Selasa, 23 Maret 2010

Backpacking Part 2 (Bromo-Malang-Pulau Sempu)

Berhubung ada liburan di semester ini, saya bersama teman-teman satu jurusan berniat melakukan backpacking ke Jawa Timur. Dalam perjalanan kali ini, saya berniat menyelesaikan misi backpacking pertama yang belum sempurna, yaitu mengunjungi kawah Ijen, gunung Bromo, dan pulau Sempu. Karena saya inisiator pejalanan, otomatis saya pula lah yang membuat itinerary perjalanannya, mulai dari penginapan sampai transportasi ke daerah tujuan. Belum banyak buku yang mengulas tempat-tempat tersebut, untuk itu saya berusaha mencari informasi tambahan dari internet yang saya rasa tidak kalah informatifnya. Dari blog-blog yang saya kunjungi, kemudian saya buat panduan perjalanan yang kemudian saya bagikan ke teman-teman yang lain.


Persiapan perjalan kali ini, terhitung lama yaitu 6 bulan hampir sama seperti perencanaan ke Bali kemarin. Masalahnya bukan pada budget, tapi lebih kepada mencari waktu yang tepat. Kami sudah sepakat kalau lebih baik liburan dilakukan setelah ujian tengah semester. Dalam 6 bulan itu, saya mencoba mengetahui betul-betul medan yang saya akan hadapi, seperti apakah ada angkutan pada malam hari atau letak tempat makan yang terdekat dari penginapan, dsb. Perjalanan kemarin tidak ada bedanya dengan yang sebelumnya, teman-teman mempercayakan 100% kepada saya untuk semua hal, mereka maunya tahu beres saja. Sebenarnya, ada nilai positif dan negatif sistem pembagian tugas seperti itu. Nilai positif yang pertama dapat dipastikan selama perjalanan konflik jarang sekali terjadi karena hanya satu orang yang menentukan mau naik apa, makan dimana, tidur dimana, yaitu saya sendiri. Selain itu, bagi teman-teman saya, mereka juga bisa menikmati liburan yang “sebenarnya” bak ikut travel agen yang semuanya sudah diatur. Walaupun begitu, nilai negatifnya adalah apabila saya lupa trayek angkutan atau data yang didapat dari internet berbeda di lapangan, otomatis tidak ada orang yang bisa saya minta second opinion, pasti mereka cuma bisa bengong karena memang tidak tahu apa-apa.


Seminggu sebelum berangkat, saya bagikan itinerary kepada teman-teman supaya mereka punya bayangan mengenai daerah tujuan. Tidak tanggung-tanggung, rencananya kami akan ke gunung yang wilayahnya relatif dingin lalu ke pulau di ujung samudera Hindia yang hawanya agak panas. Jadi saya menekankan betul masalah perlengkapan yang harus dibawa agar tidak salah kostum dan demi kenyamanan juga keselamatan selama liburan. Kebetulan selain kami ada juga teman dari Kalimantan yang ikut serta, jadi total anggota ada 4 orang dengan 3 orang laki-laki dan 1 perempuan. Beberapa hari sebelum berangkat, kami sepakat mengumpulkan uang Rp 100.000,- / orang untuk biaya tiket kereta dan logistik. Bisa ditebak, semua mengandalkan saya untuk membeli logistik, tapi untuk tiket kereta, saya minta ke teman untuk membelikan tiket Matarmaja tujuan Senen-Malang di stasiun Senen Poncol.


Hari Pertama

Kamis, 4 Maret 2010


Pagi harinya saya sudah siap-siap, mengecek seluruh perlengkapan yang ada. Tidak lupa malam harinya saya sudah belanja logistik buat di kereta agar tidak membosankan. Semua makanan yang enak dilihat langsung saya beli,hehe... Setelah di cek, tiket kereta pada saat itu hanya Rp 51.000,- untuk kelas ekonomi. Jadi uang sisa benar-benar sangat banyak. Puas berbelanja mulai dari coklat, cola, sampai cemilan sudah dibeli, semuanya tidak sampai seratus ribu rupiah, padahal kantong belanjaan sampai 3 plastik dan beratnya minta ampun.


Kami sepakat akan bertemu dulu di kampus baru melanjutkan ke stasiun Senen. Di kampus saya kembali memeriksa barang bawaan mereka, sehingga kalau ada yang kekurangan bisa dibeli di sini atau bila ada yang lupa bisa pinjam ke teman yang kost-nya dekat kampus. Dari kampus kami naik metromini ke Senen, satu orang bayar Rp 2.000,- karena masih sisa banyak dari uang tiket jadi saya pakai untuk bayar metromini. Mungkin ada sedikit tips, lebih baik memang disediakan uang kolektif agar tiap orang tidak dipusingkan menyiapkan ongkos angkutan, selain itu agar menghindari perselisihan. Pengalaman saya kemarin di Bali, kami saling pinjam uang untuk ongkos angkutan dan tiket masuk objek wisata yang kemudian menjadi peluang konflik sebab perhitungan tiap orang berbeda-beda. Si A mengaku cuma pinjam sekian tapi si B ngotot sebab dia sudah mengeluarkan uang lebih banyak dari yang diklaim A. Makanya untuk perjalanan sekarang saya menerapkan uang kolektif. Tiap orang bayar sekian rupiah, kemudian uang tersebut bisa dipakai untuk keperluan ongkos atau pengeluaran bersama.


Setelah menunggu 30 menit kereta datang, kami langsung naik ke gerbong. Kebetulan kami menempati gerbong pertama dekat dengan lokomotif, jadi kalau lagi bosan bisa lihat-lihat masinis mengemudikan kereta. Seperti yang dijadwalkan kereta berangkat pukul 14.00 WIB. Petualangan kami pun dimulai. Menurut saya, inilah backpacking yang sebenarnya yang cocok untuk latihan ke luar negeri. Backpacking di Bali dikhususkan untuk melatih kecakapan bahasa asing yang saya miliki, serta membiasakan diri di tengah-tengah hiruk pikuk kota yang banyak wisatawan mancanegaranya. Kalau sekarang, saya mau melatih mental dan kesiapan di daerah yang penduduknya relatif sedikit dan minim fasilitas, bahkan di pulau Sempu hanya kamilah manusianya,haha...


Kereta terus melaju melewati stasiun demi stasiun. Walaupun cuma kelas ekonomi tapi kami nyaman-nyaman saja, kok. Selain itu, faktor logistik juga yang membuat perjalanan darat ini tidak kalah menariknya dengan menggunakan bus. Di tiap stasiun kereta tidak berhenti terlalu lama, entah kenapa bayangan kereta ekonomi yang sumpek, penuh penumpang, kotor tidak terlihat pada perjalanan kali ini. Mungkin pemilihan waktu, juga menentukan nyaman tidaknya naik kereta ekonomi yang saat itu bukan waktu lebaran atau hari besar lainya, hanya liburan biasa saja.


Tidak disangka, teman saya harus rela membatalkan rencana backpacking dikarenakan bapaknya sedang sakit. Jadi di stasiun Cirebon dia turun dan menyerahkan pada kami perlengkapan grup yang ada di tasnya. Sungguh sayang sekali padahal sudah sejauh ini, tapi kepentingan keluarga memang harus dinomor satukan. Kejadian selama perjalanan tidak terlalu menarik untuk diceritakan, saya sempat melongok ke kabin masinis untuk mengusir bosan. Ternyata saya baru tahu kecepatan kereta api tidak boleh lebih dari 71 km/jam. Saya mengamati berkali-kali, setiap indikator kecepatan menyentuh angka 71 selalu kembali ke angka 69 dan 70.


Kereta sampai Malang jam 8 pagi waktu setempat. Saya dapat sms dari Firdaus, teman yang turun di Cirebon kemarin, kalau dia mau menyusul ke Malang setelah bapaknya sudah dibawa ke rumah sakit. Awalnya sempat bingung juga, karena dalam jadwal seharusnya kami langsung menuju ke Probolinggo untuk ke Bromo. Sehingga mau tidak mau, kami harus cari tempat menginap di Malang untuk menunggu Firdaus. Adrenalin mulai terasa, mencari penginapan dengan go show tidaklah mudah. Penginapan sih memang banyak, tapi yang sesuai budget kan, sedikit. Sekali lagi, internet punya peran penting di sini, setelah foto-foto sejenak kami langsung cari warnet di dekat stasiun untuk search penginapan murah.


Hasil pencarian banyak yang tidak memuaskan, seperti terlalu banyak situs-situs palsu. Tag-nya memang penginapan murah, tapi waktu di klik ternyata cuma iklan baris yang tidak ada hubungannya sama sekali. Hampir sejam mencari, saya mencatat ada beberapa penginapan yang cocok. Kemudian, saya mencoba telepon satu persatu penginapan yang ada di list. Adrenalin mulai terasa, banyak penginapan yang lokasinya terlalu jauh dari stasiun, yah kira-kira jarak jakarta-bogor lah. Tidak mungkin saya ambil, karena memang terlalu jauh, apalagi kami hanya mau menginap dua hari.


Sudah terbayang, kami akan menginap di stasiun atau setidaknya di masjid. Untungnya teman-teman saat itu tidak rewel dan mau menerima kondisi yang ada. Saya sempatkan browsing sekali lagi sebagai my final effort untuk cari penginapan. Taraa.... beruntung sekali, ternyata kampus Brawijaya menyediakan youth hostel bagi para pelancong, akhirnya kami menginap di sana.


Kota Malang memang kota yang sangat teratur. Jarang saya lihat sampah berserakan. Seakan-akan saya sedang berada di luar negeri saja, salut buat pemerintah kota Malang yang bisa membuat kotanya bersih, indah, dan nyaman dikunjungi. Di malang angkotnya bukan memakai sistem nomor tapi huruf, contohnya kalau mau ke Arjosari ya, cari saja angkot yang tulisannya ada huruf A-nya. Contoh lain, huruf AL di angkot berarti dari Arjosari ke Lumpang. Saya pikir cukup mudah buat para pelancong memahaminya dibanding dengan sistem nomor. Selain itu, Malang tergolong kota yang sepi. Saat saya cari makan malam saja, suasananya seperti jam 12 malam, padahal baru jam 8. Sedikit sekali kendaraan yang melintas di jalan dan jalanannya agak gelap. Kalau tidak biasa, mungkin agak takut juga, haha... apalagi saat melewati jalan-jalan kampus sendirian di waktu malam, auranya beda aja. Prikitiw...


  • tiket kereta ekonomi Matarmaja Senen-Malang : Rp 51.000,-
  • angkot AL dari stasiun ke Brawijaya : Rp 3.000,-

  • youth hostel 1 malam untuk 3 orang : Rp 80.000,-

(kamar hanya boleh ditempati 2 orang, tapi saya nego dengan penjaganya daripada harus sewa 2 kamar, lagipula kamarnya cukup besar. Tapi berhubung ada 1 orang cewe, saya dan teman inisiatif untuk tidur di ruang tamu saja. Info lain, sebenarnya kami menyewa untuk 2 malam, karena Firdaus sudah pasti batal ikut, kami putuskan langsung check-out jadi hanya menginap 1 malam. Lalu kami minta uang yang sudah kami bayarkan untuk 1 malam, penjaga bilang kalau uang yang sudah dibayar tidak bisa dikembalikan. Sekali lagi, teknik nego saya berhasil. Saya katakan, tidak apa-apa kalau tidak bisa kembali penuh, eh dia akhirnya menyetujui mengembalikan setengahnya, lumayan buat ongkos)


Hari kedua

Jum’at, 5 Maret 2010


Pagi harinya kami bangun dan memastikan apakah Firdaus jadi menyusul ke Malang atau tidak. Setelah menunggu lama balasan dari dia, ternyata dia batal ke Malang karena bapaknya tidak mau dibawa ke rumah sakit jadi dia harus menjaganya di rumah. Ya, sudahlah kami juga paham kondisinya, lalu kami (yang laki-laki) bersiap sholat jum’at di masjid kebanggaan Universitas Brawijaya. Sempat terpikir, apakah khotbahnya pakai bahasa jawa atau bahasa indonesia, ya,haha...ternyata pakai bahasa indonesia, kok. Soalnya, saya pernah suatu ketika sholat jum’at di Jawa Tengah dan khotbahnya pakai bahasa jawa, duh nggak ngerti, yang ada bukannya dengerin khotbah, saya malah tidur,hehe...


Siangnya kami bertiga, makan di kantin kampus. Jujur saja makanannya tidak begitu enak, ya biasa aja lah. Setelah makan, kami menyempatkan ke mal dekat kampus untuk beli logistik dan beberapa perlengkapan mandi. Mal-nya masih baru jadi tidak begitu ramai, karena jaraknya cukup dekat kami berjalan kaki saja. Pukul 15.00, kami bersiap ke Probolinggo. Ada beberapa cara mencapai Bromo, tapi saya memilih yang lewat Probolinggo dikarenakan trayek angkutannya jelas dibandingkan dengan jalur yang lain.


