, ada nilai positif dan negatif sistem pembagian tugas seperti itu. Nilai positif yang pertama dapat dipastikan selama perjalanan konflik jarang sekali terjadi karena hanya satu orang yang menentukan mau naik apa, makan dimana, tidur dimana, yaitu saya sendiri. Selain itu, bagi teman-teman saya, mereka juga bisa menikmati liburan yang “sebenarnya” bak ikut travel agen yang semuanya sudah diatur. Walaupun begitu, nilai negatifnya adalah apabila saya lupa trayek angkutan atau data yang didapat dari internet berbeda di lapangan, otomatis tidak ada orang yang bisa saya minta second opinion, pasti mereka cuma bisa bengong karena memang tidak tahu apa-apa.


Seminggu sebelum berangkat, saya bagikan itinerary kepada teman-teman supaya mereka punya bayangan mengenai daerah tujuan. Tidak tanggung-tanggung, rencananya kami akan ke gunung yang wilayahnya relatif dingin lalu ke pulau di ujung samudera Hindia yang hawanya agak panas. Jadi saya menekankan betul masalah perlengkapan yang harus dibawa agar tidak salah kostum dan demi kenyamanan juga keselamatan selama liburan. Kebetulan selain kami ada juga teman dari Kalimantan yang ikut serta, jadi total anggota ada 4 orang dengan 3 orang laki-laki dan 1 perempuan. Beberapa hari sebelum berangkat, kami sepakat mengumpulkan uang Rp 100.000,- / orang untuk biaya tiket kereta dan logistik. Bisa ditebak, semua mengandalkan saya untuk membeli logistik, tapi untuk tiket kereta, saya minta ke teman untuk membelikan tiket Matarmaja tujuan Senen-Malang di stasiun Senen Poncol.


Hari Pertama

Kamis, 4 Maret 2010


Pagi harinya saya sudah siap-siap, mengecek seluruh perlengkapan yang ada. Tidak lupa malam harinya saya sudah belanja logistik buat di kereta agar tidak membosankan. Semua makanan yang enak dilihat langsung saya beli,hehe... Setelah di cek, tiket kereta pada saat itu hanya Rp 51.000,- untuk kelas ekonomi. Jadi uang sisa benar-benar sangat banyak. Puas berbelanja mulai dari coklat, cola, sampai cemilan sudah dibeli, semuanya tidak sampai seratus ribu rupiah, padahal kantong belanjaan sampai 3 plastik dan beratnya minta ampun.


Kami sepakat akan bertemu dulu di kampus baru melanjutkan ke stasiun Senen. Di kampus saya kembali memeriksa barang bawaan mereka, sehingga kalau ada yang kekurangan bisa dibeli di sini atau bila ada yang lupa bisa pinjam ke teman yang kost-nya dekat kampus. Dari kampus kami naik metromini ke Senen, satu orang bayar Rp 2.000,- karena masih sisa banyak dari uang tiket jadi saya pakai untuk bayar metromini. Mungkin ada sedikit tips, lebih baik memang disediakan uang kolektif agar tiap orang tidak dipusingkan menyiapkan ongkos angkutan, selain itu agar menghindari perselisihan. Pengalaman saya kemarin di Bali, kami saling pinjam uang untuk ongkos angkutan dan tiket masuk objek wisata yang kemudian menjadi peluang konflik sebab perhitungan tiap orang berbeda-beda. Si A mengaku cuma pinjam sekian tapi si B ngotot sebab dia sudah mengeluarkan uang lebih banyak dari yang diklaim A. Makanya untuk perjalanan sekarang saya menerapkan uang kolektif. Tiap orang bayar sekian rupiah, kemudian uang tersebut bisa dipakai untuk keperluan ongkos atau pengeluaran bersama.


Setelah menunggu 30 menit kereta datang, kami langsung naik ke gerbong. Kebetulan kami menempati gerbong pertama dekat dengan lokomotif, jadi kalau lagi bosan bisa lihat-lihat masinis mengemudikan kereta. Seperti yang dijadwalkan kereta berangkat pukul 14.00 WIB. Petualangan kami pun dimulai. Menurut saya, inilah backpacking yang sebenarnya yang cocok untuk latihan ke luar negeri. Backpacking di Bali dikhususkan untuk melatih kecakapan bahasa asing yang saya miliki, serta membiasakan diri di tengah-tengah hiruk pikuk kota yang banyak wisatawan mancanegaranya. Kalau sekarang, saya mau melatih mental dan kesiapan di daerah yang penduduknya relatif sedikit dan minim fasilitas, bahkan di pulau Sempu hanya kamilah manusianya,haha...


Kereta terus melaju melewati stasiun demi stasiun. Walaupun cuma kelas ekonomi tapi kami nyaman-nyaman saja, kok. Selain itu, faktor logistik juga yang membuat perjalanan darat ini tidak kalah menariknya dengan menggunakan bus. Di tiap stasiun kereta tidak berhenti terlalu lama, entah kenapa bayangan kereta ekonomi yang sumpek, penuh penumpang, kotor tidak terlihat pada perjalanan kali ini. Mungkin pemilihan waktu, juga menentukan nyaman tidaknya naik kereta ekonomi yang saat itu bukan waktu lebaran atau hari besar lainya, hanya liburan biasa saja.


Tidak disangka, teman saya harus rela membatalkan rencana backpacking dikarenakan bapaknya sedang sakit. Jadi di stasiun Cirebon dia turun dan menyerahkan pada kami perlengkapan grup yang ada di tasnya. Sungguh sayang sekali padahal sudah sejauh ini, tapi kepentingan keluarga memang harus dinomor satukan. Kejadian selama perjalanan tidak terlalu menarik untuk diceritakan, saya sempat melongok ke kabin masinis untuk mengusir bosan. Ternyata saya baru tahu kecepatan kereta api tidak boleh lebih dari 71 km/jam. Saya mengamati berkali-kali, setiap indikator kecepatan menyentuh angka 71 selalu kembali ke angka 69 dan 70.


