Selasa, 14 Agustus 2012

 Backpacking Part 5 (Thailand)


Menghirup udara negara asing pertama, Thailand!

Ini merupakan perjalanan pertama saya ke luar negeri. Ada perasaan takut, cemas, khawatir, sekaligus exciting tentunya. Perasaan itu muncul karena sebagai my first going abroad, saya harus berangkat seorang diri tanpa ditemani teman. Kekhawatiran terbesar saya adalah apa jadinya bila seandainya saya kehabisan uang di sana (lagi-lagi persoalan klasik,haha...). Oleh sebab itu, saya betul-betul telah mempersiapkan dengan sangat matang itinerary sebelum keberangkatan. Hampir setiap buku di Gramedia yang bertemakan perjalanan Asia Tenggara saya baca habis mulai dari rincian biaya perjalanan sampai skenario rute perjalanan yang ditempuh. Dalam perjalanan kali ini saya memesan tiket promo untuk 1 semester ke depan, jadi saya tidak membuang waktu 6 bulan itu untuk segera mempersiapkan segala sesuatunya mulai dari perlengkapan di perjalanan, belajar bahasa Thailand dasar, dan mempelajari peta.

Ketika itu tiket promo CGK-BKK seharga Rp 300.000,-. Lumayan murah, kan! Dalam backpacking kali ini saya berencana melahap rute Bangkok-Nakhon Sithammarat-Phuket-Hatyai-Kuala Lumpur-Singapura. Ini merupakan rute yang paling efektif, sebab walau saat itu tiket promo Jakarta - Kuala Lumpur Rp 0,- tetapi bila mau pergi ke Thailand saya jadi harus bolak-balik. Dan saat dihitung-hitung biayanya akan lebih besar dibandingkan jika saya mulai dari Bangkok dan terus meyusuri semenanjung malaya. Untuk tiket pulang SIN-CGK, saya mendapat tiket seharga Rp 500.000,-. Loh, kok lebih mahal? Karena tiket promo yang termurah berlaku untuk penerbangan dari negara asal, bukan dari luar negeri ke Indonesia. Mungkin kalau mau lebih murah bisa dari Kuala Lumpur, sebab Kuala Lumpur adalah pusat (hub) dari maskapai penerbangan Air Asia.

Setelah melakukan hitungan kasar saya perlu menyiapkan dana minimal 15 juta untuk hidup selama satu bulan di 3 negara. Sumber dana perjalanan kali ini berasal dari part-time job. Saya sengaja melebihkan beberapa pos keuangan seperti untuk makan, penginapan, dan transportasi supaya perjalanan kali ini tidak over budget. Tidak disangka ternyata damage cost untuk keliling Thailand, Malaysia, dan Singapura hanya habis sekitar 8 juta saja. Itu termasuk perjalanan ke Ayutthaya (situs UNESCO), ke pulau Phi-phi (tempat shooting film the beach), berkunjung ke sky bridge menara kembar Petronas, ke Petronas Science Center, ke Universal Studio, naik Luge & Ride di Sentosa, pokoknya masih banyak lagi. Bisa dikatakan saya tidak membatasi diri saya untuk naik ini itu, makan ini itu, atau pergi ke sini ke situ, semua dilakukan mengalir saja. Apabila mau full backpacking saya kira pengeluaran akan jatuh di angka 4-5 juta saja, bahkan bisa kurang kalau mau membawa nasi bungkus dari Indonesia,hehe...

skip... skip... skip... Besok adalah hari dimana petualangan saya akan dimulai. Saya sudah bosan menghirup polusi Jakarta yang menyesakkan dada dan ingin cepat-cepat bertemu orang-orang baru, dan menikmati sensasi kesendirian di negara lain. Pesawat yang akan membawa saya ke Bangkok berangkat sore hari, tapi karena hari itu hari jum’at saya harus berangkat pagi agar bisa sholat jum’at di bandara. Kebetulan, saya ditemani oleh Farhandi teman kuliah saya. Saya banyak bertanya kepada dia tentang prosedur imigrasi bandara, karena kebetulan dia sudah pernah ke Perancis. Wah, jadi deg-degan sendiri ketika tahu informasi pesawat sudah ada di display. Berarti petualangan sebentar lagi akan dimulai. Ini pengalaman pertama saya berurusan dengan bagian imigrasi, baik imigrasi Indonesia maupun imigrasi Thailand. Dari informasi yang saya tahu, biasanya petugas imigrasi akan banyak “menginterogasi” pendatang yang baru pertama kali berkunjung ke negaranya. Jadi saya agak sedikit gugup kira-kira apa saja ya, yang akan mereka tanyakan nanti. Eh... sepertinya saya sudah harus check-in, kemudian saya berpisah dengan Farhandi dan mengucapkan terima kasih karena sudah repot-repot mau mengantar.