Sebelumnya kami harus ke terminal Arjosari dulu dengan naik angkot AL lagi. Sampai di terminal kami sempat bertanya ke petugas bagaimana pergi ke Probolinggo, lalu kami disarankan naik bis yang mangkalnya ada di terminal antar kota. Kami membayar retribusi Rp 200,-/orang dan langsung naik bis menuju ke Probolinggo. Di dalam bis saya bertemu dengan mahasiswi yang kuliah di malang dan mau pulang ke Probolinggo, daripada bosan saya kenalan saja dengan dia sambil ngobrol-ngobrol ga jelas,haha.... Tarif bis ekonomi Arjosari-Probolinggo Rp 14.000,- perjalanan memakan waktu sekitar 2.5 jam kalau tidak macet. Saya perhatikan jalan menuju Probolinggo jarang ada belokan dan jalannya sangat halus aspalnya, sehingga para supir sangat bersemangat memacu kendaraannya dengan sangat cepat. Mungkin itu sebabnya banyak kecelakaan yang ada di TV terjadi di daerah Jawa tengah atau Jawa timur.


Bis sampai di terminal sudah agak sore. Saya lalu cari tempat sholat di sekitar terminal. Untuk menuju Cemaralawang (desa terdekat ke Bromo) kami harus menggunakan angkot liar, bentuk mobilnya kaya carry tapi lebih besar. Ternyata mobil baru berangkat kalau sudah penuh, dan kamilah penumpang terakhirnya. Karena mau sholat dulu, para penumpang yang lain harus menuggu kami. Sebenarnya kami sudah bilang ke supir untuk ditinggal saja, kami tidak enak hati dengan penumpang yang lain, tapi dia tidak mau, ya sudahlah. Selesai sholat, kami langsung melanjutkan perjalanan ke Cemaralawang.


Jalanan ke sana sangat berkelok-kelok seperti jalanan di daerah puncak. Yang ngeri, banyak tepi jalan yang tanpa pembatas, jadi langsung jurang gitu. Wah banyak-banyak berdo’a saja deh, selain itu sering ada kabut yang membatasi jarak pandang, saya makin ketar-ketir saja selama perjalanan. Waktu tempuh ke Cemaralawang kurang lebih satu jam, sepanjang perjalanan kami melihat hotel-hotel berjajar cantik, kami sempat bertanya ke supir dimana penginapan murah. Dia menyarankan ada guest house di pemberhentian terakhir seharga Rp 80.000,- untuk satu malam, lalu kami memutuskan menginap di sana.


Karena kami sampai sana menjelang malam, hawanya dingin sekali. Kami cepat-cepat masuk ke kamar untuk bersiap mencari makan malam. Kondisi kamar yang ada sangat jelek, bisa dibilang masih lebih bagus kandang ayam di belakang rumah saya,haha... tapi, untuk latihan mental, saya rasa tidak masalah. Saya harus terbiasa menghadapi yang seperti ini. Anehnya, ada juga turis bule cewe yang mau menginap di sana. Terdengar sekilas percakapan mereka, karena mereka duduk tepat di belakang saya. Wow, ternyata mereka orang prancis, kemudian saya bilang ke Mitra, teman saya yang pernah ke Prancis untuk menegur mereka buat berkenalan. Mitra tidak mau, dia bilang kenapa bukan saya saja yang melakukannya, Zzzz (capek deh). Tidak mau membuang waktu, saya lalu basa-basi dengan dua cewe prancis itu dan saya mendapat sambutan hangat dari mereka karena mereka senang ada orang indonesia yang bisa berbahasa prancis. Lalu saya memperkenalkan Mitra dan Bee kepada mereka, ujung-ujungnya jadi Mitra yang semangat ngobrol dengan mereka (huh, dasar mau enaknya aja, padahal saya yang membuka pembicaraan).


Selesai makan malam, lebih tepatnya mengganjal perut karena makanannya sangat sangat nggak enak. Saya makan agar tidak masuk angin saja, menu makanannya banyak yang kosong. Saya pesan ini, dia bilang kosong mas, trus pesan itu, dia bilang kosong lagi, sampai bosan saya mendengar dia bilang kosong kosong terus. Yang ada hanya nasi goreng yang banyak sekali minyaknya, hueek. Kami langsung tidur, karena besok pagi kami harus bangun untuk mendaki puncak Pananjakan untuk melihat sunraise. Saya dapat informasi, untuk ke Pananjakan bisa menyewa hard top sejenis mobil off-road dengan tarif Rp 350.000 yang bisa dibagi 8 orang. Tapi, saya mau jalan kaki saja biar lebih menantang. Bisa dibilang keputusan saya ini agak nekat, sebab saya sama sekali tidak mengetahu trek untuk ke sana dan seberapa berat jalurnya mengingat Mitra belum pernah naik gunung.


- bis ekonomi Arjosari-Probolinggo : Rp 14.000,-

- guest house 1 malam : Rp 80.000,-

- nasi goreng : Rp 8.000,-


Hari ketiga

Sabtu, 6 Maret 2010


Biar tidak kesiangan, kami sengaja menyetel alarm pukul 03.00 pagi. Entah kenapa, tidak ada rasa kantuk sama sekali, padahal tadi malam kami baru tidur jam 11 malam. Mungkin semangat akan petualangan membuat rasa kantuk hilang. Kami bergegas mempersiapkan pendakian yang akan memakan waktu 1 jam lebih ini. Saat sudah siap semua kami berjalan menyusuri jalan setapak yang mengarah ke gunung. Sebenarnya saya tidak tahu itu jalannya atau bukan, tapi karena mengarah ke gunung, firasat saya memang itulah jalannya. Pada jam segitu langit masih sangat gelap, sehingga kami perlu menggunakan senter sebagai penunjuk jalan. Di tengah jalan kami bertemu seorang pendaki yang juga mengarah ke gunung. Wah ternyata memang benar firasat saya, lalu saya bertanya ke dia “mau ke atas juga, ya?” anehnya dia diam saja lalu dia bilang “excuse me?” pantas ternyata dia bule. Jalan yang gelap membuat saya tidak mengenali dia orang indonesia atau bukan. Kemudian saya tanyakan dalam bahasa inggris apa dia mau ke puncak, lalu dia bilang iya.


Selama mendaki saya mengobrol dengannya, tidak terasa saat melihat ke belakang, “Lho kemana Mitra dan Bee?” rupanya mereka tertinggal sangat jauh. Saya sungguh tidak menyadari mereka bisa tertinggal begitu jauh karena gelapnya jalan dan cepatnya langkah bule itu. Sudah menjadi rahasia umum kalau 1 langkah orang bule sama dengan 2 langkah orang indonesia. Saya menunggu mereka sejenak, lalu meneruskan pendakian lagi. Bule itu adalah orang Jerman yang sedang backpacking sendirian ke Indonesia (Hmm... suatu saat saya pasti seperti dia). Namannya Tim atau Billy saya lupa, tubuhnya sangat tinggi. Untuk amannya saya memanggilnya “sir” karena raut wajahnya tidak kelihatan karena gelap, lalu dia bertanya “how old are you?” saya jawab saja “22 years old” sampai disitu saya belum ngeh kenapa dia bertanya seperti itu. Lagi-lagi Mitra ketinggalan, karena terus berhenti untuk menunggu, kami disusul rombongan lain. Setelah berkenalan dengan rombongan baru itu, dia ternyata orang Jerman juga yang menikah dengan orang indonesia. Selain dia, ada juga ibu bapaknya dari jerman dan beberapa orang indonesia dari pihak istrinya.


Sebenarnya medannya tidak begitu berat, namun bagi yang baru pertama kali naik gunung memang bikin ngos-ngosan. Satu jam mendaki kami sampai ke jalan aspal, di sinilah rute pendaki yang jalan dan naik hard top menyatu. Itu yang membuat jalurnya berbahaya, maka disarankan kita memakai pakaian yang mencolok atau terus mengarahkan senter ke belakang agar supir hard top melihat kita. Lebih amannya, kalau sudah terdengar bunyi mesin mobil, saya menyuruh teman-teman menepi terlebih dahulu dan mempersilakan mobil jalan duluan. Menjelang akhir pendakian Mitra sudah tidak sanggup lagi jalan, karena di situ banyak ojek motor kami memutuskan melanjutkan dengan ojek sampai puncak. Sial betul, ternyata jarak dari tempat tadi ke puncak tidaklah jauh, ya paling cuma 100 meter, baru sadar saya sudah dibohongi apalagi saat tukang ojek bilang ongkosnya Rp 15.000,-/ orang, wah kebangetan tuh orang.


Di puncak, orang-orang sudah banyak berdatangan untuk melihat sunrise. Tidak lama menunggu, kemilau jingga di horizon tampak dengan anggun. Perlahan demi perlahan sinar-sinar keemasan menerangi cakrawala. Saya melihat semua orang seakan takjub melihat tanda-tanda kebesaran Tuhan itu. Semua begitu terpana sampai tidak ada aktifitas, selain melihat lahirnya matahari baru di ujung langit Bromo. Ketika matahari sudah semakin ke atas, baru kelihatan wajah-wajah yang tadinya tidak kelihatan karena gelap. Walau saya tidak melihat wajah orang-orang yang tadi bareng selama pendakian, saya masih bisa mengenalinya dari postur tubuh dan suaranya. Baru saya tahu, ternyata orang yang saya panggil “sir” tadi adalah abg berusia 18 tahun. Tubuhnya saja yang tinggi, tapi mukanya culun, jiah...sial benar.


Karena ingat belum sholat subuh, kami langsung mencari tempat sholat. Air gunung yang dingin ditambah angin yang semilir membuat saya menggigil selama sholat. Selesai sholat, kami melanjutkan ke gunung Bromo dengan memakai ojek dengan bayaran Rp 50.000,-/orang. Jalan ojek melewati jalan yang di lalui hard top. Jalurnya sangat terjal, bahkan hampir 45° di sepanjang jalan banyak sekali kerikil, saya was-was takut motornya tergelincir saja. Berkali-kali saya merosot ke depan, untuk itu saya harus pegang erat-erat besi dibelakang jok. Untuk sampai gunung Bromo kita harus melewati lautan pasir. Hati-hati saja, kadang motornya suka selip di pasir, ojek yang ditumpangi Mitra saja sampai beberapa kali terjatuh.


Perjuangan ke Bromo tidak usai sampai di situ, pengunjung diharuskan berjalan sejauh 2 km ke puncak. Bisa dikatakan mereka saling bagi-bagi rejeki, karena sekarang lah giliran penyewa kuda untuk meraup untung. Saya pikir tidak ada salahnya juga sih naik kuda, lagipula hanya Rp 20.000,- saja. Tapi, teman-teman lebih suka jalan kaki. Di gunung Bromo matahari bersinar sangat terik, tidak ada bangunan apapun yang bisa menghalangi sinar matahari, makanya lebih baik bawa payung atau topi bila ada rencana ke sini. Pemandangan di sini memang sungguh indah luar biasa, kita terasa begitu kecil dihamparan lautan pasir yang maha luas, bahkan teman saya yang sebelumnya pernah ke sini bilang “itu mah lapangan bola para raksasa”, bah!!!. Yang menantang fisik, kita harus menaiki tangga untuk menuju kawah. Saya sengaja terus naik tanpa berhenti untuk menguji stamina, sampai di atas lutut saya langsung gemetar mau jatuh saking lemesnya,wahaha...coba saja sendiri kalau tidak percaya.


Sudah puas lihat kawah Bromo, kita kembali ke tempat ojek tadi. Sempat agak bingung nyari-nyari karena semua tukang ojek tampangnya sama,hehe...sengaja saya belum bayar mereka, sebagai jaminan mereka tidak meniggalkan kita. Untuk informasi, jarak Bromo ke Cemaralawang sekitar 2 km, ya lumayan juga kalau jalan. Kami tiba di penginapan siang hari, lalu segera mandi, makan siang, kemudian siap-siap ke tujuan berikutnya. Setelah menimbang-nimbang, kami tidak jadi ke kawah Ijen, karena masalah jarak yang begitu jauh. Paling tidak pemandangannya sama saja dengan di Bromo, makanya kami putuskan ke pulau Sempu saja yang lebih eksotis.


Angkutan ke Probolinggo hanya mobil carry besar ini, makanya si supir selalu memastikan penumpangnya penuh agar lebih efektif dari segi bensin. Jadilah kami selalu diikuti si supir dan bilang “masih lama nggak, mas?” karena tidak enak hati membuat penumpang lain menunggu, saya dan teman-teman tidak berlama-lama untuk makan dan langsung bergegas ke mobil. Sampai di mobil banyak orang yang bete gitu, terutama cewe-cewe dari Australia. Lalu saya bilang “sorry for waiting long time” ke bule sebelah saya. Terus dia bilang, tidak apa-apa dan menjelaskan cewe-cewe Australia itu sedang mengejar pesawat di Surabaya untuk ke Thailand, oh...saya jadi paham kenapa mereka bete.