Kereta sampai Malang jam 8 pagi waktu setempat. Saya dapat sms dari Firdaus, teman yang turun di Cirebon kemarin, kalau dia mau menyusul ke Malang setelah bapaknya sudah dibawa ke rumah sakit. Awalnya sempat bingung juga, karena dalam jadwal seharusnya kami langsung menuju ke Probolinggo untuk ke Bromo. Sehingga mau tidak mau, kami harus cari tempat menginap di Malang untuk menunggu Firdaus. Adrenalin mulai terasa, mencari penginapan dengan go show tidaklah mudah. Penginapan sih memang banyak, tapi yang sesuai budget kan, sedikit. Sekali lagi, internet punya peran penting di sini, setelah foto-foto sejenak kami langsung cari warnet di dekat stasiun untuk search penginapan murah.


Hasil pencarian banyak yang tidak memuaskan, seperti terlalu banyak situs-situs palsu. Tag-nya memang penginapan murah, tapi waktu di klik ternyata cuma iklan baris yang tidak ada hubungannya sama sekali. Hampir sejam mencari, saya mencatat ada beberapa penginapan yang cocok. Kemudian, saya mencoba telepon satu persatu penginapan yang ada di list. Adrenalin mulai terasa, banyak penginapan yang lokasinya terlalu jauh dari stasiun, yah kira-kira jarak jakarta-bogor lah. Tidak mungkin saya ambil, karena memang terlalu jauh, apalagi kami hanya mau menginap dua hari.


Sudah terbayang, kami akan menginap di stasiun atau setidaknya di masjid. Untungnya teman-teman saat itu tidak rewel dan mau menerima kondisi yang ada. Saya sempatkan browsing sekali lagi sebagai my final effort untuk cari penginapan. Taraa.... beruntung sekali, ternyata kampus Brawijaya menyediakan youth hostel bagi para pelancong, akhirnya kami menginap di sana.


Kota Malang memang kota yang sangat teratur. Jarang saya lihat sampah berserakan. Seakan-akan saya sedang berada di luar negeri saja, salut buat pemerintah kota Malang yang bisa membuat kotanya bersih, indah, dan nyaman dikunjungi. Di malang angkotnya bukan memakai sistem nomor tapi huruf, contohnya kalau mau ke Arjosari ya, cari saja angkot yang tulisannya ada huruf A-nya. Contoh lain, huruf AL di angkot berarti dari Arjosari ke Lumpang. Saya pikir cukup mudah buat para pelancong memahaminya dibanding dengan sistem nomor. Selain itu, Malang tergolong kota yang sepi. Saat saya cari makan malam saja, suasananya seperti jam 12 malam, padahal baru jam 8. Sedikit sekali kendaraan yang melintas di jalan dan jalanannya agak gelap. Kalau tidak biasa, mungkin agak takut juga, haha... apalagi saat melewati jalan-jalan kampus sendirian di waktu malam, auranya beda aja. Prikitiw...


  • tiket kereta ekonomi Matarmaja Senen-Malang : Rp 51.000,-
  • angkot AL dari stasiun ke Brawijaya : Rp 3.000,-

  • youth hostel 1 malam untuk 3 orang : Rp 80.000,-

(kamar hanya boleh ditempati 2 orang, tapi saya nego dengan penjaganya daripada harus sewa 2 kamar, lagipula kamarnya cukup besar. Tapi berhubung ada 1 orang cewe, saya dan teman inisiatif untuk tidur di ruang tamu saja. Info lain, sebenarnya kami menyewa untuk 2 malam, karena Firdaus sudah pasti batal ikut, kami putuskan langsung check-out jadi hanya menginap 1 malam. Lalu kami minta uang yang sudah kami bayarkan untuk 1 malam, penjaga bilang kalau uang yang sudah dibayar tidak bisa dikembalikan. Sekali lagi, teknik nego saya berhasil. Saya katakan, tidak apa-apa kalau tidak bisa kembali penuh, eh dia akhirnya menyetujui mengembalikan setengahnya, lumayan buat ongkos)


Hari kedua

Jum’at, 5 Maret 2010


Pagi harinya kami bangun dan memastikan apakah Firdaus jadi menyusul ke Malang atau tidak. Setelah menunggu lama balasan dari dia, ternyata dia batal ke Malang karena bapaknya tidak mau dibawa ke rumah sakit jadi dia harus menjaganya di rumah. Ya, sudahlah kami juga paham kondisinya, lalu kami (yang laki-laki) bersiap sholat jum’at di masjid kebanggaan Universitas Brawijaya. Sempat terpikir, apakah khotbahnya pakai bahasa jawa atau bahasa indonesia, ya,haha...ternyata pakai bahasa indonesia, kok. Soalnya, saya pernah suatu ketika sholat jum’at di Jawa Tengah dan khotbahnya pakai bahasa jawa, duh nggak ngerti, yang ada bukannya dengerin khotbah, saya malah tidur,hehe...


Siangnya kami bertiga, makan di kantin kampus. Jujur saja makanannya tidak begitu enak, ya biasa aja lah. Setelah makan, kami menyempatkan ke mal dekat kampus untuk beli logistik dan beberapa perlengkapan mandi. Mal-nya masih baru jadi tidak begitu ramai, karena jaraknya cukup dekat kami berjalan kaki saja. Pukul 15.00, kami bersiap ke Probolinggo. Ada beberapa cara mencapai Bromo, tapi saya memilih yang lewat Probolinggo dikarenakan trayek angkutannya jelas dibandingkan dengan jalur yang lain.