Pemeriksaan imigrasi Thailand.

Untuk yang akan pergi pertama kali ke luar negeri seorang diri, saya akan menceritakan sedikit gambaran prosedur imigrasinya. Saya kira tidak ada masalah untuk yang pergi berkelompok. Saat memasuki gerbang keberangkatan kita akan diminta menunjukkan passport dan tiket pesawat, karena memang hanya penumpang saja yang dibolehkan masuk. Kemudian carilah counter maskapai penerbangan untuk check-in dan drop bagasi. Di counter kita akan diminta membayar pajak bandara sebesar Rp 150.000,-. Setelah check-in, saatnya ke bagian imigrasi. Ketika akan ke bagian imigrasi tak disangka roda troli saya berhenti. Saya pikir pasti rodanya macet, tapi walau sudah berusaha mendorong sekuat tenaga rodanya tidak mau bergerak juga. Sumpah... saya tiba-tiba merasa jadi orang terbodoh di dunia saat “tidak sengaja” membaca tulisan “batas akhir troli”. Bah, canggih juga, nih, bandara. Ternyata roda troli dilengkapi semacam alat dan apabila melewati sensor akan macet dengan sendirinya. Weh... weh... weh... terpaksa saya geret lagi troli keluar dari zona dilarang troli. Kemudian saya mulai membawa barang bawaan ke bagian imigrasi. Di bagian imigrasi terbagi menjadi beberapa antrian: antrian untuk orang asing, orang indonesia, dan untuk TKI. Yang membuat miris sepertinya petugas yang melayani para TKI sangat tidak ramah, sebentar-sebentar memaki “bisa baca nggak, sih”, “pernah sekolah nggak, sih”. Memang para TKI terkadang suka keluar dari barisan antrian, tapi sikap petugas kayaknya agak berlebihan alias lebay. Saya yakin kalau dia cuma sekolah sampai SMP kelakuannya juga kayak gitu. Lolos dari imigrasi saya langsung ke gate keberangkatan. Tadi saya tidak ditanya apa-apa cuma diminta menunjukkan tiket dan passport saja. Kalau dicermati prosedur imigrasi tidak terlalu rumit hanya perlu teliti membaca setiap informasi yang ada di tiket dan mengisi lembar imigrasi yang diberikan (saat di pesawat).

Yipee... pesawat sudah mendarat di Bangkok. Bandara Suvarnabhumi sangat megah, saya tidak mau kejadian di bandara Soekarno-Hatta terulang lagi. Makanya saya dengan teliti membaca setiap papan informasi. Wah, sepertinya harus sholat dulu, nih, karena tadi belum sempat sholat maghrib. Saya lalu bertanya ke petugas informasi mengenai tempat sholat, sekalian praktek pakai bahasa thai, hehe... “hong lamard, yuthinai?” petugas yang cantik itu agak bingung dengan perkataan saya. Lalu saya bilang lagi “hong lamaar”, “hong laaamard”, “hong laaamaaard” dengan berbagai aksen. Dia masih bingung juga, yauda lah pakai bahasa inggris saja “where is praying room?”, dia pun akhirnya mengerti “aah, playing loom” “in the midew”. Sumpah... bahasa inggrisnya aneh banget, campur bahasa thai, gitu. Sekarang jadi saya yang bingung, tapi dengan sigap dia menunjukkan peta bandara. “oh, in the middle” saya menegaskan lagi. Dia bilang “yes”. Selesai sholat, saya cari makanan. Aje gile, mentang-mentang di “Bangkok” porsi opor ayamnya kenapa jadi gede banget, dikasih makan apa ayamnya bisa sebesar itu.

Bandara Suvarnabhumi yang megah.

Saat itu sudah pukul 10.00 waktu Bangkok. Karena cita-cita mau jadi backpacker sejati, saya mau merasakan seperti apa tidur di bandara. Hal yang paling tidak enak kalau pergi sendiri, tuh, bingung kalau lagi berada di tempat yang baru. Jadinya saya celingak-celinguk nggak jelas untuk mencari tempat tidur. Saya sebenarnya takut diusir security, tapi setelah membaca display informasi ternyata di bandara Suvarnabhumi penerbangannya 24 jam. Dengan begitu, saya pikir bila beralih ke gerbang keberangkatan saya dapat pura-pura menyamar jadi penumpang yang mau berangkat tengah malam nanti,hoho...