Jalur pulang ke Malang sama seperti jalur perginya. Jadi, tidak ada yang istimewa untuk diceritakan. Sampai di Malang sudah agak sore, kami melanjutkan perjalanan menuju Sendang biru, nama daerah tempat pulau Sempu berada. Saya kembali menanyakan bagaimana pergi ke Sendang biru kepada petugas, saya disarankan untuk naik angkot ke terminal Gadang, lalu dari sana naik bis tujuan Turen. Di perjalanan kami sempat khawatir karena hujan turun dengan lebat, padahal hari sudah hampir malam. Di salah satu blog menuliskan kalau pada malam hari tidak ada angkot dari Turen ke Sendang biru. Wah, adrenalin terpompa lagi, masalahnya tempat kita berada itu bukan seperti malang yang teratur. Sungguh ajaib, di saat sedang kesulitan pasti ada saja pertolongan. Saya jadi teringat perjalanan saya ke Lombok yang dibantu oleh bli Yudi, kali ini saya ditolong oleh mas Anto.


Dia mengusulkan, bagaimana kalau kami menginap di rumah saudaranya saja dan pergi esok harinya. Saat itu sudah malam, kami tidak punya banyak pilihan. Sebenarnya kami agak ragu menerima ajakan dari orang asing, tapi dia sedang pergi bersama istrinya, jadi kesimpulan kami dia orang yang bisa dipercaya. Dibandingkan resiko tidur di terminal, lebih baik saya menyetujui tawaran dia saja. Oleh sebab itu, saya sarankan lebih baik kalau mau ke Sendang biru berangkat pagi-pagi sekalian biar sampai di sana siang hari, jadi tidak bernasib seperti kami,hehe... Rombongan kami pun segera menuju Turen. Tarif bis Gadang-Turen Rp 10.000,- untuk membalas kebaikan dia dan istrinya, kami membayar ongkos bis mereka. Waktu tempuh ke turen mungkin hanya 45 menit, saya kemudian mencoba menanyakan angkot ke Sendang biru. Setelah tanya sana-sini, memang benar angkutannya sudah tidak ada. Kami pun naik ojek ke tempat saudaranya mas Anto di daerah Turen.


Kami disambut hangat oleh keluarganya mas Anto. Menjelang tidur, saya sempat mengobrol dengan mas Anto, dia mengatakan daerah menuju Sendang biru adalah tempat bajing loncat beraksi, makanya kalau malam jarang ada mobil yang mau melitansi daerah itu. Mas Anto sendiri adalah supir angkot di Surabaya, dia bilang sekarang sedang mau ke rumah saudaranya. Dari kejadian ini, sungguh membuat petualangan kami menjadi lebih berwarna. Kehidupan memang tidak bisa ditebak, saya jadi semakin yakin untuk backpacking ke luar negeri setelah melihat kenyataan bahwa di dunia ini masih ada orang-orang baik seperti mas Anto dan bli Yudi. Semua sudah saya buktikan dan saya alami ketika sedang mendapat kesulitan pasti ada saja dewa penolong yang akan membantu kita. Jadi jangan terlalu khawatir, banyak berdo’a saja, Tuhan pasti menolong kita. Setelah beberapa lama mengobrol dengan mas Anto, saya jadi mengantuk, lalu saya minta ijin untuk istirahat agar besok bisa fresh melanjutkan petualangan ke Sendang biru.


- bis ekonomi Probolinggo-Malang : Rp 14.000,-

- angkot ke terminal Gadang : Rp 8.000,-

(sebenarnya hanya Rp 6.000,-, karena tahu kami pendatang si supir menaikkan ongkos. Saya sempat ngotot ke supir, tapi melihat kondisi di lapangan saya merelakan saja)

- bis Gadang-Turen : Rp 10.000,-


Hari keempat

Minggu, 7 Maret 2010


Inilah klimaks perjalanan kali ini yaitu ke pulau Sempu, sebuah pulau eksotis yang berada di tepian samudera Hindia yang tidak dihuni manusia. Subuh, kami sudah bangun, sambil menunggu pagi saya main HP saja, karena penghuni rumah yang lain juga masih tertidur lelap. Waktu menunjukan pukul 07.00, mulai terasa adanya tanda-tanda kehidupan di rumah. Saya disuguhi teh hangat dan cemilan (tidak tahu namanya), pemilik rumah kemudian memasak sarapan untuk kami. Dalam hati saya sangat tidak enak harus merepotkan seperti ini, yah mau bagaimana lagi, masa nasib baik mau ditolak,hehe...setelah semua selesai sarapan, kami mandi dan bersiap kembali ke Turen untuk ke Sendang biru. Sampai Turen kami langsung naik mobil ke Sendang biru, mobilnya tidak beda jauh seperti yang di Bromo. Malah parahnya, kalau ke Bromo cuma mengangkut orang, kali ini banyak sekali sayur-sayuran yang diangkut, bahkan beberapa ekor ayam juga masuk ke mobil, ealaaah.

Perjalanan sangat menyenangkan, walaupun jalurnya berkelok-kelok, tapi bukan merupakan perbukitan jadi saya tidak was-was lagi mobil nyemplung ke jurang. Di kiri dan kanan terhampar perkebunan entah itu kelapa, karet, dan perkebunan warga, pokoknya jalannya teduh sekali. Mobil sempat berhenti lama menunggu penumpang, mereka seakan tidak mau rugi walaupun hanya satu orang penumpang mereka tetap menunggunya, tidak peduli orang-orang di mobil berteriak “cepet jalan, bang”. Waktu tempuh ke Sendang biru kurang lebih satu jam lebih, tergantung dari lama si supir mangkal. Tenang saja, di daerah Jawa, kemacetan jarang dijumpai jadi kalau perjalanannya lama, ya paling karena ngetem nunggu penumpang. Setelah sampai di perkampungan nelayan Sendang biru, saya mengucapkan banyak terima kasih kepada mas Anto yang sudah banyak membantu.


Petualangan pun berlanjut. Sebelum menyebrang ke pulau, kami diharuskan melapor ke BKSDA (Badan Konservasi Sumber Daya Alam) pulau sempu. Petugas mengatakan, seharusnya saya membuat ijin dari BKSDA pusat di Jakarta atau di Surabaya. Inilah enaknya tinggal di Indonesia, peraturan yang rumit pun bisa jadi fleksibel dengan diplomasi,hehe... saya bilang ke dia, “wah, pak, masa saya harus balik lagi?” kemudian dia memberi solusi dengan memberikan surat ijin sementara. Di form itu saya harus menulis keterangan berkunjung ke pulau dan menyangkut informasi identitas kami. Tidak lupa, sedikit uang “retribusi” yang jumlahnya bisa di nego. Waktu itu saya sih, kasih Rp 20.000,- walau kata penduduk, “kasih saja Rp 10.000,-“. Ijin sudah didapat, sekarang tinggal mencari perahu untuk menyebrang. Mencarinya mudah, kok, di gerbang depan sebelum masuk ada sebuah rumah yang banyak tempelan stiker-stiker dari para grup pencinta alam yang sudah berkunjung ke pulau Sempu atau tanya saja penduduk dimana tukang perahu untuk menyebrang. Untuk menyebrang dikenai tarif Rp 100.000,- PP satu perahu, jadi kalau ada 10 orang biayanya bisa di share.


Jantung sudah berdegub kencang tidak sabar menjelajahi pulau Sempu, saya kemudian membeli beberapa logistik tambahan dan minyak tanah untuk buat api unggun. Sewaktu melapor di BKSDA tadi, petugas memperingatkan kalau pulau Sempu adalah pulau konservasi, jadi masih banyak sekali ular dan hewan-hewan hutan, malah katanya ada macan tutulnya, walah!!!. Saya mengecek lagi kelengkapan, takut masih ada yang kurang. Bodohnya saya cuma menjatah air minum 3 liter per orang, hal yang membuat kami harus pulang cepat dari jadwal karena hampir kehausan di pulau,wakaka... sebenarnya kami sudah diperingatkan saat di perahu, “mas, memang air segitu cukup” dengan pede-nya saya bilang “iya, pak” saya lupa, kalau di pulau tidak ada warung,hehe... perahu menyusuri air dengan perlahan, kami sendiri sudah pasrah saja dengan apa yang terjadi nanti. Perlu diingat, di pulau Sempu tidak ada sinyal HP (kecuali di bibir pantai) dan tidak ada listrik, jadi pastikan HP ada pulsa, baterainya penuh, dan ada HP cadangan. Masalahnya untuk pulang ke Sendang biru satu-satunya alat komunikasi ya, lewat HP.

Tidak lama, perahu merapat ke bibir pantai, karena ini wilayah konservasi jadi tidak ada dermaganya. Jadi kami harus basah-basahan ke pantai. Setelah semua barang diangkut ke pantai, perahu pun meninggalkan kami. Sejenak saya bengong melihat kepergian perahu, menimbang-nimbang apa tindakan saya ke sini tepat atau tidak. Ketika perahu sudah tidak terlihat, saya mulai sadar kalau waktu kami menuju segara anakan tempat base camp kemping memakan waktu 2 jam perjalanan dan saat itu haru sudah sore sekali. Pada awalnya, jalurnya berupa tanaman bakau menandakan masih daerah pantai, lama kelamaan vegetasinya sudah semakin berbeda dan semakin rimbun. Mitra yang tidak biasa ke hutan (padahal dari Kalimantan) jatuh berkali-kali saat menginjak tanah yang licin habis hujan. Semakin masuk ke dalam hutan, semakin ciut nyali kami. Kali ini tidak hanya Mitra, tapi Bee juga jatuh terpeleset. Saya sempat bingung juga, bagaimana caranya membuat mereka jalan lebih cepat. Saya cuma khawatir jangan sampai kami masih di hutan ketika malam tiba. Alhasil, saya menyuruh Mitra untuk memegang akar pohon, yah semacam tali yang dikaitkan saat mendaki gunung es agar saya bisa menahan dia kalau mau jatuh. Tapi, cara itu tetap tidak berhasil juga.


Sinar matahari sudah semakin lemah menyinari rerimbunan pohon, tanda malam semakin dekat. Saya jadi merinding sendiri, kalau harus berkemah di hutan. Waktu siang hari saja, sudah banyak serangga yang berkeliaran, seperti nyamuk yang super besar, kaki seribu, kelabang, dan makhluk kecil-kecil yang saya tidak tahu namanya. Wah, tidak terbayangkan bagaimana rupa penghuni hutan waktu malam hari. Selama di dalam hutan, banyak sekali monyet berkejar-kejaran. Suasana begitu hening, namun ramai oleh suara alam. Suatu kontradiksi yang saya pikir sangat aneh, keheningan di dalam keramaian. Keheningan benar-benar terasa kalau kami berhenti untuk istirahat. Jika mengamati sekeliling seakan-akan ada sesuatu yang mengawasi kita, jauh di balik rerimbunan pohon. Lalu tiba-tiba ada saja suara-suara aneh terdengar, seperti orang yang menginjak ranting, tapi setelah saya berhenti berjalan suara itu juga berhenti. Saya jadi ingat film predator, dalam hati wah jangan-jangan saya sedang diikuti predator,haha... deru pantai terdengar berkali-kali, menyiratkan bahwa tujuan kami sudah dekat, ternyata kami salah setelah berjalan lama segara anakan belum juga terlihat. Saat ada deru pantai lagi, kami tidak percaya begitu saja, karena perjalanan kami memang masih jauh.

Kalau bisa dilukiskan, saat itu perasaan saya campur aduk. Saya tidak mungkin menyuruh Mitra jalan lebih cepat, tapi saya juga takut sekali karena malam sudah menanti. Apalagi saat bayangan pohon mulai menghilang, tanda matahari sudah hampir tenggelam. Idealnya waktu tempuh perjalanan hanya 2 jam. Tapi, dengan kondisi habis hujan ditambah saya baru pertama kali ke sana, sehingga waktu tempuhnya menjadi lebih lama. Kami berjalan 15 menit dan istirahat 5 menit, begitu seterusnya. Sekali lagi, tidak mungkin saya paksakan mereka berjalan terus di medan yang cukup berat itu. Kali ini malam benar-benar datang, kelelawar sudah beterbangan mengitari kami, kadang-kadang ada yang hampir menabrak wajah kami. Saya masih belum tahu berapa jauh lagi segara anakan. Kemudian, saya menyuruh mereka mengeluarkan senter sebagai penuntun jalan agar bisa melihat jalur. Sekarang, sekeliling kami sudah gelap, hampir tidak terlihat apa-apa. Saya semakin merinding, jujur saja saya agak takut yang namanya hantu,hehe... berkali-kali bunyi “brukk” terdengar, saya berpikir mungkin cuma ranting atau buah yang jatuh. Tapi, otak saya tidak bisa dibohongi, pikiran semakin ngelantur kemana-mana. Saya membayangkan bagaimana kalau ada gondoruwo di hutan itu, waaaa.... degub jantung tidak henti-hentinya berdebar-debar.