Sebelumnya kami harus ke terminal Arjosari dulu dengan naik angkot AL lagi. Sampai di terminal kami sempat bertanya ke petugas bagaimana pergi ke Probolinggo, lalu kami disarankan naik bis yang mangkalnya ada di terminal antar kota. Kami membayar retribusi Rp 200,-/orang dan langsung naik bis menuju ke Probolinggo. Di dalam bis saya bertemu dengan mahasiswi yang kuliah di malang dan mau pulang ke Probolinggo, daripada bosan saya kenalan saja dengan dia sambil ngobrol-ngobrol ga jelas,haha.... Tarif bis ekonomi Arjosari-Probolinggo Rp 14.000,- perjalanan memakan waktu sekitar 2.5 jam kalau tidak macet. Saya perhatikan jalan menuju Probolinggo jarang ada belokan dan jalannya sangat halus aspalnya, sehingga para supir sangat bersemangat memacu kendaraannya dengan sangat cepat. Mungkin itu sebabnya banyak kecelakaan yang ada di TV terjadi di daerah Jawa tengah atau Jawa timur.


Bis sampai di terminal sudah agak sore. Saya lalu cari tempat sholat di sekitar terminal. Untuk menuju Cemaralawang (desa terdekat ke Bromo) kami harus menggunakan angkot liar, bentuk mobilnya kaya carry tapi lebih besar. Ternyata mobil baru berangkat kalau sudah penuh, dan kamilah penumpang terakhirnya. Karena mau sholat dulu, para penumpang yang lain harus menuggu kami. Sebenarnya kami sudah bilang ke supir untuk ditinggal saja, kami tidak enak hati dengan penumpang yang lain, tapi dia tidak mau, ya sudahlah. Selesai sholat, kami langsung melanjutkan perjalanan ke Cemaralawang.


Jalanan ke sana sangat berkelok-kelok seperti jalanan di daerah puncak. Yang ngeri, banyak tepi jalan yang tanpa pembatas, jadi langsung jurang gitu. Wah banyak-banyak berdo’a saja deh, selain itu sering ada kabut yang membatasi jarak pandang, saya makin ketar-ketir saja selama perjalanan. Waktu tempuh ke Cemaralawang kurang lebih satu jam, sepanjang perjalanan kami melihat hotel-hotel berjajar cantik, kami sempat bertanya ke supir dimana penginapan murah. Dia menyarankan ada guest house di pemberhentian terakhir seharga Rp 80.000,- untuk satu malam, lalu kami memutuskan menginap di sana.


Karena kami sampai sana menjelang malam, hawanya dingin sekali. Kami cepat-cepat masuk ke kamar untuk bersiap mencari makan malam. Kondisi kamar yang ada sangat jelek, bisa dibilang masih lebih bagus kandang ayam di belakang rumah saya,haha... tapi, untuk latihan mental, saya rasa tidak masalah. Saya harus terbiasa menghadapi yang seperti ini. Anehnya, ada juga turis bule cewe yang mau menginap di sana. Terdengar sekilas percakapan mereka, karena mereka duduk tepat di belakang saya. Wow, ternyata mereka orang prancis, kemudian saya bilang ke Mitra, teman saya yang pernah ke Prancis untuk menegur mereka buat berkenalan. Mitra tidak mau, dia bilang kenapa bukan saya saja yang melakukannya, Zzzz (capek deh). Tidak mau membuang waktu, saya lalu basa-basi dengan dua cewe prancis itu dan saya mendapat sambutan hangat dari mereka karena mereka senang ada orang indonesia yang bisa berbahasa prancis. Lalu saya memperkenalkan Mitra dan Bee kepada mereka, ujung-ujungnya jadi Mitra yang semangat ngobrol dengan mereka (huh, dasar mau enaknya aja, padahal saya yang membuka pembicaraan).


Selesai makan malam, lebih tepatnya mengganjal perut karena makanannya sangat sangat nggak enak. Saya makan agar tidak masuk angin saja, menu makanannya banyak yang kosong. Saya pesan ini, dia bilang kosong mas, trus pesan itu, dia bilang kosong lagi, sampai bosan saya mendengar dia bilang kosong kosong terus. Yang ada hanya nasi goreng yang banyak sekali minyaknya, hueek. Kami langsung tidur, karena besok pagi kami harus bangun untuk mendaki puncak Pananjakan untuk melihat sunraise. Saya dapat informasi, untuk ke Pananjakan bisa menyewa hard top sejenis mobil off-road dengan tarif Rp 350.000 yang bisa dibagi 8 orang. Tapi, saya mau jalan kaki saja biar lebih menantang. Bisa dibilang keputusan saya ini agak nekat, sebab saya sama sekali tidak mengetahu trek untuk ke sana dan seberapa berat jalurnya mengingat Mitra belum pernah naik gunung.


- bis ekonomi Arjosari-Probolinggo : Rp 14.000,-

- guest house 1 malam : Rp 80.000,-

- nasi goreng : Rp 8.000,-


Hari ketiga

Sabtu, 6 Maret 2010


Biar tidak kesiangan, kami sengaja menyetel alarm pukul 03.00 pagi. Entah kenapa, tidak ada rasa kantuk sama sekali, padahal tadi malam kami baru tidur jam 11 malam. Mungkin semangat akan petualangan membuat rasa kantuk hilang. Kami bergegas mempersiapkan pendakian yang akan memakan waktu 1 jam lebih ini. Saat sudah siap semua kami berjalan menyusuri jalan setapak yang mengarah ke gunung. Sebenarnya saya tidak tahu itu jalannya atau bukan, tapi karena mengarah ke gunung, firasat saya memang itulah jalannya. Pada jam segitu langit masih sangat gelap, sehingga kami perlu menggunakan senter sebagai penunjuk jalan. Di tengah jalan kami bertemu seorang pendaki yang juga mengarah ke gunung. Wah ternyata memang benar firasat saya, lalu saya bertanya ke dia “mau ke atas juga, ya?” anehnya dia diam saja lalu dia bilang “excuse me?” pantas ternyata dia bule. Jalan yang gelap membuat saya tidak mengenali dia orang indonesia atau bukan. Kemudian saya tanyakan dalam bahasa inggris apa dia mau ke puncak, lalu dia bilang iya.