Tiba-tiba alarm berbunyi, ternyata sudah jam 5 pagi. Sejauh mata memandang ternyata banyak juga bule-bule yang numpang tidur. Malah, sebagian besar dari mereka memang niat tidur di bandara dengan membawa kantung tidur. Tidurnya juga tidak malu-malu dengan “menjajah” empat bangku sekaligus untuk selonjoran. Ealaaah... kalau tahu begini, saya juga tidak bakal sungkan untuk mengikuti jejak mereka. Soalnya cara tidur saya sangat “elegan” (duduk biasa dengan menutup wajah dengan topi). Hasilnya tidur tidak nyenyak dan pagi harinya punggung pegal sekali. Saya lalu kembali ke praying room untuk sholat shubuh. Oh, iya... ini pertama kalinya saya sholat berjamaah dengan orang asing, tapi tidak akan menjadi masalah besar karena bacaannya sama saja. Saya bangga jadi seorang muslim karena mau di Indonesia, di Thailand, di Malaysia, di Singapura, atau di Zimbabwe sekalipun bacaan sholatnya sama.

Kota Bangkok adalah kota yang cantik. Sistem transportasinya sudah sangat maju sekali, mungkin 10 tahun di depan Indonesia. Alat transportasi yang hanya baru jadi wacana di Jakarta semuanya ada: kereta layang, kereta bawah tanah, angkutan sungai, dan bis yang semuanya terintregasi satu sama lain. Jalan-jalannya sangat lebar dan tidak terlalu banyak mobil yang berseliweran biasanya mobil mewah sehingga kota Bangkok terkesan sangat metropolitan. Kalau di Jakarta mobil mewahnya pasti kebanyakan di garasi karena takut kebaret sama bajaj,haha... Di kota ini saya menghabiskan waktu satu minggu lamanya. Awalnya saya pikir itu terlalu singkat untuk berkeliling kota Bangkok yang luas, ternyata saya salah. Hanya dalam tiga hari saya sudah hampir mengunjungi semuanya, bahkan saya sempat mengunjungi Ayutthaya. Alhasil, sisa waktu tiga hari saya habiskan untuk menjelajah kota Bangkok tapi kali ini lebih mblusuk-mblusuk lagi. Yang cukup berkesan, ketika saya naik transportasi sungai di Bangkok. Saat itu saya agak bosan untuk langsung pulang ke penginapan, jadi saya jalan tak karuan tanpa arah. Tiba-tiba di depan ada banyak sekali orang kantoran yang menuju sungai, saya pikir ada orang yang tercebur di sungai. Eh, ternyata tidak ada apa-apa. Orang-orang itu terus menyusuri jalan-jalan sempit di tepi sungai. Karena penasaran, saya ikuti saja mereka. Tidak beberapa lama, terlihat banyak perahu ditambatkan. Wow... ada terminal rahasia rupanya. Orang-orang tanpa diperintah langsung naik ke perahu, saya sendiri dengan bodohnya ikut-ikut saja. Padahal saya tidak tahu akan kemana perahu ini membawa saya. Ah, nyasar di Bangkok masih lebih seru ketimbang tidur di penginapan, kan! 
 
Salah satu transportasi di Bangkok yang harus dicoba.

Setelah perahu cukup penuh, perahu berjalan dengan kecepatan penuh di sungai yang tidak jauh beda dengan kali ciliwung. Ya, bau kali di Bangkok sama busuknya dengan di Indonesia tapi tidak ada sampah. Hebat, ya! Saya berdiri di pinggir karena tempat duduk sudah penuh, lalu ada orang kantoran yang bilang sesuatu ke saya “tang... tung... tang... tung...~#$^*%” begitulah kira-kira bunyinya,hehe... Mungkin dia baru sadar saya bukan orang Thai, jadi dia bilang hal yang sama ke orang di samping saya. Oh, ternyata tadi dia menyuruh saya agar menurunkan tirai plastiknya. Hmm... kemudian saya tahu fungsi tirai itu agar penumpang tidak kena cipratan air sungai ketika ada perahu yang berpapasan. Untung sudah diturunkan, karena percikannya seperti kita sedang nonton pertunjukan world of water di Universal,hehe...