Berjalan hanya bertiga di tengah hutan pada malam hari bukanlah pengalaman yang menyenangkan. Kalau dihitung, kami sudah berjalan hampir 3 jam, tapi belum juga mencapai segara anakan. Walau suara hutan sudah kami dengar sejak memasuki hutan, namun suara “brukk” itu masih membuat saya deg-degan. Belum lagi suara burung “kaaak kaaak” dan suara kepakan sayap kalelawar yang menderu-deru. Menurut saya sih, yang paling seram adalah suara monyet. Saat mereka sedang kejar-kejaran, rasanya seperti ada seseorang yang berlari menubruk dahan-dahan, apalagi kalau suaranya mengarah kepada kita. Mana suara monyetnya seram sekali, mereka bersuara “nguuk ngukk”. Suaranya seakan ada di dekat kita, tapi setelah di senter tidak ada apa-apa, mungkin dia sembunyi di balik pohon.


Akhirnya, penantian kami terbayarkan. Kami sampai segara anakan jam 7 malam, di segara anakan tempatnya agak terang karena cahaya bintang dan bulan. Beda sekali dengan di dalam hutan yang gelap pekat. Kemudian saya bersiap mendirikan tenda, lalu kami bertiga menenangkan diri setelah apa yang dilalui di hutan. Perasaan takut masih saja datang, ingat cuma kami yang kemping di pulau ini. Jadi apapun yang terjadi, pasti tidak ada orang yang menolong. Belum lagi kalau terjadi sesuatu, kami harus melewati hutan yang tadi lagi. Wah, saya berdo’a saja, semoga kami selamat sampai pagi. Untuk makan malam, kami makan roti yang sudah beli di Indomart. Niatnya saya mau tidur di luar pakai sleeping bag beralaskan matras dengan di double pakai ponco biar tidak basah oleh embun, karena tenda yang dibawa Mitra adalah tenda anak-anak yang sangat sempit untuk bertiga. Namun tidak lama saya tidur, ada sesuatu yang menarik perlahan ponco saya. Tarikannya sangat pelan, seakan dia tidak mau saya terbangun. Karena saya juga belum tidur, lalu saya singkap ponco dan mulai memeriksa. Sulit rasanya untuk tidur, bila celana kotor belepotan oleh lumpur waktu di hutan tadi, suara nyamuk yang selalu berputar-putar di telinga, dan “berisiknya” suara alam mulai dari jangkrik, monyet, burung, musang, pokoknya seperti di kebun binatang saja. Setelah memeriksa sekeliling, saya tidak menemukan apa-apa. Saya pikir cuma monyet yang iseng, tapi kok, nggak ada monyet yang lari, ya. Kemudian saya tidur lagi, tidak sampai dua menit ada yang menarik lagi, kali ini saya diamkan saja. Saat saya membuka mata, tarikan berhenti, pokoknya “sesuatu” itu menarik ponco, ketika saya menutup mata saja. “sreet” ponco ditarik lagi, sekarang hampir sebagian sleeping bag saya tidak terlindungi ponco. Saya sudah takut sekali, makanya tanpa berani menyingkap ponco, saya teriak ke Mitra yang tidur di tenda agar segera menyenter ke arah saya, tapi dia bilang tidak ada apa-apa.


Saya tidak punya nyali lagi untuk tidur di luar, jadinya kami bertiga tidur di dalam tenda, haha...walau kaki saya keluar karena tidak muat, tidak apalah dari pada badan saya yang di luar tenda. Suara monyet, burung, dan kalelawar selalu terdengar sepanjang malam, sehingga sulit untuk tidur nyenyak. Parahnya, tengah malam mungkin sekitar jam 3 saya mau ke kamar kecil, saya sempat berpikir untuk menahannya saja, tapi tetap tidak bisa. Agak nekat juga, saya kemudian keluar tenda dan mencari tempat buang air. Saya sengaja mencari tempat menjauh dari hutan dan lebih memilih tempat yang tidak ada pohonnya. Saya memilih resiko kelihatan buang air oleh Mitra dan Bee daripada harus bersembunyi di semak-semak hutan yang gelap gulita. Dengan tergesa-gesa saya kembali ke tenda sampai pagi hari datang, fiuh...


Teror malam berakhir sudah, di pagi hari segara anakan sangatlah indah. Tempat itu bagaikan milik kami saja, karena tidak ada seorang pun yang berkemah selain kami bertiga. Mitra dan Bee memilih untuk berenang, tapi saya lebih suka berjalan-jalan melihat ikan-ikan. Sebenarnya, saya mau berenang, namun saya malas membawa pakaian kotor yang basah, makanya saya menolak ajakan mereka untuk berenang. Kecantikan segara anakan sulit digambarkan dengan kosakata yang ada, tempat itu seperti the paradis on the earth saja. Sayang banyak sekali sampah yang ditinggalkan, saya lalu inisiatif untuk mengumpulkan semuanya dan membakarnya. Sekarang tampilan, segara anakan menjadi lebih indah tanpa sampah.

tolong kumpulin lagi sampahnya, ya.

airnya jernih sekali

seperti pantai pribadi, kan!

ini samudera Hindia, waktu malam sempat ada badai.


Masalah muncul saat mau sarapan, kami kesulitan membuat api untuk merebus air. Sebagian besar kayu di hutan adalah kayu basah yang masih berkambium, sedangkan sekalipun ada ranting kering, ukurannya segede gaban. Karena tidak membawa pisau, jadi sulit untuk memotongnya. Sudah dicoba dipotek tetap, tidak bisa juga. Akhirnya kami mengumpulkan sisa arang dari orang-orang yang kemping di sini. Ide itu berhasil, kami pun bisa membuat kopi dan pop-mie,hehe... seharusnya kami menetap 2 malam, karena melihat stok air yang kurang, kami putuskan untuk pulang saja. Teringat perjalanan kemarin, kami pulang jam 12-an. Sehingga sampai di pantai sekitar jam 3, agar tidak kesorean. Selama melewati hutan, kami semakin terbiasa dengan suara-suara yang ada, Mitra juga sudah jarang terjatuh karena tanahnya tidak selicin kemarin. Sampai di pantai, saya mengirim sms ke nahkoda perahu supaya menjemput kami. Dalam penantian itu, banyak grup pencinta alam yang datang ingin berkemah di segara anakan. Satu rombongan, bisa sampai 20 orang, (wah kalau begini sih, saya juga berani,hehe...) 15 menit menunggu, perahu datang menjemput. Saat itu sudah sangat sore, jadi kami minta ijin menginap di kantor BKSDA (gratis... tis...). besoknya kami pulang ke Jakarta dengan menggunakan kereta Matarmaja yang berangkat jam 2, sehingga kami sampai di Jakarta jam 8 pagi.


sumber air laguna berasal dari samudera Hindia yang melewati celah karang


sudah bersih dari sampah


the survivors on the island


kantor BKSDA tempat kami menginap

- perahu : Rp 100.000,-

- tiket masuk Sendang biru : Rp 3.000,-

- bayar uang “retribusi” BKSDA : Rp 20.000,-

- minyak tanah : Rp 8.000,-

- angkot Turen-Sendang biru : Rp 12.000,-




Pelajaran yang saya dapat saat backpacking kali ini, yaitu jangan takut untuk berpetualang dan menjelajahi tempat-tempat baru. Asalkan persiapan kita memadai, semua akan baik-baik saja. Tiap masalah yang ditemui, pasti ada jalan keluarnya, percayalah pada diri sendiri dan gunakan insting bila merasa ragu. Justru masalah yang kita hadapi selama backpacking akan membuat kita menjadi pribadi yang tangguh dan tidak cengeng. Beberapa blog yang saya baca mengenai panduan ke Bromo dan pulau Sempu, banyak dari mereka yang memakai motor atau mobil charteran, sehingga akan menyulitkan bagi orang-orang seperti saya ini yang mengandalkan trayek angkutan Tapi, semua perjalanan ini saya lakukan mengikuti jalur trayek angkutan, tidak ada yang memakai motor (kecuali di Bromo) atau mobil sewaan, jadi kalau saya BISA melakukannya, anda pun pasti BISA. SELAMAT BERPETUALANG!!

Senin, 28 September 2009

Backpacking Part I (Bali - Lombok)


Pada awalnya keinginan untuk berpetualang menjelajahi tempat-tempat eksotis di belahan bumi ini adalah sebuah impian belaka. Masalahnya bukan karena tidak mampu tapi lebih kepada ketidaktahuan saya bagaimana merealisasikan keinginan tersebut, bahkan tragisnya saya baru tahu saat kuliah kalau kegiatan “jalan-jalan” tersebut dinamakan BACKPACKING.

Tiba-tiba dunia begitu cerah setelah Trinity dalam bukunya yang berjudul Naked Traveller seakan-akan meng-edukasi saya lebih jauh tentang kegiatan yang tak hanya full adrenalin tetapi juga full budget ini. Kalau tidak membaca buku tersebut saya pikir istilah backpacking masih manjadi istilah asing yang harus dicari di kamus sampai sekarang.

Sebagai buku yang telah membawa saya ke dunia backpacking, saya yakin buku tersebut juga bisa menjadi referensi bagi semua calon backpacker yang ingin mengetahui gambaran umum yang selalu ingin ditanyakan bagi para pemula, seperti apakah kegiatan backpacking itu dan butuh persiapan apa saja. Sayangnya buku ini lebih banyak meng-explore kegiatan selama backpacking tapi kurang menginformasikan masalah persiapan. Untuk itu saya memerlukan referensi tambahan untuk menjawab pertanyaan saya yang kedua mengenai bagaimana dan apa saja yang harus dipersiapkan.

Seperti pepatah “sudah jatuh tertimpa tangga pula” itulah yang saya alami tapi kali ini tangga yang menimpa saya adalah tangga keberuntungan. Tidak lama berselang, saat jalan-jalan di Gramedia saya melihat buku backpacking terbitan baru yang berjudul Jalan-jalan ke Eropa 6 bulan dengan 1000 Dollar yang ditulis oleh Marina Silvia. Buku ini bisa dibilang telah melengkapi puzzle jawaban yang sudah lama saya cari. Bahkan saya tidak ragu mengorbankan duit 50.000 yang tinggal selembar di dompet, untuk beli buku tersebut. Hampir tidak bisa pulang kalau tidak ada duit recehan di kantong.

Kedua buku tersebut saya baca siang-malam sampai habis. Kadang-kadang saat tidak ada kerjaan, saya sampai membaca di kereta selama perjalanan ke kampus. Setelah informasi yang saya dapatkan sudah cukup, dengan santainya saya menggumam “Wah kayaknya asik nih kalau backpacking ke Eropa” dan saya langsung menetapkan target ke Eropa sebagai tujuan backpacking. Tetapi seperti orang menjalankan bisnis MLM (multi level marketing), kenyataannya tak seindah saat sedang di prospek,hehe...sama halnya dengan MLM, semua yang ada dalam buku tersebut rasanya masih terlalu sulit untuk diwujudkan ke dunia nyata, walaupun saat membaca saya yakin bisa melakukanya.

Makanya saat ngelantur akan pergi ke Eropa saya cepat-cepat memukul kepala saya biar terbangun dari mimpi. Harusnya dari awal baik Trinity atau Marina wajib menulis dengan huruf besar di cover buku mereka “EFEK SAMPING: DAPAT MENYEBABKAN PIKIRAN NGELANTUR” wong makan saja masih sulit sudah mimpi mau ke Eropa,hehe...walaupun begitu saya berterima kasih kepada mereka yang sudah berusaha memberikan motivasi dan informasi yang berharga.

Rencana kembali dari nol, setelah sadar sulitnya mencari uang ribuan euro saat berstatus masih belum bekerja alias mahasiswa padahal sebelumnya saya sudah banyak mengumpulkan banyak informasi tentang regional Eropa bahkan saya sudah mempelajari budaya mereka baik melalui buku maupun internet. Lagi-lagi seakan mendapat kejatuhan bintang keberuntungan, secara tidak sengaja saya menonton program televisi yang saat itu menghadirkan bintang tamu Trinity sendiri. Sudah bisa ditebak, tema dari acara itu mengenai pengalaman backpacking yang Trinity lakukan. Kata-kata yang selalu saya ingat sampai detik ini dari Trinity, di akhir program saat dia diminta pembawa acara untuk menyampaikan pesan untuk para pembacanya dia mengatakan : “COBA BACKPACKING DARI TEMPAT YANG TERDEKAT DULU, kebanyakan para calon backpacker terlalu ambisius ingin ke Eropa padahal backpacking ke luar kota saja belum tentu bisa” weleh-weleh, kenapa tidak bilang dari dulu mbak...kata-kata itu menyadarkan saya agar menentukan tujuan dan rencana baru.