Selama mendaki saya mengobrol dengannya, tidak terasa saat melihat ke belakang, “Lho kemana Mitra dan Bee?” rupanya mereka tertinggal sangat jauh. Saya sungguh tidak menyadari mereka bisa tertinggal begitu jauh karena gelapnya jalan dan cepatnya langkah bule itu. Sudah menjadi rahasia umum kalau 1 langkah orang bule sama dengan 2 langkah orang indonesia. Saya menunggu mereka sejenak, lalu meneruskan pendakian lagi. Bule itu adalah orang Jerman yang sedang backpacking sendirian ke Indonesia (Hmm... suatu saat saya pasti seperti dia). Namannya Tim atau Billy saya lupa, tubuhnya sangat tinggi. Untuk amannya saya memanggilnya “sir” karena raut wajahnya tidak kelihatan karena gelap, lalu dia bertanya “how old are you?” saya jawab saja “22 years old” sampai disitu saya belum ngeh kenapa dia bertanya seperti itu. Lagi-lagi Mitra ketinggalan, karena terus berhenti untuk menunggu, kami disusul rombongan lain. Setelah berkenalan dengan rombongan baru itu, dia ternyata orang Jerman juga yang menikah dengan orang indonesia. Selain dia, ada juga ibu bapaknya dari jerman dan beberapa orang indonesia dari pihak istrinya.


Sebenarnya medannya tidak begitu berat, namun bagi yang baru pertama kali naik gunung memang bikin ngos-ngosan. Satu jam mendaki kami sampai ke jalan aspal, di sinilah rute pendaki yang jalan dan naik hard top menyatu. Itu yang membuat jalurnya berbahaya, maka disarankan kita memakai pakaian yang mencolok atau terus mengarahkan senter ke belakang agar supir hard top melihat kita. Lebih amannya, kalau sudah terdengar bunyi mesin mobil, saya menyuruh teman-teman menepi terlebih dahulu dan mempersilakan mobil jalan duluan. Menjelang akhir pendakian Mitra sudah tidak sanggup lagi jalan, karena di situ banyak ojek motor kami memutuskan melanjutkan dengan ojek sampai puncak. Sial betul, ternyata jarak dari tempat tadi ke puncak tidaklah jauh, ya paling cuma 100 meter, baru sadar saya sudah dibohongi apalagi saat tukang ojek bilang ongkosnya Rp 15.000,-/ orang, wah kebangetan tuh orang.


Di puncak, orang-orang sudah banyak berdatangan untuk melihat sunrise. Tidak lama menunggu, kemilau jingga di horizon tampak dengan anggun. Perlahan demi perlahan sinar-sinar keemasan menerangi cakrawala. Saya melihat semua orang seakan takjub melihat tanda-tanda kebesaran Tuhan itu. Semua begitu terpana sampai tidak ada aktifitas, selain melihat lahirnya matahari baru di ujung langit Bromo. Ketika matahari sudah semakin ke atas, baru kelihatan wajah-wajah yang tadinya tidak kelihatan karena gelap. Walau saya tidak melihat wajah orang-orang yang tadi bareng selama pendakian, saya masih bisa mengenalinya dari postur tubuh dan suaranya. Baru saya tahu, ternyata orang yang saya panggil “sir” tadi adalah abg berusia 18 tahun. Tubuhnya saja yang tinggi, tapi mukanya culun, jiah...sial benar.


Karena ingat belum sholat subuh, kami langsung mencari tempat sholat. Air gunung yang dingin ditambah angin yang semilir membuat saya menggigil selama sholat. Selesai sholat, kami melanjutkan ke gunung Bromo dengan memakai ojek dengan bayaran Rp 50.000,-/orang. Jalan ojek melewati jalan yang di lalui hard top. Jalurnya sangat terjal, bahkan hampir 45° di sepanjang jalan banyak sekali kerikil, saya was-was takut motornya tergelincir saja. Berkali-kali saya merosot ke depan, untuk itu saya harus pegang erat-erat besi dibelakang jok. Untuk sampai gunung Bromo kita harus melewati lautan pasir. Hati-hati saja, kadang motornya suka selip di pasir, ojek yang ditumpangi Mitra saja sampai beberapa kali terjatuh.


Perjuangan ke Bromo tidak usai sampai di situ, pengunjung diharuskan berjalan sejauh 2 km ke puncak. Bisa dikatakan mereka saling bagi-bagi rejeki, karena sekarang lah giliran penyewa kuda untuk meraup untung. Saya pikir tidak ada salahnya juga sih naik kuda, lagipula hanya Rp 20.000,- saja. Tapi, teman-teman lebih suka jalan kaki. Di gunung Bromo matahari bersinar sangat terik, tidak ada bangunan apapun yang bisa menghalangi sinar matahari, makanya lebih baik bawa payung atau topi bila ada rencana ke sini. Pemandangan di sini memang sungguh indah luar biasa, kita terasa begitu kecil dihamparan lautan pasir yang maha luas, bahkan teman saya yang sebelumnya pernah ke sini bilang “itu mah lapangan bola para raksasa”, bah!!!. Yang menantang fisik, kita harus menaiki tangga untuk menuju kawah. Saya sengaja terus naik tanpa berhenti untuk menguji stamina, sampai di atas lutut saya langsung gemetar mau jatuh saking lemesnya,wahaha...coba saja sendiri kalau tidak percaya.