Sudah sekian banyak mal yang saya kunjungi, mulai dari Siam Paragon yang semewah Plaza Indonesia sampai MBK yang tidak jauh beda dengan ITC. Rasa bosan pergi sendiri mulai melanda. Ada terlalu banyak waktu luang yang harus saya habiskan, oleh karena itu saya memutuskan untuk nonton bioskop saja. Bioskop di Bangkok terbilang cukup mahal, kalau dirupiahkan mungkin sekitar Rp 45 ribu-an. Tapi memang, tempatnya bagus sekali. Untuk mengecek jam pemutaran saja, kita cukup berdiri di depan poster film yang ingin ditonton dan seketika munculah jadwal pemutaran, it’s so cool... Kalau di Mal yang besar lebih hebat lagi. Selain ada studio 2D dan 3D, ada juga studio 4D, wow... mantap! harga tiket 4D sekitar Rp 200 ribu-an. Yang lucu, waktu masuk studio tiba-tiba saja semua orang berdiri. Loh, ada apa ini... tak lama berselang sebuah lagu diperdendangkan. ealaaah, ternyata itu penghormatan untuk raja. Sebenarnya saya mau duduk saja, tapi orang amerika di samping saya bilang “better you get up”. Yasudahlah kita berdiri rame-rame, hihihi... Tak hanya di bioskop saja loh, lagu kenegaraan juga diperdengarkan di terminal atau stasiun pada jam-jam tertentu. Sekali lagi semua orang harus menghentikan kegiatan dan mendengarkan lagu sampai habis. Wuih, nasionalisme orang Thai tinggi juga, ya.

Dari Bangkok tujuan selanjutnya adalah Nakhon Sithammarat. Saya ingin bertemu teman di sana. Tiket ke Nakhon dapat dibeli di stasiun Hua Lamphong. Mudah, kok, pesan tiket keretanya. Kalau kesulitan ada bagian informasi yang bisa berbahasa inggris. Untuk menghemat saya memesan tiket kelas ekonomi seharga Rp 50 ribu-an untuk jarak Jakarta-Jogjakarta. Kereta Indonesia masih lebih bagus dari kereta Thailand, kita patut berbangga fasilitas kereta argo milik kita jauh lebih mewah dari kelas eksekutif di sana sekalipun. Mantap!!! Hal unik kereta di Thailand ada semacam tempat duduk khusus biksu dan orang tua. Karena tidak mau tertinggal kereta, lalu saya datang lebih awal. Saya sempat bertemu orang Medan dan sedikit bercakap-cakap sampai kereta saya datang pukul 17.00. Duh, apes... ternyata tiket yang saya beli tanpa nomor kursi. Jadi saya tidak kebagian tempat duduk. Wah, bakal nelangsa, nih kalau diri sampai Nakhon. Untung ada orang yang bilang ke saya “tang... tung... tang... tung... *&#$)#” begitulah kira-kira bunyinya,haha... tapi saya mengerti, mungkin dia mau bilang, “ngapain lu diri di situ, sebelah sono masih banyak yang kosong, noh!”.

Dari Nakhon saya naik bis doble decker ke Phuket harga tiketnya sekitar Rp 150 ribu-an. Perjalanannya cukup jauh kurang lebih 6-7 jam. Jadi selama di bis kerjaan saya cuma tidur lagi... bangun lagi... tidur lagi... bangun lagi... #gaya mbah Surip. Di Phuket saya menginap di hotel tempat syuting the beach Leonardo Di Caprio. Saya kira tempatnya bagus, eh kasurnya banyak banget bangsatnya. Gila apa tuh penginapan dah kayak kandang ayam. Akhirnya dua hari saya tidur di lantai, untung lantainya dari kayu jadi tidak terlalu dingin kalau malam. Phuket kota yang sepi, mungkin lebih mirip Sukabumi. Tiang listrik di kota ini selalu mengeluarkan bunyi “szzzttt” agak serem juga. Bosan di Phuket saya lanjut ke Patong, sisi lain dari pulau Phuket. Di sini saya bertemu dengan orang Perancis, mereka berasal dari Paris. Karena bosan pergi sendirian, saya gabung dengan mereka mencari penginapan dam menjadi teman seperjalanan selama di patong. Setiap buku perjalanan yang saya baca, banyak mengulas Patong sebagai tempat yang pas untuk bersenang-senang (gak usah pakai tanda kutip, ya...hehe). Tapi saya melihat Patong tak lebih dari dari tempat untuk menghabiskan uang saja. Hiburannya kurang menarik tapi harganya gila-gilaan. Alhasil, saya di Patong hanya sehari saja selanjutnya langsung berangkat mengunjungi pulau Phi-Phi yang tersohor itu.