Alangkah masuk akal jika saya menjelajah wilayah Indonesia dulu, selain lebih murah saya tidak akan berkendala masalah budaya. Apalagi saya masih amatiran sangat beresiko jika saya langsung backpacking ke luar negeri, walaupun hanya ke Malaysia saya tidak yakin mampu karena pengalaman saya masih kurang. Baru kali ini buku PETA INDONESIA yang selama ini ditumpuk jadi satu dengan koran bekas, saya pelototi tiap detailnya. Tiap jengkal wilayah Indonesia di peta tidak luput dari perhatian saya yang kebingungan mencari daerah yang layak di kunjungi.

Pilihan jatuh pada Bali, alasan terbesar karena saya belum pernah kesana sebelumnya,haha...alasan berikutnya karena letak Bali yang strategis, sangat dekat dengan objek wisata terkenal lain yaitu Lombok. Saya juga penasaran seperti apa objek wisata kepulauan terbaik di dunia. Sampai tahap ini, saya kembali “mengakrabkan” diri dengan peta untuk menentukan daerah mana saja yang akan saya kunjungi. Wuih...belum pergi ke Bali tapi saya sudah sangat menikmati persiapan segala sesuatunya mulai dari persiapan makro seperti transportasi, penginapan dsb sampai persiapan mikro seperti pakaian mana yang harus dibawa.

Perlu diketahui, persiapan budget masih menjadi kendala tapi perjalanan ke Bali tidak sebesar mempersiapkan budget ke Eropa jadi saya masih optimis backpacking kali ini akan terlaksana. Saya memerlukan waktu 6 bulan agar bisa mengumpulkan uang sebesar Rp 2.000.000, sebenarnya pada awalnya saya masih pesimis bisa dapat 2 juta dalam 6 bulan namun entah mengapa saat kita berniat melakukan sesuatu pasti akan ada jalan untuk itu. Sedikit info budget 2 juta saya dapat dari kerja harian di CCF (Pusat Kebudayaan Perancis), beasiswa BKM, honor menjadi pengawas UN SMP 2009, dan kerja serabutan lainya,haha...yang pasti kalau saya tidak melakukan hal tersebut, bisa dipastikan uang 2 juta cuma angan-angan. Sudah dikatakan sebagai mahasiswa kalau hanya mengandalkan uang saku mustahil kita bisa kemana-mana (kecuali kalau uang sakunya 50 ribu sehari).

Saya kira setelah membaca referensi literatur dari buku-buku yang sudah disebutkan persiapan kita sudah setengah jalan dan mental backpacker sudah mulai terbentuk, setelah membaca bagaimana wanita-wanita tersebut berjuang mengatasi masalahnya masing-masing selama pengembaraan. Berikut langkah-langkah umum yang harus dilakukan sebelum perjalanan :

1. Buat rencana perjalanan

Walaupun kenyataanya kadang kali berbeda dengan apa yang sudah ditulis, sebaiknya atau bahkan wajib rencana perjalanan ini dibuat. Minimal kita tahu daerah mana saja yang akan dikunjungi nanti.

2. Cari tiket transportasi murah

Kalau bisa booking tiket pesawat jauh-jauh hari agar mendapat tiket dengan harga miring, info tiket murah bisa dilihat di koran atau di internet. Saya rasa untuk pengguna transportasi darat tidak akan ada masalah berarti karena kenaikan harga tiket bus dan kereta tidak terlalu signifikan, berbeda dengan tiket pesawat.

3. Realisasi

Sebenarnya masih banyak persiapan lainya, namun bila terlalu rumit kapan perginya,haha...jadi cukup disitu saja persiapan kita, minimal kita sudah siap mental karena yang paling banyak berperan dalam petualangan kita nantinya adalah hal tersebut. Kalau mau ditambahkan, bisa persiapkan perlengkapan bertahan hidup seperti tenda, pisau, panci, kompor, bahan makanan, dan tempat air minum. Kalau tidak mau repot, ya tinggal membawa uang saja yang banyak,hehe…

Kita berangkat....cihuy…

Karena Bali bukan tujuan backpacking saya yang sebenarnya. Jadi saya menyebut perjalanan kemarin SURVIVAL PROGRAM yaitu training untuk menghadapi a real backpacking nanti. Pada malam hari sebelum keberangkatan, saya lumayan gugup oleh bayangan-bayangan buruk di kepala. Yang menjadi persoalan bukan tentang bagaimana hidup saya disana nanti, karena pastinya dengan pengalaman ikut pramuka hampir 10 tahun ditambah sudah membaca 2 buku tentang regional Jawa-Bali, resiko tersasar sudah bisa saya minimalkan, bahkan saya siap bila harus tidur nge-gembel di jalanan. Hal yang membuat saya parno, bagaimana jika setelah sampai sana saya mengalami kejadian buruk yang dialami Andrea Hirata dalam novelnya Edensor. Saat dimana kesulitan ekonomi membuat sebagian orang nekat merampas harta benda yang bukan hak mereka. Tidak bisa saya bayangkan bila saya dirampok lalu semua perbekalan mereka ambil termasuk Handphone, yang membuat kita benar-benar terdampar tanpa bisa mengirimkan a call for aid to our family. Tapi tidak ada kesenangan tanpa ada resiko no pain no gain, tenang saja karena kita juga akan mendapatkan hal menakjubkan yang setimpal dengan resiko tersebut, lagipula belum tentu hal tersebut akan menimpa kita, my advice just pray a lot...

Survival Program mode [ON]

1st day

Kamis, 9 Juli 2009

07.00 WIB

Pengecekan ulang barang bawaan

Rencananya hari ini saya akan check-in jam 15.00 WIB menggunakan maskapai Lion Air. Saya pakai Lion karena menurut survey yang saya lakukan, harganya relatif lebih murah dari maskapai lain. Kemarin kena Rp 569.000 cukup murah dibandingkan Airasia yang sampai 800-an (untuk Garuda, tidak usah ditanya lagi…). Tiket bisa didapatkan melalui call center maskapai atau ke travel agent. Memang dalam mencari tiket dengan harga miring agak memerlukan perjuangan, saya bahkan harus repot-repot keliling Margonda Depok untuk mendapatkan tiket paling murah. Pada prinsipnya beli tiket pesawat seperti kita beli barang di pasar, memang tidak bisa ditawar,hehe…tapi kalau harga di satu tempat lebih mahal, di tempat lain belum tentu sama mahalnya (ini berlaku untuk travel agent, untuk yang pesan langsung lewat situs internet akan mendapat harga yang fix).

Satu lagi tips dalam mencari tiket, kita bisa memanfaatkan fasilitas booking yang disediakan. Maksudnya kita bisa memesan tiket terlebih dahulu tanpa kewajiban membayar uang muka, fasilitas ini digunakan apabila kita masih ragu dengan jadwal keberangkatan tanpa harus beresiko kehilangan tiket. Setelah pasti berangkat, booking ticket bisa langsung di bayar atau kalau tidak jadi berangkat ya tidak apa-apa. Nanti kita dikasih tenggat waktu booking, jika telah melewati waktu yang ditetapkan booking ticket akan dialihkan untuk orang lain. Untuk barang bawaan walau semalam sudah di cek, tidak ada salahnya di cek kembali barang yang akan di bawa pagi harinya (buktinya masih ada saja barang yang ketinggalan, kemarin saya kelupaan bawa matras, bahan makanan, dan ponco) Untung saja cuaca cerah terus. (~.^)v

- tiket pesawat : 569.000,-

09.30 WIB

Berangkat ke stasiun

Sebenarnya agak kepagian berangkat jam segini tapi karena di rumah juga tidak ada lagi yang harus dilakukan terpaksa berangkat lebih awal ke bandara. Saya pergi ke airport naik bus Damri dari Ps Minggu (bus Damri tersedia di setiap terminal utama dan terminal kelas 1, bayarannya tergantung sejauh mana jarak bandara dengan terminal asal).

- angkot ke stasiun : 2.500,-

- kereta AC ekonomi ke Depok - Ps Minggu : 5.500,-

11.40 WIB

Berangkat ke bandara

Karena ada teman yang belum sarapan, saya makan bakso dulu di Ps Minggu. Bus Damri berangkat tepat jam 11.40.

- bus Damri : 20.000,-

- makan bakso : 12.000,-

13.20 WIB

Sampai bandara internasional Soekarno-Hatta

Kebetulan ini kali pertama saya ke bandara setelah sekian lama…lama sekali…agak kagum juga apalagi setelah lihat terminal 3 yang lebih modern dan lebih ramah lingkungan (begitu kata iklannya). Saya sempat mencoba air keran yang bisa langsung diminum seperti yang ada di Eropa (andaikan di pusat kota Jakarta ada air keran seperti itu, Jakarta akan setara dengan kota-kota di Perancis). Saat sampai bandara masih terlalu dini untuk check-in jadi saya cari masjid kebetulan belum sholat dzuhur, dilanjutkan cari makan siang. Kemarin sih saya makan di AW soalnya restaurant yang lain kurang yahud…Sebenarnya saya mau makan di KFC tapi karena letaknya yang jauh di terminal 2 jadi agak males juga jalannya. Untuk penerbangan domestik letaknya di terminal 1 dan maskapai Lion terletak di gate A. lokasi ini bisa dilihat di lembar tiket.

- makan siang : 23.000,-

15.00 WIB

Check-in

Setelah tiket diperiksa, penimbangan bagasi dilakukan agar tidak melebihi batas yang ditetapkan yaitu 20 Kg. Tiap maskapai mempunyai batasan bagasi yang berbeda, oleh sebab itu pastikan sebelum berangkat carrier kita tidak lebih dari 20 Kg, kalau lewat bisa kena charge cukup mahal. Lalu bayar airport tax 40.000,- kemudian kita tinggal menunggu masuk kabin. Kalau dilihat-lihat lebih jauh lagi, rasa kagum saya akan bandara kebanggaan bangsa ini sepertinya agak memudar pasalnya bandara Soekarno-Hatta kalah keren dengan bandara yang biasa saya lihat di negara lain. Bisa dikatakan terminal-terminalnya kurang sentuhan modernisasi dan terlalu sederhana kecuali untuk terminal 3 malah saya sempat berpikir ini lebih mirip terminal bus hanya yang parkir bukan angkutan kota tapi pesawat,haha...LOL Mungkin agak sedikit membosankan menunggu, makanya saat memasuki waktu ashar saya sholat saja daripada bengong di ruang tunggu sekalian jeprat jepret cari objek yang bagus buat facebook,hoho…letak ruang sholat di underground di samping toilet. Perlu dicatat saat menuju ruang tunggu kita akan ditawari semacam ansuransi. JANGAN TERTIPU!! Kita tidak harus membelinya, itu cuma akal-akalan saja cukup bilang dengan sopan “no, thanks”.

- pajak bandara : 40.000,-

16.45 WIB

Masuk kabin pesawat

Inilah saatnya boarding! saya sempat kecele, yang saya lihat di tv penumpang yang akan masuk kabin bisa melewati garbarata (tahu betul apa salah tulisannya) tapi yang lewat situ ternyata hanya penumpang bisnis, semua penumpang ekonomi seperti saya diharuskan melewati jalan bawah (dah kayak TKW mau ke Malaysia gitu…!). Melihat pemandangan yang ajib di apron bandara, saya reflek mengambil kamera lalu jeprat-jepret sampai dimarahin teknisi karena semua sudah masuk pesawat kecuali saya sendiri,hehe…Disarankan sebelum terbang agar membeli makan dan minum (setidaknya cemilan).

Walaupun terhitung penerbangan singkat (Jakarta-Denpasar hanya 1 jam 20 menit) namun perut kadang susah diajak kompromi, bisa saja beli di pesawat tapi harganya agak mahal dengan pilihan snack yang terbatas pula. Ngiler juga lihat orang pada makan, daripada ga ada kerjaan saya sempat mengabadikan pemandangan indah dari atas pesawat dengan kamera SLR Canon (sayang ga bawa banyak lensa jadi ada beberapa hasil jepretan yang kurang bagus karena cuma pakai lensa standar). Setelah take-off kita masih sempat foto kota Jakarta di ketinggian, scene berikutnya yang bisa difoto hanya awan, awan, dan awan plus beberapa puncak gunung.