Sudah puas lihat kawah Bromo, kita kembali ke tempat ojek tadi. Sempat agak bingung nyari-nyari karena semua tukang ojek tampangnya sama,hehe...sengaja saya belum bayar mereka, sebagai jaminan mereka tidak meniggalkan kita. Untuk informasi, jarak Bromo ke Cemaralawang sekitar 2 km, ya lumayan juga kalau jalan. Kami tiba di penginapan siang hari, lalu segera mandi, makan siang, kemudian siap-siap ke tujuan berikutnya. Setelah menimbang-nimbang, kami tidak jadi ke kawah Ijen, karena masalah jarak yang begitu jauh. Paling tidak pemandangannya sama saja dengan di Bromo, makanya kami putuskan ke pulau Sempu saja yang lebih eksotis.


Angkutan ke Probolinggo hanya mobil carry besar ini, makanya si supir selalu memastikan penumpangnya penuh agar lebih efektif dari segi bensin. Jadilah kami selalu diikuti si supir dan bilang “masih lama nggak, mas?” karena tidak enak hati membuat penumpang lain menunggu, saya dan teman-teman tidak berlama-lama untuk makan dan langsung bergegas ke mobil. Sampai di mobil banyak orang yang bete gitu, terutama cewe-cewe dari Australia. Lalu saya bilang “sorry for waiting long time” ke bule sebelah saya. Terus dia bilang, tidak apa-apa dan menjelaskan cewe-cewe Australia itu sedang mengejar pesawat di Surabaya untuk ke Thailand, oh...saya jadi paham kenapa mereka bete.


Jalur pulang ke Malang sama seperti jalur perginya. Jadi, tidak ada yang istimewa untuk diceritakan. Sampai di Malang sudah agak sore, kami melanjutkan perjalanan menuju Sendang biru, nama daerah tempat pulau Sempu berada. Saya kembali menanyakan bagaimana pergi ke Sendang biru kepada petugas, saya disarankan untuk naik angkot ke terminal Gadang, lalu dari sana naik bis tujuan Turen. Di perjalanan kami sempat khawatir karena hujan turun dengan lebat, padahal hari sudah hampir malam. Di salah satu blog menuliskan kalau pada malam hari tidak ada angkot dari Turen ke Sendang biru. Wah, adrenalin terpompa lagi, masalahnya tempat kita berada itu bukan seperti malang yang teratur. Sungguh ajaib, di saat sedang kesulitan pasti ada saja pertolongan. Saya jadi teringat perjalanan saya ke Lombok yang dibantu oleh bli Yudi, kali ini saya ditolong oleh mas Anto.


Dia mengusulkan, bagaimana kalau kami menginap di rumah saudaranya saja dan pergi esok harinya. Saat itu sudah malam, kami tidak punya banyak pilihan. Sebenarnya kami agak ragu menerima ajakan dari orang asing, tapi dia sedang pergi bersama istrinya, jadi kesimpulan kami dia orang yang bisa dipercaya. Dibandingkan resiko tidur di terminal, lebih baik saya menyetujui tawaran dia saja. Oleh sebab itu, saya sarankan lebih baik kalau mau ke Sendang biru berangkat pagi-pagi sekalian biar sampai di sana siang hari, jadi tidak bernasib seperti kami,hehe... Rombongan kami pun segera menuju Turen. Tarif bis Gadang-Turen Rp 10.000,- untuk membalas kebaikan dia dan istrinya, kami membayar ongkos bis mereka. Waktu tempuh ke turen mungkin hanya 45 menit, saya kemudian mencoba menanyakan angkot ke Sendang biru. Setelah tanya sana-sini, memang benar angkutannya sudah tidak ada. Kami pun naik ojek ke tempat saudaranya mas Anto di daerah Turen.


Kami disambut hangat oleh keluarganya mas Anto. Menjelang tidur, saya sempat mengobrol dengan mas Anto, dia mengatakan daerah menuju Sendang biru adalah tempat bajing loncat beraksi, makanya kalau malam jarang ada mobil yang mau melitansi daerah itu. Mas Anto sendiri adalah supir angkot di Surabaya, dia bilang sekarang sedang mau ke rumah saudaranya. Dari kejadian ini, sungguh membuat petualangan kami menjadi lebih berwarna. Kehidupan memang tidak bisa ditebak, saya jadi semakin yakin untuk backpacking ke luar negeri setelah melihat kenyataan bahwa di dunia ini masih ada orang-orang baik seperti mas Anto dan bli Yudi. Semua sudah saya buktikan dan saya alami ketika sedang mendapat kesulitan pasti ada saja dewa penolong yang akan membantu kita. Jadi jangan terlalu khawatir, banyak berdo’a saja, Tuhan pasti menolong kita. Setelah beberapa lama mengobrol dengan mas Anto, saya jadi mengantuk, lalu saya minta ijin untuk istirahat agar besok bisa fresh melanjutkan petualangan ke Sendang biru.