Travel agent saya menyarankan untuk sudah bersiap di depan penginapan jam 7, oleh sebab itu saya sengaja bangun pagi-pagi dan membuat catatan untuk teman saya dari Perancis karena tidak sempat mengucapkan selamat tinggal. Perahu yang membawa saya ke pulau Phi-Phi terdari dari dua dek. Sebelum ke dek atas yang roof-nya terbuka, saya tidak lupa mencomot roti croissant dan secangkir teh dulu,hehe... Hal lain yang tidak enak ketika backpacking adalah repotnya mencari penginapan. Kita masih bisa lah nahan lapar atau jalan kaki kalau nggak meyiapkan budget untuk makan dan transport, tapi rasanya mustahil untuk tidur ngemper di jalanan, sendirian pula. Hey, c’mon... we aren’t in the jungle, bisa-bisa tas pada hilang atau ditangkep polisi karena dikira imigran gelap. Kalau sudah mendapat tempat untuk tidur hati terasa plong,haha... Semua penginapan yang ditawarkan calo rata-rata diatas budget berkisar Rp 300 ribu-an semalam. Terpaksa saya putari pulau untuk mencari penginapan yang sesuai kantong. Yang paling menyiksa saya ketika mencari penginapan adalah tas ransel. Perjalanan baru setengah jalan, tapi beban di ransel sudah maksimal. Coba bayangkan, saya harus memikul tas di depan dan belakang seberat 20 kg ditambah tentengan ­di tangan kanan dan kiri. Fiuh, begitu repotnya. Kalau dalam kondisi demikian, saya diberi tahu oleh teman saya dari Perancis sebaiknya kita menenangkan pikiran dulu, istirahat sebentar lalu melanjutkan pencarian lagi. Hari itu sungguh melelahkan bagi saya, makanya ketika menemukan mesjid, saya memutuskan untuk beristirahat dulu di sana.

Memang benar, dengan pikiran yang lebih tenang ketika sudah beristirahat akan memudahkan kita untuk berpikir dan emosi kita jadi lebih terkontrol. Pikiran saya sebelumnya benar-benar kacau, mungkin karena baru turun dari perahu lalu langsung berjalan dengan beban yang berat. Akhirnya, saya menemukan penginapan yang lumayan murah walau letaknya agak di belakang. Untuk harga makanan di pulau Phi-Phi agak sedikit mahal, makanya kita harus sedikit mensiasatinya. Saya punya tips untuk menghemat pengeluaran makan selama backpacking. Untuk sarapan pagi saya biasa makan sereal dengan susu. Sereal dapat dibeli di banyak toko swalayan seharga Rp 30 ribu-an. Satu kotak sereal bisa untuk 3-4 hari. Kombinasi nutrisi susu dan sereal saya yakin cukup untuk bekal petualangan kita seharian. Ingat, ketika backpacking sempatkan juga makan buah-buahan dan sayuran. Jangan sampai kita sakit di negeri orang, apalagi kalau pergi sendiri. Selama sebulan backpacking, saya sempat sakit sekali. Ketika itu, saya ditawari orang lokal makan malam bersama. Gratis, loh... ini berkat saya membantu kegiatan mesjid di pulau Phi-Phi menjelang bulan Ramadhan seperti memasang mading, bikin spanduk, dan lain-lain. Masakan lokal di Phi-Phi tidak jauh beda dengan Indonesia dan sangat lezat sekali. Mungkin karena terlalu maruk makan ini makan itu paginya saya sakit perut, haha... Namun saya sudah mempersiapkan obat sebelum berangkat, jadi setelah minum obat dan tidur beberapa jam sakit pun hilang. Mulai deh jalan-jalan lagi mengelilingi pulau, mendaki puncak tertinggi pulau Phi-Phi, mengunjungi Maya bay (bagi pecinta film the beach pasti tidak mau melewatkan kesempatan berkunjung ke tempat ini) dan terakhir menikmati “kegaduhan” pesta di pulau Phi-Phi saat malam.

Keindahan pulau Phi-Phi, sayang untuk dilewatkan.

Lagi-lagi kejadian apes terjadi, saat menunggu perahu ke Krabi tiba-tiba saja hujan turun. Kebetulan dermaganya tidak ada tempat berteduh, sehingga semua penumpang pun basah kuyup oleh hujan. Karena takut masuk angin, saya minum banyak tolak angin yang saya bawa dari Indonesia, dan ternyata benar cara itu sangat manjur. Kota Krabi lebih sepi dari Phuket. Di kota ini bahkan hanya ada satu mal sekelas ITC. Tetapi di sini setiap akhir pekan ada acara bazar, jadi saya tidak terlalu bosan menghabiskan 3 hari di Krabi. Oh, ya karena terjadi salah komunikasi, saya baru bertemu teman saya orang Thai itu di Krabi (seharusnya bertemu di Nakhon). Kita makan bersama di KFC. Kebetulan saya penggemar berat KFC, makanya saya ingin mencoba apakah ayam goreng KFC Thailand seenak KFC Indonesia, dan hasilnya adalah sama saja, haha... Yang membedakan di Thailand tidak ada paket nasi, jadi kalau mau pesan nasi harus membeli secara à la carte. Besok adalah hari pertama Ramadhan, oleh karena itu saya harus secepatnya ke kota Hat Yai dimana banyak komunitas muslim di sana. Semua orang tahu, kalau Thailand selatan adalah basis dari muslim Thailand. Saya kemudian mengucapkan selamat tinggal dengan Pla teman saya untuk pergi menuju Hat Yai.