- tidak ada pengeluaran di dalam pesawat

18.10 WIB

Sampai di bandara internasional Ngurah Rai Bali

Saatnya memajukan jam menjadi 19.10 WITA (karena perbedaan waktu Denpasar lebih cepat 1 jam). Melihat kondisi bandara Ngurah Rai juga tidak ada bedanya dengan Soekarno-Hatta, malah bandara ini benar-benar sangat sederhana. Dalam imajinasi saya selama ini, sebagai pintu gerbang objek wisata kelas dunia pastinya Bali mempunyai bandara yang tidak kalah hebat dengan negara tetangga namun yang saya lihat sekarang, tidak mengesankan saya sudah sampai di Bali, i’m sorry. Mungkin saja terminal internasionalnya lebih bagus dari terminal domestik, itulah harapan saya.

Akan saya buktikan nanti saat backpacking ke luar negeri, apakah terminal internasionalnya lebih bagus atau sama dengan terminal domestik. Sebelum keluar bandara jangan lupa ambil bagasi (tapi kalau tidak bawa apa-apa jangan coba-coba ambil bagasi orang ya, karena ada pemeriksaan di pintu keluar,hehe…) sampai disini makan di KFC dulu. Walaupun sama-sama KFC harganya berbeda dengan KFC biasanya, maklum masih di dalam area bandara jadi harganya sedikit lebih mahal. Horee…kesampean juga makan di KFC coz dibanding restoran sejenis ayam goreng KFC tiada duanya (Lho...!? jadi promosi). Habis itu sholat lagi yuk…sudah masuk Isya jadi sholatnya di jamak dengan maghrib.

- makan malam : 20.000,-

- beli Aqua 1.5 liter untuk persiapan : 7.000,- (harga standar 3.000,-)

20.00 WITA

Mulai cari hotel

Actually saya ingin naik angkot bila perlu jalan kaki untuk cari hotel, tapi karena saat itu teman saya sudah kecapaian, kita memilih naik taksi (sekalian kita bisa minta tolong dicarikan hotel yang murah sama pak supir…) biasanya penginapan murah ala backpacker tersebar di jalan Popies I atau II yang rate per night nya bisa 40.000,- sampai 100.000,- I love it!!!. Karena kita bertiga, oleh pihak hotel dikenakan biaya 80.000,- dengan 1 kasur large. Harga tersebut sudah fix tapi kalau berani, coba saja nego harganya sebab penginapan tersebut bukan standard hotel bisa dibilang seperti kost-kostan di Jakarta jadi tidak ada salahnya nego harga yang terbaik (saya pernah coba nawar sih, tapi si Bli malah bilang “kalau tidak mau cari saja penginapan lain sana…” Oouch…that’s hurt sialan tuh si Bli,hehe…) .

- taksi ke jalan Popies II Kuta : 50.000,- (di Bali supir taksi seperti tukang dagang suka nembak harga, makanya jago-jago menawar kalau mau cari aman, pakai Blue Bird saja dengan argo tentunya,hehe…paling harganya tidak beda jauh)

21.30 WITA

Check-in hotel

Setelah dapat hotel, tidak buang waktu saya langsung mandi dan beres-beres barang bawaan. Sejak sampai penginapan, saya dengan teman sekamar langsung menetapkan wilayah jajahan masing-masing, termasuk lemari pakaian,haha…maklum kamar untuk 2 orang ditempati oleh 3 orang jadi agak sedikit maksa. Motelnya bisa dibilang sangat sederhana (memang apa yang mau di harapkan dengan uang 80.000,- tapi lumayan lah karena letaknya hanya 200m dari pantai Kuta) di kamar cuma ada 1 kasur large (sebenernya agak males juga tidur di kasur coz spreinya kurang bersih kayak ga pernah di cuci) dan 1 kamar mandi. Tempat paling keren, ya di balkon karena kita bisa lihat pemandangan seputar Kuta (kamar saya terletak di lantai 3).

Balkonnya di share dengan kamar sebelah (tetangga saya waktu itu orang Australia, dia menginap bersama 2 temannya. Namanya Lulu dia malah menawarkan pelajaran surfing gratis, how nice..!) ya masalahnya cuma satu, namanya juga orang barat kalau nyetel musik suka ga inget tetangga bahkan yang lebih gila saat saya sedang menikmati pemandangan balkon, kadang-kadang dia keluar kamar hanya dengan pakaian seadanya,halah…bikin salting aja waktu lihat dia keluar dengan pakaian seperti itu maklum kebiasaan saya di kampung kan kalau ga sholat ya ngaji (waaa...boong banget :p)

- bayar hotel hari pertama : 80.000,- (hitungan 1 harinya 12 PM to 12 AM)

22.00 WITA

Jalan-jalan malam ke Legian

Setelah semua rapi, kita sight seeing Legian. Luar biasa sekali suasananya, kita layaknya seperti di negara barat dengan bule-bule bertebaran bak kacang rebus. Banyak sekali café-café menawarkan live music, tidak peduli dengan letaknya yang berdekatan seringkali suara musik café satu dengan yang lain “bertabrakan”. Café satu mengalun musik pop sedangkan café sebelahnya menggeber musik rock sehingga suaranya menjadi tak karuan, tapi menurut saya yang di cari disini bukan mendengarkan musiknya tapi lebih kepada mencari keriuhan dan itu juga yang saya cari,hmm...Sampai disini ekspektasi saya tentang Bali sesuai dengan imajinasi di kepala: banyak bule, ramai, dan lux. Saya sempat foto-foto di monumen bom bali I karena letaknya hanya 100m dari penginapan. Setelah puas melihat apa yang seharusnya tidak boleh dilihat, upss…maksudnya keindahan malam Legian,hehe…Saya balik ke hotel (berhubung sudah capek dan besok mau ke Lombok).

- tidak ada pengeluaran, karena sudah makan malam di bandara.

2nd day

Jum’at, 10 Juli 2009


06.30 WITA

Telat bangun

Karena semalam tidur terlalu larut sampai telat bangun pagi. Langsung buru-buru mandi dan bersiap sarapan lalu siap-siap pergi ke Lombok (namun apa yang terjadi, teman-teman berniat tetap di Kuta terpaksa saya pergi ke Lombok sendirian). Jam sarapan kebanyakan penginapan mulai dari jam 8 pagi sampai jam 11 siang, menu sarapan pagi biasanya panekuk dan roti pisang (seperti yang ada di pinggir jalan di Jakarta) kita bisa milih salah satunya. Ada satu kejadian, saat ingin sarapan (kebetulan saya membawa carrier karena akan ke Lombok) si Bli seperti tidak percaya kalau saya tamu hotel, dia pikir saya hanya orang lewat untuk numpang sarapan pagi. Untung saja teman saya ikut menguatkan pernyataan saya, kalau saya benar-benar menginap disana. Lalu dia membuatkan saya sarapan dengan raut muka masih tidak percaya. Dasar lagi apes, termos air panasnya agak berat karena masih penuh jadi saat menuang air agak sedikit blecetan kemana-mana (bahasa indonesianya apa ya..?), komplit sudah penderitaan batin. Si Bli lagi-lagi ngedumel tak jelas, malas untuk meladeninya makanya saya langsung buru-buru kabur.

Awalnya gak kebayang pergi ke tempat antah berantah sendirian, maklum…biasa cuma pulang-pergi Jakarta-Depok tiap hari. Selain perjalanannya yang memakan waktu lama hampir setengah harian, suasana Lombok terhitung sepi. Kalau diibaratkan Kuta adalah Jakarta yang hingar bingar dan Lombok adalah Pulau Seribunya, yang penuh misteri. Saya pikir akan sayang sekali melewatkan keindahan pantai Senggigi, walaupun agak bimbang juga memutuskan jadi pergi atau tidak. Akhirnya saya putuskan untuk pergi, mengenai apa yang terjadi, saya pikirkan belakangan. Berhubung sudah menyewa motor tadi malam, agar lebih irit ongkos saya minta untuk diantar ke terminal Ubung, Denpasar.

- sewa motor : 50.000,- / hari (kalau sewa motor jangan lupa cek surat-surat dan kondisi kendaran, you know lah…gak mau kan, tiba-tiba motor mogok di jalan. Biasanya agak susah buat turis domestik menyewa motor dengan pertimbangan keamanan (bukan keamanan kita tapi keamanan motor), tapi karena banyak tempat serupa coba saja cek satu-satu siapa tahu dapat pemilik yang baik hati, buktinya saya diperbolehkan menyewa padahal di penginapan tempat saya stay, saya di sarankan mencari di tempat lain dengan alasan motor sudah tidak ada stok, bahasa kasarnya “ngapain gw pinjemin ke lo, lebih aman nyewain ke bule” maklum sering ada kasus, onderdil motor hilang saat mengembalikan.

08.30 WITA

Sampai di terminal Ubung

Selama perjalanan ke Ubung, perasaan saya semakin tidak karuan. Tapi tidak ada yang bisa saya lakukan lagi (gak mungkin kan, membatalkan rencana terus balik lagi ke hotel gara-gara takut pergi sendirian. Laki-laki macam apa tuh…!) jadi untuk saat ini agar gengsi terselamatkan, ya…meneruskan rencana awal dan banyak-banyak berdo’a saja. Sampai di Ubung, saya langsung dikerubungi para calo-calo (jadi serasa artis yang mau diminta tanda tanganya,hehe…). Kepanikan sudah tak terbendung, karena para calo tersebut semakin menjadi-jadi, ada yang menarik-narik tas, ada yang terus mencecar pertanyaan yang dia jawab sendiri “mau kemana mas…? Ke Lombok ya…ke Ubud ya…”, dan ada yang kalem-kalem menghanyutkan dengan pura-pura sebagai pahlawan penyelamat “sini mas saya bantu, mau ke Lombok ya…Cuma 185 ribu kok” gila mahal banget.

Saya lalu berinisiatif mencari petugas terminal untuk meminta keterangan lebih jelas bagaimana pergi ke pelabuhan Padang Bai, gerbang pertama menuju ke-eksotisan Lombok. Jangan KAGET, ternyata si petugas tak ubahnya calo, dia malah menyarankan bus dengan harga yang terlampau mahal. Jrengg…jrengg…pahlawan yang sebenarnya datang. Tiba-tiba, seorang bapak menghampiri “sini mas, ikut saya”. Untuk sementara saya lolos dari kejaran para calo. Dia lalu menawarkan ojek untuk pergi ke pelabuhan, memang sih dia juga menganggap saya sebagai objek bisnis tapi tawaran dia tak bisa dilewatkan. Dibandingkan 185ribu, biaya 60ribu yang dia berikan untuk tiket ke Padang Bai sepertinya lebih reasonable, jadi lah kita naik ojek ke pelabuhan. Dia menambahkan ”tadi tukang tipu semua mas, petugasnya juga dah dapet komisi dari calo” wah pernyataan si bapak malah bikin saya deg-deg an, masih di Bali saja hampir ditipu petugas bagaimana kalau terjadi apa-apa di Lombok, minta tolong sama siapa...bisa-bisa jadi objek bisnis petugas lagi.

- ojek ke pelabuhan Padang Bai : 60.000,-

- isi bensin motor sewaan : 10.000,- (ini mah ongkos-ongkos juga…huh dasar)


11.30 WITA

Sampai di pelabuhan Padang Bai

Sampai sini, tidak menyesal rasanya nekat untuk pergi ke Lombok. Sepanjang perjalanan ke pelabuhan pemandangannya sangat mengaggumkan. Walaupun agak sedikit pegel naik motor sambil bawa backpack, saya rasa sebanding lah dengan yang didapat. Perjalanan kesana lumayan agak jauh, kurang lebih seperti menempuh jarak Jakarta-Bogor. Sambil berkendara, dia menjelaskan objek-objek yang dilewati sepanjang jalan layaknya tour guide jempolan. Kemudian tiba lah saya di pelabuhan internasional Padang Bai,wahaha…(untuk yang terakhir saya bercanda, kenapa ya hanya bandara saja yang pake embel-embel “internasional” tidak ada stasiun internasional atau terminal internasional gitu,hehe…di Indonesia lho).

Saya lalu beli tiket fery dan langsung menuju geladak dengan ngos-ngosan, karena hampir ketinggalan fery (walaupun ada jadwal reguler, jarak berlabuh antar fery 1 sampai 1.5 jam jadi akan sangat membuang waktu kalau sampai tertinggal). POOM…POOM…terdengar suara bergaung (kalau di fery namanya klakson juga kali ya…) pokoknya setelah ada bunyi klakson 2 kali, harap segera menaiki deck, sebab sebentar lagi fery akan berlabuh. Saya memilih geladak di lantai 2, selain tempatnya perfect karena letaknya pas di depan, di situ juga banyak bangku kosong (umumnya para penumpang lebih memilih di ruang penumpang…pasalnya angin laut yang semilir bisa bikin masuk angin). The journey to Lombok is started

- tiket feri Padang Bai – Lembar : 31.000,-

13.00 WITA

Perjalanan ke Lembar

Lihat-lihat pemandangan…wow keren!!! Kita akan melewati pulau Nusa Penida yang terkenal dan pulau-pulau lain yang mengelilingi Lombok.