- bis ekonomi Probolinggo-Malang : Rp 14.000,-

- angkot ke terminal Gadang : Rp 8.000,-

(sebenarnya hanya Rp 6.000,-, karena tahu kami pendatang si supir menaikkan ongkos. Saya sempat ngotot ke supir, tapi melihat kondisi di lapangan saya merelakan saja)

- bis Gadang-Turen : Rp 10.000,-


Hari keempat

Minggu, 7 Maret 2010


Inilah klimaks perjalanan kali ini yaitu ke pulau Sempu, sebuah pulau eksotis yang berada di tepian samudera Hindia yang tidak dihuni manusia. Subuh, kami sudah bangun, sambil menunggu pagi saya main HP saja, karena penghuni rumah yang lain juga masih tertidur lelap. Waktu menunjukan pukul 07.00, mulai terasa adanya tanda-tanda kehidupan di rumah. Saya disuguhi teh hangat dan cemilan (tidak tahu namanya), pemilik rumah kemudian memasak sarapan untuk kami. Dalam hati saya sangat tidak enak harus merepotkan seperti ini, yah mau bagaimana lagi, masa nasib baik mau ditolak,hehe...setelah semua selesai sarapan, kami mandi dan bersiap kembali ke Turen untuk ke Sendang biru. Sampai Turen kami langsung naik mobil ke Sendang biru, mobilnya tidak beda jauh seperti yang di Bromo. Malah parahnya, kalau ke Bromo cuma mengangkut orang, kali ini banyak sekali sayur-sayuran yang diangkut, bahkan beberapa ekor ayam juga masuk ke mobil, ealaaah.

Perjalanan sangat menyenangkan, walaupun jalurnya berkelok-kelok, tapi bukan merupakan perbukitan jadi saya tidak was-was lagi mobil nyemplung ke jurang. Di kiri dan kanan terhampar perkebunan entah itu kelapa, karet, dan perkebunan warga, pokoknya jalannya teduh sekali. Mobil sempat berhenti lama menunggu penumpang, mereka seakan tidak mau rugi walaupun hanya satu orang penumpang mereka tetap menunggunya, tidak peduli orang-orang di mobil berteriak “cepet jalan, bang”. Waktu tempuh ke Sendang biru kurang lebih satu jam lebih, tergantung dari lama si supir mangkal. Tenang saja, di daerah Jawa, kemacetan jarang dijumpai jadi kalau perjalanannya lama, ya paling karena ngetem nunggu penumpang. Setelah sampai di perkampungan nelayan Sendang biru, saya mengucapkan banyak terima kasih kepada mas Anto yang sudah banyak membantu.


Petualangan pun berlanjut. Sebelum menyebrang ke pulau, kami diharuskan melapor ke BKSDA (Badan Konservasi Sumber Daya Alam) pulau sempu. Petugas mengatakan, seharusnya saya membuat ijin dari BKSDA pusat di Jakarta atau di Surabaya. Inilah enaknya tinggal di Indonesia, peraturan yang rumit pun bisa jadi fleksibel dengan diplomasi,hehe... saya bilang ke dia, “wah, pak, masa saya harus balik lagi?” kemudian dia memberi solusi dengan memberikan surat ijin sementara. Di form itu saya harus menulis keterangan berkunjung ke pulau dan menyangkut informasi identitas kami. Tidak lupa, sedikit uang “retribusi” yang jumlahnya bisa di nego. Waktu itu saya sih, kasih Rp 20.000,- walau kata penduduk, “kasih saja Rp 10.000,-“. Ijin sudah didapat, sekarang tinggal mencari perahu untuk menyebrang. Mencarinya mudah, kok, di gerbang depan sebelum masuk ada sebuah rumah yang banyak tempelan stiker-stiker dari para grup pencinta alam yang sudah berkunjung ke pulau Sempu atau tanya saja penduduk dimana tukang perahu untuk menyebrang. Untuk menyebrang dikenai tarif Rp 100.000,- PP satu perahu, jadi kalau ada 10 orang biayanya bisa di share.


Jantung sudah berdegub kencang tidak sabar menjelajahi pulau Sempu, saya kemudian membeli beberapa logistik tambahan dan minyak tanah untuk buat api unggun. Sewaktu melapor di BKSDA tadi, petugas memperingatkan kalau pulau Sempu adalah pulau konservasi, jadi masih banyak sekali ular dan hewan-hewan hutan, malah katanya ada macan tutulnya, walah!!!. Saya mengecek lagi kelengkapan, takut masih ada yang kurang. Bodohnya saya cuma menjatah air minum 3 liter per orang, hal yang membuat kami harus pulang cepat dari jadwal karena hampir kehausan di pulau,wakaka... sebenarnya kami sudah diperingatkan saat di perahu, “mas, memang air segitu cukup” dengan pede-nya saya bilang “iya, pak” saya lupa, kalau di pulau tidak ada warung,hehe... perahu menyusuri air dengan perlahan, kami sendiri sudah pasrah saja dengan apa yang terjadi nanti. Perlu diingat, di pulau Sempu tidak ada sinyal HP (kecuali di bibir pantai) dan tidak ada listrik, jadi pastikan HP ada pulsa, baterainya penuh, dan ada HP cadangan. Masalahnya untuk pulang ke Sendang biru satu-satunya alat komunikasi ya, lewat HP.

Tidak lama, perahu merapat ke bibir pantai, karena ini wilayah konservasi jadi tidak ada dermaganya. Jadi kami harus basah-basahan ke pantai. Setelah semua barang diangkut ke pantai, perahu pun meninggalkan kami. Sejenak saya bengong melihat kepergian perahu, menimbang-nimbang apa tindakan saya ke sini tepat atau tidak. Ketika perahu sudah tidak terlihat, saya mulai sadar kalau waktu kami menuju segara anakan tempat base camp kemping memakan waktu 2 jam perjalanan dan saat itu haru sudah sore sekali. Pada awalnya, jalurnya berupa tanaman bakau menandakan masih daerah pantai, lama kelamaan vegetasinya sudah semakin berbeda dan semakin rimbun. Mitra yang tidak biasa ke hutan (padahal dari Kalimantan) jatuh berkali-kali saat menginjak tanah yang licin habis hujan. Semakin masuk ke dalam hutan, semakin ciut nyali kami. Kali ini tidak hanya Mitra, tapi Bee juga jatuh terpeleset. Saya sempat bingung juga, bagaimana caranya membuat mereka jalan lebih cepat. Saya cuma khawatir jangan sampai kami masih di hutan ketika malam tiba. Alhasil, saya menyuruh Mitra untuk memegang akar pohon, yah semacam tali yang dikaitkan saat mendaki gunung es agar saya bisa menahan dia kalau mau jatuh. Tapi, cara itu tetap tidak berhasil juga.