Banyak sekali “momen pertama kali” yang saya rasakan dalam perjalanan ini, termasuk pertama kali menjalankan ibadah puasa di luar negeri. Semuanya serba berbeda. Tidak ada suasana meriah khas menjelang Ramadhan seperti di tanah air. Ini benar-benar pengalaman yang tidak terlupakan bagi saya. Awal Ramadhan juga yang menjadi penanda akhir liburan saya di coutry of smile itu. Wah, tidak terasa saya sudah menyelesaikan 1/3 perjalanan backpacking kali ini. Tapi, saya masih belum bisa bernafas lega dulu. Pengeluaran harus tetap dikendalikan, masih ada dua negara lagi menanti di depan. Seiring laju kereta meninggalkan Hat Yai, kisah perjalanan di Malaysia pun dimulai...


 
Kereta yang membawa saya ke Kuala Lumpur.

Modal backpacking Thailand - Malaysia - Singapura


Untuk melihat jadwal pemutaran cukup berdiri di depan poster.


Transportasi kota Bangkok yang maju. (Sky train)

Alex dan Max

Tempat belanja orang indonesia.

Pasti kalian kenal merek yang satu ini.

Berkunjung ke KBRI di Bangkok.

Perahu yang akan mengantar ke Maya bay.

Selasa, 14 Juni 2011

Backpacking Part 4 (Kepulauan Seribu)