14.00 WITA

Masih dalam perjalanan ke Lembar

Penasaran mau keliling fery, sambil lihat bagian-bagian kapal (sebelumnya tas disimpan di deck penumpang. HP dan dompet dibawa!) sebenarnya laper juga mau makan tapi harga makananya terlalu mahal, lagian saya juga masih bisa tahan dan berniat makan di hotel saja.

15.00 WITA

Belum sampai juga…!?

Waaa….sampai kapan harus menunggu. Badan sudah tidak kuat lagi kena terpaan angin, tapi si bule-bule dari berangkat sampai sekarang masih tidak bergeming dari tempat (gila kuat banget…) saya saja yang pakai jaket dan kupluk sudah mau meriang, dia yang hanya pakai baju selapis tampaknya menikmati sekali. Saatnya cabut meninggalkan geladak dan beralih ke deck penumpang, terus tidur deh powerfull weapon for killing the time

16.00 WITA

Menit-menit fery bersandar di pelabuhan

Pulau Lombok sudah semakin dekat. Setelah menempuh sekitar 4 jam di laut, akhirnya sampai juga saya di pulau yang terkenal dengan Gili-gili nya. Langsung cari angkutan ke pantai Senggigi, karena sudah ada pengalaman di Denpasar untuk saat ini saya bertanya ke sesama penumpang fery bagaimana saya bisa ke Senggigi. It works! Saya disarankan menggunakan bemo, istilah untuk angkot di Lombok. Selain itu saya juga diberikan wejangan-wejangan oleh orang-orang se-isi bemo plus info mengenai tempat penginapan, letak ATM terdekat sampai mau dicarikan tiket pesawat untuk balik ke Denpasar.

Saya ingin sekali berterima kasih kepada mereka semua terutama sama Bli Yudi yang sudah mau repot-repot mencarikan taksi. Saya sarankan setiap bertemu warga setempat entah di dalam angkutan atau tempat makan, perbanyaklah komunikasi dengan mereka. Saya tahu bagi sebagian orang masih agak sungkan berbicara dengan orang yang belum dikenal, namun informasi-informasi yang akan kita dapatkan selama interaksi dengan mereka bak oasis di tengah gurun alias sangat berharga. Alasannya hanya mereka yang tidak terpengaruhi kutub-kutub kepentingan ekonomi bisnis jadi kita tidak menjadi barang perasan calo-calo. Bahkan semua informasi berharga itu bersifat gratisan, syukur-syukur kita diberi tumpangan menginap dan mendapat banyak kemudahan oleh mereka seperti yang dialami para 2 backpacker dalam buku yang saya baca. Jadi biasakan basa-basi sedikit, itu juga demi kepentingan kita kok, tidak ada ruginya.

Ingat! saat mengunjungi daerah wisata orang-orang akan memandang kita sebagi objek ekonomi mereka, seringkali para wisatawan dipermainkan supir taksi, tukang ojek, dan tukang dagang dengan memasang harga yang tidak masuk akal. Biasanya hanya penduduk lokal yang tahu harga cara meng-counter aksi mereka oleh sebab itu walaupun saya sudah punya the best guide book in the world yaitu Lonely Planet edisi Indonesia (buku hibah dari dosen perancis saya) saya juga masih mengandalkan penduduk setempat sebagai the best personal guide in the world karena selengkap-lengkapnya tuh buku yang paling mengetahui seluk beluk tempat itu ya penduduk lokal itu sendiri apalagi yang bikin Lonely Planet kan orang luar negeri (ibarat orang bilang, yang tau kampung gw ya gw sendiri lah)

Di Lombok jarang sekali taksi lalu-lalang, tidak seperti di Jakarta yang bisa dengan mudah menyetop taksi di pinggir jalan. Cara efektif mencari taksi ialah dengan menelpon kantor pusat taksi. Tanpa diminta, Bli Yudi menelpon call center agar kami segera di booking-kan taksi yang terdekat dengan lokasi. 10 menit kemudian taksi datang, saya meneruskan perjalanan ke Senggigi sedangkan Bli meneruskan ke Mataram. Good bye my pals

- ongkos bemo ke Mataram : 15.000,-

16.30 WITA

Sampai di penginapan

Sebelum sampai hotel saya minta diantar ke ATM dulu, sebab uang di dompet hanya ada 50.000,- ditambah sedikit uang ribuan padahal argo taksi sudah lebih dari 50 ribu. Selain itu saya juga ingin membeli makanan di supermarket, memang sih tempat itu menjual apa yang ada di supermaket pada umumnya, tapi menurut saya tempat itu lebih seperti warung yang menjual bermacam-macam barang. Lalu saya mencari hotel, untuk tugas yang satu ini saya serahkan ke pak supir. Lalu saya diantarkan ke hotel Ellen yang letaknya sangat strategis (200m dari ATM dan pantai).

Hari sudah semakin sore menjelang malam dan burung-burung sudah pulang ke sarang (huuu…lebay) ini tanda saya harus cepat-cepat check-in terus jalan-jalan ke pantai biar dapat sunset. Makanya saat petugas hotel menawarkan kamar double bed, saya meng-iyakan saja padahal saya cuma sendiri. Kalau dipikir-pikir sayang sekali harus membayar tempat tidur yang tidak kita pakai (mana gak sempat sarapan pagi lagi besok paginya karena saya harus check-out jam 04.30 pagi, benar-benar hanya untuk numpang tidur). Setelah menyelesaikan administrasi saya langsung jalan-jalan ke pantai Senggigi.

- ongkos taksi dari Mataram ke Sengigi : 55.000,-

- bayar hotel untuk 1 hari : 100.000,-

- beli makanan di supermarket : 21.000,-

17.00 WITA

Jalan-jalan ke Pantai Senggigi

Wuih...perjalanan ke Lombok kali ini bisa dibilang seperti adventure race saja (itu loh acara yang pernah di siarkan TransTV dimana masing-masing peserta harus berkeliling dari satu tempat ke tempat lain dengan waktu terbatas) tidak bisa saya bayangkan, bagaimana jadinya bila saya sampai Lombok malam hari, berarti jauh-jauh hanya untuk numpang tidur saja. Mungkin saya bisa ceritakan sedikit kenapa saya begitu tergesa-gesa liburan di Lombok. Begini ceritanya, saat masih dalam perjalanan di fery menuju Lombok saya mendapat pesan singkat dari teman yang stay di Kuta yang isinya ingin cepat-cepat pulang ke Jakarta karena mereka sudah bosan melihat pemandangan pantai yang itu-itu saja.

Kemudian saya sarankan kepada mereka untuk jalan-jalan ke sekeliling menggunakan motor, tapi mereka beralasan bahwa tidak tahu jalan dan malah menyalahkan saya karena menelantarkan mereka di Kuta dengan pergi ke Lombok sendirian (Lah kenapa kemarin diajak ga mau…). Itulah sebab musabab perjalanan saya di pulau seribu majid itu hanya bisa 1 hari, saya mempunyai beban moral sama teman-teman karena semua rute perjalanan, orientasi peta dan semacamnya hanya saya yang tahu. Maklum...sebenarnya semua program dalam perjalanan backpacking ini memang saya yang buat, mereka hanya tahu beres, tahu senang-senang, dan tahu gejrot (lho... !?) singkatnya mereka ibarat turis dan saya tour guide­-nya. Kita lanjutkan lagi perjalanan di Senggigi, saat sampai di pantai, matahari sudah mulai tenggelam tetapi saya masih bisa melihat dengan jelas pulau Dewata di kejauhan. Pantai Senggigi tidak terlalu ramai dengan wisatawan, banyak sekali perahu-perahu yang bersandar sehingga ruang untuk berjalan agak terbatas. Saya sempat beli oleh-oleh, lalu mencoba makanan yang dijajakan di pinggiran. Rupanya cara makan saya membuat salah satu bule ngiler, lalu dia bertanya kepada saya dimana membeli makanan itu. Kalau tidak salah dia berkata ‘where do you buy that ?’ kemudian saya menjawab dengan terbata-bata (dah kayak ngaji aja yak..hehe) ‘di warung, eh kiosk’ sambil mengunyah makanan yang masih ada di mulut. Jadi malu sendiri sama bahasa inggris yang saya miliki.

Entah mengapa otak saya mengalami kebuntuan menyusun kalimat dalam bahasa inggris jadi hanya 1 kata itu yang dapat saya katakan, yang sangat tidak mempresentasikan kemampuan orang yang sudah belajar hampir 12 tahun bahasa inggris,huhu…malu. Hanya bisa mengucapkan 1 kata bukan 1 kalimat, one word : damn.

- beli souvenir : 15.000,- (kalau bisa ditawar semurah-murahnya, sambil kita bercanda biar yang jual ga marah dan kita bisa dapat harga yang pas)

- beli nasi bungkus : 5.000,- (kalau tidak salah harganya segitu, isinya nasi pakai ikan dicampur mie ga jelas)

18.00 WITA

Beli souvenir di pasar seni

suasana di pantai saat itu sudah agak gelap, hanya beberapa lampu dari hotel yang lumayan menerangi jalan. Menyadari sudah tidak ada lagi yang bisa saya lakukan di pantai, saya melanjutkan jalan-jalan tapi kali ini tanpa tujuan. Saya sempat mengobrol dengan supir taksi tadi mengenai letak pasar seni yang tidak terlalu jauh dari hotel tempat saya menginap, lalu saya iseng-iseng saja kesana walaupun pasar seni biasanya sudah tutup menjelang malam.

Nothing to loose lah lagipula sekarang saya juga tidak ada kerjaan, saya mengharapkan siapa tahu masih ada beberapa pedagang yang masih buka. Dan benar saja, setelah sampai di pasar seni, sebagian pedagang masih menyempatkan barang dagangannya dilihat oleh saya. Rata-rata souvenir yang dijual berupa gelang, kalung, gantungan kunci dan patung kayu. Saya sempat membeli souvenir untuk teman-teman kampus setelah itu saya berniat kembali ke hotel. Jalan di lombok masih minim penerangan jadi saya harus rela gelap-gelapan jalan sendirian. Yang saya khawatirkan hanya mobil yang melaju cepat di jalanan karena jalan sangat gelap saya takut tertabrak, oleh sebab itu sengaja saya ambil jarak beberapa meter dari jalan. Beberapa menit berjalan, saya tiba di supermarket dimana saya membeli barang tadi sore. Kebetulan saya juga ingin mengambil uang di ATM takut persediaan di dompet menipis karena saya akan naik taksi dari hotel ke pelabuhan besok.

- beli souvenir : 40.000,-

19.00 WITA

Pertemuan dengan teman dari negeri Napoleon

Lingkungan yang cenderung gelap dan sepi tidak membuat saya bersemangat menghabiskan waktu di jalan. Saya memilih kembali ke hotel untuk istirahat, namun tidak disangka-sangka ketika saya hendak pergi tiba-tiba saya berpapasan kembali dengan bule yang tadi sore menegur saya di pantai. Sebenarnya saya termasuk individu introvert yang kurang suka berkomunikasi dengan orang, apalagi saya yang memulai percakapan terlebih dahulu. Tetapi untuk kasus seperti ini, bisa dianggap sebagai pengecualian karena setidaknya kita sempat bertegur sapa tadi sore. Antara jadi menegur dan tidak, awalnya saya hanya menunggu dia yang memulai percakapan. Setelah beberapa saat, dia tidak ada reaksi seakan memori otaknya telah terhapus padahal kita baru saja bertemu beberapa jam lalu dan dia sudah tidak ingat apa-apa. Saya pikir, ah sudahlah lagipula tidak ada ruginya bagi saya dan dia bila tidak tegur sapa kembali.

Tiba-tiba entah mengapa kita beradu pandang, mungkin akan sangat amat aneh bila kita hanya diam mematung satu sama lain tanpa ada kata yang terucap, mau tidak mau saya yang menegur dan memulai percakapan. Hal yang membuat saya enggan menegur dia, bukan karena sombong namun lebih kepada saya tidak ingin kejadian sore tadi terulang lagi saat saya dengan sulitnya mencari kata demi kata dalam bahasa inggris,hehe…untuk kali ini saya agak sedikit nekat, tanpa berpikir apakah susunan tata bahasa saya sudah benar atau tidak lalu saya berkata “You have eaten that thing ?” (maksudnya nasi yang dicampur mie ga jelas tadi) untungnya dia mengerti bahasa inggris saya yang pas-pas an dan kemudian menjelaskan kalau dia tidak jadi makan nasi itu tapi lebih memilih untuk mencoba sate. Fiuh...walaupun agak kikuk pada awalnya untuk selanjutnya percakapan kita berjalan lebih santai.