Sinar matahari sudah semakin lemah menyinari rerimbunan pohon, tanda malam semakin dekat. Saya jadi merinding sendiri, kalau harus berkemah di hutan. Waktu siang hari saja, sudah banyak serangga yang berkeliaran, seperti nyamuk yang super besar, kaki seribu, kelabang, dan makhluk kecil-kecil yang saya tidak tahu namanya. Wah, tidak terbayangkan bagaimana rupa penghuni hutan waktu malam hari. Selama di dalam hutan, banyak sekali monyet berkejar-kejaran. Suasana begitu hening, namun ramai oleh suara alam. Suatu kontradiksi yang saya pikir sangat aneh, keheningan di dalam keramaian. Keheningan benar-benar terasa kalau kami berhenti untuk istirahat. Jika mengamati sekeliling seakan-akan ada sesuatu yang mengawasi kita, jauh di balik rerimbunan pohon. Lalu tiba-tiba ada saja suara-suara aneh terdengar, seperti orang yang menginjak ranting, tapi setelah saya berhenti berjalan suara itu juga berhenti. Saya jadi ingat film predator, dalam hati wah jangan-jangan saya sedang diikuti predator,haha... deru pantai terdengar berkali-kali, menyiratkan bahwa tujuan kami sudah dekat, ternyata kami salah setelah berjalan lama segara anakan belum juga terlihat. Saat ada deru pantai lagi, kami tidak percaya begitu saja, karena perjalanan kami memang masih jauh.

Kalau bisa dilukiskan, saat itu perasaan saya campur aduk. Saya tidak mungkin menyuruh Mitra jalan lebih cepat, tapi saya juga takut sekali karena malam sudah menanti. Apalagi saat bayangan pohon mulai menghilang, tanda matahari sudah hampir tenggelam. Idealnya waktu tempuh perjalanan hanya 2 jam. Tapi, dengan kondisi habis hujan ditambah saya baru pertama kali ke sana, sehingga waktu tempuhnya menjadi lebih lama. Kami berjalan 15 menit dan istirahat 5 menit, begitu seterusnya. Sekali lagi, tidak mungkin saya paksakan mereka berjalan terus di medan yang cukup berat itu. Kali ini malam benar-benar datang, kelelawar sudah beterbangan mengitari kami, kadang-kadang ada yang hampir menabrak wajah kami. Saya masih belum tahu berapa jauh lagi segara anakan. Kemudian, saya menyuruh mereka mengeluarkan senter sebagai penuntun jalan agar bisa melihat jalur. Sekarang, sekeliling kami sudah gelap, hampir tidak terlihat apa-apa. Saya semakin merinding, jujur saja saya agak takut yang namanya hantu,hehe... berkali-kali bunyi “brukk” terdengar, saya berpikir mungkin cuma ranting atau buah yang jatuh. Tapi, otak saya tidak bisa dibohongi, pikiran semakin ngelantur kemana-mana. Saya membayangkan bagaimana kalau ada gondoruwo di hutan itu, waaaa.... degub jantung tidak henti-hentinya berdebar-debar.


Berjalan hanya bertiga di tengah hutan pada malam hari bukanlah pengalaman yang menyenangkan. Kalau dihitung, kami sudah berjalan hampir 3 jam, tapi belum juga mencapai segara anakan. Walau suara hutan sudah kami dengar sejak memasuki hutan, namun suara “brukk” itu masih membuat saya deg-degan. Belum lagi suara burung “kaaak kaaak” dan suara kepakan sayap kalelawar yang menderu-deru. Menurut saya sih, yang paling seram adalah suara monyet. Saat mereka sedang kejar-kejaran, rasanya seperti ada seseorang yang berlari menubruk dahan-dahan, apalagi kalau suaranya mengarah kepada kita. Mana suara monyetnya seram sekali, mereka bersuara “nguuk ngukk”. Suaranya seakan ada di dekat kita, tapi setelah di senter tidak ada apa-apa, mungkin dia sembunyi di balik pohon.


Akhirnya, penantian kami terbayarkan. Kami sampai segara anakan jam 7 malam, di segara anakan tempatnya agak terang karena cahaya bintang dan bulan. Beda sekali dengan di dalam hutan yang gelap pekat. Kemudian saya bersiap mendirikan tenda, lalu kami bertiga menenangkan diri setelah apa yang dilalui di hutan. Perasaan takut masih saja datang, ingat cuma kami yang kemping di pulau ini. Jadi apapun yang terjadi, pasti tidak ada orang yang menolong. Belum lagi kalau terjadi sesuatu, kami harus melewati hutan yang tadi lagi. Wah, saya berdo’a saja, semoga kami selamat sampai pagi. Untuk makan malam, kami makan roti yang sudah beli di Indomart. Niatnya saya mau tidur di luar pakai sleeping bag beralaskan matras dengan di double pakai ponco biar tidak basah oleh embun, karena tenda yang dibawa Mitra adalah tenda anak-anak yang sangat sempit untuk bertiga. Namun tidak lama saya tidur, ada sesuatu yang menarik perlahan ponco saya. Tarikannya sangat pelan, seakan dia tidak mau saya terbangun. Karena saya juga belum tidur, lalu saya singkap ponco dan mulai memeriksa. Sulit rasanya untuk tidur, bila celana kotor belepotan oleh lumpur waktu di hutan tadi, suara nyamuk yang selalu berputar-putar di telinga, dan “berisiknya” suara alam mulai dari jangkrik, monyet, burung, musang, pokoknya seperti di kebun binatang saja. Setelah memeriksa sekeliling, saya tidak menemukan apa-apa. Saya pikir cuma monyet yang iseng, tapi kok, nggak ada monyet yang lari, ya. Kemudian saya tidur lagi, tidak sampai dua menit ada yang menarik lagi, kali ini saya diamkan saja. Saat saya membuka mata, tarikan berhenti, pokoknya “sesuatu” itu menarik ponco, ketika saya menutup mata saja. “sreet” ponco ditarik lagi, sekarang hampir sebagian sleeping bag saya tidak terlindungi ponco. Saya sudah takut sekali, makanya tanpa berani menyingkap ponco, saya teriak ke Mitra yang tidur di tenda agar segera menyenter ke arah saya, tapi dia bilang tidak ada apa-apa.