Pulau Putri

Sewaktu saya masih kecil, nama pulau seribu sudah membuat saya penasaran untuk datang ke sana. Apalagi, teman-teman semasa SMP seringkali bercerita mengenai liburan mereka ke pulau bidadari atau ke pulau ayer. Sungguh beruntung, akhirnya saya bisa mewujudkan mimpi saya itu walaupun harus menunggu lebih dari 10 tahun. Kesempatan saya bersua dengan pulau seribu datang dari ajakan seorang teman di tahun 2010 lalu. Pada kunjungan pertama, saya diberi kesempatan mencicipi keindahan private island, sedangkan untuk kunjungan yang kedua, saya mengikuti tour island yang dibuat oleh klub Jakarta Tempoe Doeloe.
Salah satu alasan mengapa saya baru bisa pergi menjelajah pulau seribu adalah minimnya informasi kala itu. Untuk pergi ke sana, saya tidak tahu harus naik perahu dari pelabuhan apa, menginap dimana, dan biaya yang harus disiapkan. Karena yang saya tahu, Pulau Seribu adalah tempat liburan hanya untuk kalangan “atas”. Makanya, ketika ada kesempatan untuk pergi ke sana, saya tidak ingin melewatkannya.
Pada saat kunjungan pertama, saya pergi melalui pelabuhan Marina, Ancol. Pelabuhan Marina memang dikhususkan bagi para pelancong yang hendak ke Pulau Seribu menggunakan boat. Ketika itu, saya begitu excited, karena ini akan jadi pengalaman pertama ke Pulau Seribu. Sebenarnya, dua hari sebelumnya saya jatuh dari motor. Kaki dan tangan saya terluka cukup parah, saya pun sempat ragu jadi pergi atau tidak. Berhubung sudah janji dengan teman dan tidak mau rugi melewatkan gratisan, terpaksa bela-belain walaupun tangan kaki nyut-nyutan,haha…
Waktu tempuh ke pulau Putri dari pelabuhan Marina sekitar 2 jam lebih. Kapal melaju cepat memecah ombak, maklum kapal yang saya tumpangi bermesin ganda 40 PK. Kalau bayar, saya mungkin harus mengeluarkan uang Rp 150 ribu,- sekali jalan untuk kapal. Sedangkan untuk penginapan, satu malamnya bisa Rp 1 juta-an,- (beruntung teman saya punya saudara yang kerja di sana jadi agak KKN dikit,hehe...). Selama perjalanan, saya tidak merasakan guncangan ombak. Mungkin, karena saking cepatnya laju kapal. Tidak lama, kapalpun merapat di pulau Putri. Saya kemudian menaruh barang bawaan di kamar dan bersiap menjelajahi pulau.
Sebelum jalan-jalan, saya makan dulu, maklum sudah lewat jam makan siang. Nasi dan lauknya sudah diambilin teman saya, tugas saya cuma makan saja,hehe… Luas pulau Putri tidak sebesar pulau Pramuka (sok’ tahu, padahal belum pernah ke sana). Untuk mengelilinginya mungkin cuma perlu 30 menit jalan kaki. Di tengah pulau masih ada hutan alami, jadi terkadang suka banyak hewan sejenis kera, lutung, dan sebangsanya mampir ke penginapan. Yang lebih suereem, sering ada biawak mondar-mandir di depan pintu. Makanya, pintu kamar diusahakan selalu terkunci takut ada binatang ular atau yang lain masuk ke kamar.
Setelah puas menjelajahi pulau (kemarin nggak sempat mengelilingi seluruh pulau, sih), saya kemudian bersiap ke dermaga untuk melihat sunset. Saya bersama turis-turis yang lain naik kapal bak terbuka (eh, kalau kapal kayak gitu apa ya namanya) lalu, menuju laut lepas. Kata teman saya, biasanya banyak lumba-lumba yang suka berenang mengikuti kapal. Namun, karena kemarin agak mendung, nggak ada satupun lumba-lumba yang terlihat. Walau mendung, sunset-nya tetap kelihatan, kok, sebab mataharinya berada di ujung horizon. Menjelang malam, kapal kembali ke dermaga. Ya, lumayanlah hari itu bisa melihat sunset, walaupun luka-luka saya agak sakit kena sinar matahari.
Malamnya, karena hujan saya di diam kamar saja nonton tv. Ada di pulau saat hujan sangat menyeramkan. Saya jadi teringat petualangan saya ketika menginap di pulau Sempu. Kira-kira rasanya sama-lah seperti itu, bedanya pulau Sempu cuma berjarak 5 menit dari daratan utama sedangkan pulau Putri berjarak 2 jam dari Jakarta, jadi ombaknya lebih sangar. Saat itu, anginnya kencang sekali, pohon-pohon sampai pada bunyi kreeek kreek. Saya sempat keluar untuk beli makanan, dan tidak sengaja melihat kondisi laut saat itu. Ombaknya benar-benar seperti di film perfect storm. Tapi, anehnya saya jarang sekali mendengar petir, mungkin karena di sekitar pulau hanya ada laut. Jadi, tidak ada muatan listrik netral untuk terciptanya petir, sebab bumi lah yang berfungsi sebagai penghantar muatan listrik netral (sok’ tahu lagi).
Saya bangun sekitar jam 6 (telat sholat shubuh), abis itu langsung mandi dan sarapan. Lagi-lagi, teman saya yang membawakan nasi dan lauknya, saya tinggal menyantap saja. Sisa-sisa badai semalam masih terlihat jelas, banyak sekali daun-daun dan cabang pohon yang berserakan. Rencananya, saya mau menginap 2 malam, tapi luka di tangan saya agak terasa sakit kalau terkena angin laut (mungkin karena sedikit mengandung garam). Jadi, saya memutuskan untuk pulang hari itu juga. Sebelum pulang, saya pergi ke tabung observasi untuk melihat ikan di bawah laut. Ikannya besar-besar sekali. Turis lain banyak yang mengisi waktu luang dengan naik banana boat, naik bebek-bebekan seperti di taman mini, dan ada juga yang memancing. Jadwal kapal ke Jakarta cuma 1 kali, yaitu pagi jam 10. Jadi, saya harus siap-siap ada di dermaga sebelum jam 10 atau pulang keesokan harinya. Jam 10 kapal datang, tapi yang sekarang agak kecil dan agak lambat dari yang kemarin. Tapi, ini masih lebih baik sebab kalau naik kapal mesin punya nelayan bisa memakan waktu 8 jam untuk sampai Jakarta. Sampai di dermaga Marina, saya jalan-jalan ke Ancol sebentar, lalu pulang ke rumah. Oh, iya, perjalanan ke pulau Putri saya cuma habis Rp 100 ribuan, itu juga hanya untuk pengeluaran pribadi dan masuk Ancol.
wuidih, ikannya gede-gede... serem
kolam observasi bawah laut.
di sekeliling pulau Putri banyak juga pulau lain yang belum dikembangkan (berniat investasi?)
karena bosen di dalem terus, mending nge-liat pemandangan dari luar kapal...