Saya mulai menanyakan nama, profesi dan asalnya seperti pak RT yang baru kedatangan warga baru pindah saja, karena hanya itulah kosakata bahasa inggris yang saya hafal karena sering dipraktekan saat di sekolah menengah. Waktu dia mengatakan ‘I am from Marseille’, saya agak kaget bercampur senang lalu saya bilang ke dia ‘tu peux parler français ?’ yang artinya kira-kira ‘apakah dia mau berbicara menggunakan bahasa prancis ?’ tidak sampai 1 detik dia menjawab ‘oui, bien sur’ (ya, tentu saja) berarti otak saya tidak perlu bersusah payah lagi menemukan kata dalam bahasa inggris,huehue...

19.45 WITA

Teman seperjalanan

Sambil berjalan menuju hotel saya terus berbincang-bincang dengan teman baru saya itu, mulai dari hal sepele sampai obrolan yang agak serius seperti bagaimana kondisi politik di Perancis saat ini. Tidak beberapa lama berjalan saya sudah tiba di depan hotel, sebenarnya saya masih ingin sekali mengobrol oleh sebab itu saya mulai basa-basi menanyakan apa yang akan dia lakukan malam ini. Dia mengatakan kalau ibunya mau datang ke Indonesia dan dia perlu mencari warnet untuk mengirim e-mail, maklum ibunya tidak bisa bahasa inggris apalagi bahasa indonesia jadi penting sekali dia memberikan petunjuk mulai dari kedatangan di bandara Jakarta sampai tiba di Lombok.

Namun dia mengeluhkan mengenai harga warnet yang terlampau mahal, benar saja saat saya tanyakan berapa harga per jamnya, saya sangat terkejut mendengar harga 1 jam internet di Lombok Rp 18.000,- that’s crazy...itu masih belum seberapa, setelah iseng-iseng baca daftar harga, ternyata untuk nge-print 1 lembar Rp 3.000,- mungkin kalau saya kuliah di sana, baru 1 semester sudah keluar karena tidak sanggup mengatasi persoalan biaya,haha…bayangkan dalam 1 semester saya harus buat tugas makalah yang tebalnya bisa sampai 100 lembar, bisa bangkrut tuh…

20.15 WITA

Dimana kebaikan berbuah kebaikan

Merasa kasihan melihat dia tidak bisa menemukan warnet yang murah karena di daerah tersebut pemilik warnet sudah sepakat mematok tarif Rp 18.000,-/ jam. Sebagai tuan rumah yang baik kepada warga asing saya berinisiatif untuk bernegosiasi dengan ‘bos’ pemilik warnet. Perdebatan sengit tidak bisa terelakan lagi, bisa dibilang adu mulut saat itu merupakan yang terbesar saat saya tiba di Lombok. Tapi akhirnya saya menyadari kalau pertempuran “adu bacot” ini tidak bisa saya menangkan jika saya dan dia terus melakukan serang menyerang. Dengan sedikit tipu muslihat, saya sengaja mengaku kalah dan menyadari posisi dia yang sudah menyepakati penetapan tarif warnet di wilayah itu. Tapi diam-diam saya menyerang balik dengan mengatakan, bagaimana dengan kondisi orang-orang yang membutuhkan layanan warnet namun memiliki kesulitan keuangan alias kere. Sejenak dia mulai merenungkan kata-kata saya, akhirnya kesepakatan win-win solution tercapai.

Saya bisa memakai internet dengan harga setengahnya, dengan syarat saya tidak membocorkan kesepakatan ini (sebenarnya harga tersebut masih mahal jika dibandingkan dengan harga internet di Depok yang cuma Rp 3.000,-/ jam tapi lumayan lah). Anne lalu berterima kasih karena telah merasa dibantu dicarikan warnet murah, tidak diduga dia membelikan saya es krim. Bisa dibayangkan makan es krim dengan ditemani cewe prancis yang cantik di Lombok pula, tempat eksotis dimana jika Bali disebut pulau dewata, Lombok adalah lukisan alam para dewa. 1 kata untuk melukiskan keadaan malam itu perfect

- warnet : 3.000,- karena hanya pakai 30 menit


3rd day

Sabtu, 11 Juli 2009

04.00 WITA

Kembali ke Bali

Berakhir sudah petualangan saya di Lombok selama sehari. Saya sengaja bangun pagi-pagi buta agar bisa tiba di Bali siang hari. Di saat orang-orang masih terlelap saya mandi dan siap-siap berangkat, sebelumnya saya minta air panas di dapur hotel untuk makan pop mie yang saya beli kemarin. Sebenarnya saya punya hak untuk dapat sarapan pagi tapi karena waktu yang terbatas, sepertinya saya harus rela hanya sarapan dengan mie. Beruntung sekali kemarin saya sempat mencatat call center Blue Bird, tanpa pikir panjang saya langsung minta di booking kan taksi ke pelabuhan.

Entah kenapa selama liburan saya jadi seperti orang yang kebanyakan duit padahal kalau di kampus iritnya setengah modar, sampai kadang-kadang rela-relain naik kereta tapi saat ini saya begitu mudahnya buang duit untuk nginep di hotel dan berpergian kemana-mana dengan taksi. 5 menit kemudian taksi datang, dengan sopan pak supir memasukan tas ransel saya ke bagasi dan menanyakan tujuan saya (wuih kalau teman-teman saya melihat bagaimana liburan saya di Lombok pasti mereka iri, karena saya seperti turis saja padahal rencana awal liburan adalah sebagai backpacker kenapa bisa salah kostum begini ya...)

- taksi : 100.000,-

- bayar parkir : 2.000,-

06.30 WITA

Ya ampun naik feri lagi... !!!

Saya sampai di pelabuhan sebelum jam 7, oleh sebab itu saya sempat berlayar menggunakan feri yang berangkat pagi. Untuk sisanya tidak perlu diceritakan lagi bagaimana bosannya berlayar menyebrang selat lombok selama 4 jam yang katanya mempunyai kedalaman ratusan meter coba bandingkan dengan menyebrang selat bali yang memakan waktu 20 menit dan hanya mempunyai kedalaman belasan meter...it’s so different.

- tiket feri Lembar-Padang Bai : 31.000,-

11.00 WITA

Bali i’m coming again!

Seharusnya saya bisa tiba lebih cepat, alasanya selain menggunakan feri yang lebih besar dan modern dari yang kemarin, waktu tunggu di pelabuhan Lembar relatif singkat. Tapi apa daya, walaupun feri yang saya tumpangi sudah cukup ngebut, semuanya sia-sia dikarenakan di pelabuhan Padang Bai hanya mempunyai 1 tempat bersandar jadi saya harus menunggu feri yang berangkat dulu baru bisa bersandar. Setelah bersandar di pelabuhan saya langsung cari angkutan menuju terminal Ubung, Denpasar. Saya dihadapi 2 pilihan : menggunakan ojek motor atau menggunakan bemo, kali ini saya memilih bemo.

- ongkos bemo : 40.000,-

13.30 WITA

Sampai di terminal Ubung, Denpasar.

Tampaknya ojek lebih cepat daripada bemo, tapi kalau merasa kondisi badan kurang enak ditambah harus bawa carrier, lebih baik menggunakan angkutan roda empat selain bisa istirahat, kita juga bisa lebih nyaman melihat pemandangan selama perjalanan. Mencari tempat makan di Bali harus ekstra teliti karena tidak semua tempat makan menyajikan makanan halal. Salah satu cara mencari tempat makan halal biasanya bisa kita lihat dari menu yang disajikan, selama ini saya selalu makan di rumah makan jawa dan sangat menghindari masakan oriental terutama jika di rumah makan itu banyak ornamen cina. Setelah makan saya minta teman menjemput di terminal Ubung.

- makan siang : 8.000,-

14.30 WITA

Persiapan ke Pura Uluwatu, Pantai Padang-padang.

Benar saja dugaan saya, sampai di penginapan di Kuta teman-teman sudah tidak sabar pergi jalan-jalan padahal saya baru sampai dan baru saja menempuh perjalanan berjam-jam untuk sampai Kuta. Terpaksa walaupun badan masih cape, saya menuruti keinginan mereka, karena waktu sudah menjelang sore akan lebih baik mengunjungi Pura Uluwatu. Alasanya sederhana saja selain perjalanan kesana hanya 45 menit, di sekitarnya juga banyak objek wisata seperti pantai Padang-padang, pantai Dreamland bahkan kalau mau bisa mampir dulu ke Monumen Garuda Wisnu Kencana yang rencananya kalau jadi akan menjadi monumen tertinggi di Asia bahkan dunia dan mengalahkan tinggi patung Liberty di Amerika.

- tiket masuk Pura Uluwatu : 7.500,- (kalau tidak salah)

Sebenarnya saya masih punya liburan beberapa hari lagi di Bali tapi karena takut yang baca ngantuk karena terlalu banyak yang ditulis, saya sudahi jurnal backpacking saya yang kemarin. Untuk sekedar informasi, hari berikutnya saya mengunjungi Tanah Lot, sebuah pura yang masih berdiri kokoh walaupun selalu dihantam ombak samudera Hindia. Untuk mengurangi kerusakan yang diakibatkan deburan ombak pemerintah Indonesia dan pemerintah Jepang sepakat untuk mendanai perbaikan situs budaya ini.

Saya pulang ke Jakarta setelah menghabiskan 5 hari liburan di Bali-Lombok. Untuk moda transportasi kita punya banyak pilihan selain pesawat, kebetulan saya memilih by train. Rencana pulang kemarin terlalu mendadak, karena saya kehabisan tiket pesawat yang murah padahal teman-teman lusa sudah ada yang masuk kerja. Setelah dapat info di internet tiket sudah habis (sekitar jam 23.00 WITA) otomatis, mau tidak-mau saya harus pulang malam itu juga kalau mau sempat masuk kerja lusa hari. tanpa pikir panjang kita langsung cari taksi ke Terminal Ubung.

Saya sampai terminal jam 24.40 WITA itu adalah waktu terburuk untuk pulang ke Jakarta. Bukan apa-apa, alasanya selain sedang ngantuk-ngantuknya, tidak ada transportasi satu pun untuk ke Surabaya. Hampir saja menginap di Terminal, setelah tanya "kanan-kiri" ternyata ada bus dari Mataram tujuan Surabaya akan singgah dahulu di Ubung. Lagi-lagi tanpa pikir panjang saya berusaha dapat tiket bus tersebut sebagai penumpang tambahan. Harga tiket bus eksekutif Rp 145.000/ orang. walaupun ada embel-embel "eksekutif" kualitas bus tidak lebih bagus dari bus P.84 Depok-P.Gadung,hehe...saya sempat berhenti di salah satu kota di Jawa Timur (lupa namanya) untuk makan siang (free, sudah termasuk fasilitas bus). tempatnya lumayan bagus karena terletak langsung menghadap pantai. Saya tiba di Surabaya siang hari, dan malangnya tiket kereta juga sudah habis sampai 2 hari ke depan, terpaksa beli tiket di calo. (gila aja nunggu sampe 2 hari di stasiun)

Semua yang saya alami mudah-mudahan bisa jadi informasi buat teman-teman yang ingin backpacking atau liburan ke Bali. Sebetulnya kemarin lebih tepat sebagai liburan jadi buat yang mau backpacking bawa uang 2 juta sudah terlalu cukup bahkan terlalu mewah buat seorang backpacker, sedangkan untuk yang liburan saya rasa dengan 2 juta tidak terlalu menderita karena duit segitu masih bisa pergi naik pesawat, naik taksi, makan junk food (oops...maksudnya fast food) beli souvenir, ya pokoknya cukup lah.

Itulah akhir liburan saya di Bali yang juga merupakan awal bagi saya untuk melanjutkan program backpacking ke luar negeri. Untuk selanjutnya saya berencana ke Singapura-Malaysia-Thailand. Lagi-lagi saya dihadapi masalah klise yaitu BUDGET tapi setelah apa yang sudah saya lakukan, saya optimis bisa melakukan hal yang sama. Dari semula saya berpikir mengumpulkan uang 2 juta adalah pekerjaan sulit. Namun saat kita jalani semuanya akan lebih mudah karena kita tidak tahu keberuntungan apa yang menanti kita. Saya menyadari banyak dari teman-teman yang mempunyai keinginan dan minat yang sama mengenai backpacking. Mungkin suatu saat kita bisa bersama-sama menjelajahi Eropa, tempat yang masih menjadi impian bagi kita semua,hehe...saya mengharapkan sharing informasi bagi para backpacker lainya khususnya bagi yang sudah pernah ke Singapura, Malaysia dan Thailand mungkin bisa membantu memberikan informasi buat saya. Untuk yang ingin bertanya lebih detail mengenai Backapacking Bali-Lombok bisa menghubungi saya lewat e-mail KnightElf11@yahoo.com

Terima Kasih