Saya tidak punya nyali lagi untuk tidur di luar, jadinya kami bertiga tidur di dalam tenda, haha...walau kaki saya keluar karena tidak muat, tidak apalah dari pada badan saya yang di luar tenda. Suara monyet, burung, dan kalelawar selalu terdengar sepanjang malam, sehingga sulit untuk tidur nyenyak. Parahnya, tengah malam mungkin sekitar jam 3 saya mau ke kamar kecil, saya sempat berpikir untuk menahannya saja, tapi tetap tidak bisa. Agak nekat juga, saya kemudian keluar tenda dan mencari tempat buang air. Saya sengaja mencari tempat menjauh dari hutan dan lebih memilih tempat yang tidak ada pohonnya. Saya memilih resiko kelihatan buang air oleh Mitra dan Bee daripada harus bersembunyi di semak-semak hutan yang gelap gulita. Dengan tergesa-gesa saya kembali ke tenda sampai pagi hari datang, fiuh...


Teror malam berakhir sudah, di pagi hari segara anakan sangatlah indah. Tempat itu bagaikan milik kami saja, karena tidak ada seorang pun yang berkemah selain kami bertiga. Mitra dan Bee memilih untuk berenang, tapi saya lebih suka berjalan-jalan melihat ikan-ikan. Sebenarnya, saya mau berenang, namun saya malas membawa pakaian kotor yang basah, makanya saya menolak ajakan mereka untuk berenang. Kecantikan segara anakan sulit digambarkan dengan kosakata yang ada, tempat itu seperti the paradis on the earth saja. Sayang banyak sekali sampah yang ditinggalkan, saya lalu inisiatif untuk mengumpulkan semuanya dan membakarnya. Sekarang tampilan, segara anakan menjadi lebih indah tanpa sampah.

tolong kumpulin lagi sampahnya, ya.

airnya jernih sekali

seperti pantai pribadi, kan!

ini samudera Hindia, waktu malam sempat ada badai.


Masalah muncul saat mau sarapan, kami kesulitan membuat api untuk merebus air. Sebagian besar kayu di hutan adalah kayu basah yang masih berkambium, sedangkan sekalipun ada ranting kering, ukurannya segede gaban. Karena tidak membawa pisau, jadi sulit untuk memotongnya. Sudah dicoba dipotek tetap, tidak bisa juga. Akhirnya kami mengumpulkan sisa arang dari orang-orang yang kemping di sini. Ide itu berhasil, kami pun bisa membuat kopi dan pop-mie,hehe... seharusnya kami menetap 2 malam, karena melihat stok air yang kurang, kami putuskan untuk pulang saja. Teringat perjalanan kemarin, kami pulang jam 12-an. Sehingga sampai di pantai sekitar jam 3, agar tidak kesorean. Selama melewati hutan, kami semakin terbiasa dengan suara-suara yang ada, Mitra juga sudah jarang terjatuh karena tanahnya tidak selicin kemarin. Sampai di pantai, saya mengirim sms ke nahkoda perahu supaya menjemput kami. Dalam penantian itu, banyak grup pencinta alam yang datang ingin berkemah di segara anakan. Satu rombongan, bisa sampai 20 orang, (wah kalau begini sih, saya juga berani,hehe...) 15 menit menunggu, perahu datang menjemput. Saat itu sudah sangat sore, jadi kami minta ijin menginap di kantor BKSDA (gratis... tis...). besoknya kami pulang ke Jakarta dengan menggunakan kereta Matarmaja yang berangkat jam 2, sehingga kami sampai di Jakarta jam 8 pagi.


sumber air laguna berasal dari samudera Hindia yang melewati celah karang


sudah bersih dari sampah


the survivors on the island


kantor BKSDA tempat kami menginap

- perahu : Rp 100.000,-

- tiket masuk Sendang biru : Rp 3.000,-

- bayar uang “retribusi” BKSDA : Rp 20.000,-

- minyak tanah : Rp 8.000,-

- angkot Turen-Sendang biru : Rp 12.000,-




Pelajaran yang saya dapat saat backpacking kali ini, yaitu jangan takut untuk berpetualang dan menjelajahi tempat-tempat baru. Asalkan persiapan kita memadai, semua akan baik-baik saja. Tiap masalah yang ditemui, pasti ada jalan keluarnya, percayalah pada diri sendiri dan gunakan insting bila merasa ragu. Justru masalah yang kita hadapi selama backpacking akan membuat kita menjadi pribadi yang tangguh dan tidak cengeng. Beberapa blog yang saya baca mengenai panduan ke Bromo dan pulau Sempu, banyak dari mereka yang memakai motor atau mobil charteran, sehingga akan menyulitkan bagi orang-orang seperti saya ini yang mengandalkan trayek angkutan Tapi, semua perjalanan ini saya lakukan mengikuti jalur trayek angkutan, tidak ada yang memakai motor (kecuali di Bromo) atau mobil sewaan, jadi kalau saya BISA melakukannya, anda pun pasti BISA. SELAMAT BERPETUALANG!!