Pulau Onrust

Setelah jalan-jalan ke pulau Putri beberapa waktu lalu, sekarang saya berkesempatan mengunjungi pulau Onrust, dan dua pulau lainnya. Perjalanan kali ini, saya ditemani oleh teman-teman dari Jepang, Korea, Thailand, dan Polandia. Kebetulan, salah satu teman saya merupakan anggota klub Jakarta Tempo Doeloe. Jadi, ketika klub itu mengadakan acara jalan-jalan ke pulau Onrust, dia juga mengajak saya. Biaya perjalanan kemarin Rp 100 ribu,- sudah termasuk makan, kapal, kaos, dan pin. Lumayan lah nggak rugi-rugi banget dengan fasilitas yang disediakan panitia.
Dari Depok saya naik kereta menuju Kota. Saya dan teman-teman sudah janjian untuk bertemu di depan museum Bank Mandiri di depan stasiun Kota. Karena kereta telat, saya pun agak telat sampai sana. Saat itu, semua orang sudah datang. Tidak banyak membuang waktu sayapun langsung mencari taksi untuk ke Muara Kamal, sebab tour akan dimulai jam 8 pagi. Sengaja saya pilih taksi Ekspress, karena tarifnya lebih murah dari Blue Bird (bukan promosi), tapi untuk taksi kedua saya pakai Taksiku (dua-duanya recommended). Kami saat itu pergi ber-9, jadi kami bagi lima orang untuk di Ekspress dan sisanya di Taksiku.
Singkat kata, kami langsung meluncur ke TKP. Dermaga Muara Kamal agak jauh dari stasiun Kota, sekitar 40 menit perjalanan. Tempatnya juga agak terpencil dan tidak ada angkutan kota. Tapi, kita bisa pakai mobil omprengan untuk sampai sana. Kalau sudah malam, akan lebih susah lagi cari angkutan. Jadi, lebih baik pulang sebelum jam 6, atau bawa kendaraan sendiri. Tour akan mulai pada pukul 08.00, tapi jam 7.40 kita masih ada di jalan karena agak macet. Jalan ke Muara Kamal tidak terlalu lebar, namun yang lewat truk-truk besar. Sehingga, bila berpapasan, salah satu pihak harus sedikit menepi.
20 menit lebih, kami sampai dermaga Muara Kamal (untung nggak ditinggal). Kami pun dapat kaos dan pin dari panitia. Saat itu, ada lebih dari 4 perahu yang membawa para anggota tour ke pulau Onrust, karena jumlah orang yang ikut saya taksir lebih dari 100 orang termasuk panitia. Setelah berdoa bersama, kapal pun berangkat. Dermaga Muara Kamal terbilang agak kumuh, banyak sekali sampah yang berserakan di darat maupun di laut. Makanya, jarang pelancong ala koper yang lewat Muara Kamal untuk ke pulau Seribu. Mereka lebih suka naik kapal dari Marina Ancol.
Kapal yang saya tumpangi melaju tidak lebih dari 5 knot (sekita 10 km/ jam lah). Berbeda sekali dengan kapal ke pulau Putri. Kali ini, guncangan ombak sangat terasa sehingga saya lihat beberapa orang yang muntah-muntah karena mabok laut. 15 menit kemudian, saya sampai ke pulau pertama. Di pulau pertama yang saya kunjungi ada sebuah benteng tua yang sudah hancur di beberapa bagian. Keadaanya kurang terawat karena persoalan klasik yaitu “sampah”. Yang sering buang sampah sembarangan memang sampah masyarakat. Saya paling kesal, kalau sedang jalan-jalan wisata alam melihat sampah. Kalau punya waktu lebih banyak, mungkin saya akan pungutin tuh sampah seperti yang saya lakukan di pulau Sempu dulu. Please, sediain kantong sampah pribadi kalau sedang wisata alam. Jadi, sampahnya nggak dibuang begitu saja. Masalahnya, tempat seperti pulau Seribu dan pulau Sempu, bukan ada di tengah kota yang gampang dibersihkan kalau kotor. Sekali saja ada sampah yang terbuang akan sulit dibersihkan, apalagi kalau sudah ada di laut sangat sulit sekali mengumpulkan sampahnya. (consider the earth is our home, so we have to responsible to keep it clean).

Kecuali masalah sampah, tempat itu sebenarnya adalah tempat yang indah. Pasirnya berasal dari pecahan kulit kerang, kalau terinjak rasanya sedikit sakit (buat terapi cocok kali, ye). Yang aneh, di pulau itu ada sekawanan kucing yang entah dari mana datangnya. Saya bertanya kepada pemilik kapal, dan menanyakan apa itu kucing mereka (mungkin terbawa di perahu). Tapi, mereka bilang itu kucing dari Jakarta (wew). Beberapa saat kemudian, kami melanjutkan ke pulau berikutnya. Ada hal lucu sebelum ke pulau selanjutnya, rupanya badan kapal terbawa ombak sampai menyentuh dasar (karena nggak ada dermaga). Sehingga walau mesin sudah di gas pol, kapal belum mau jalan juga. Kapal harus didorong sedikit, dan yang gila si bapak menyuruh anaknya yang masih bocah untuk mendorong kapal (kasian banget luh, tong!). Mungkin karena kapal terlalu berat atau si anak yang terlalu kecil, kapal tetap nggak bergerak. Orang-orang bukannya mikir, malah pada ngobrol sendiri, padahal kapal lain sudah berangkat. Karena kasian, saya turun lagi ke pantai dan dorong tuh kapal dan buru-buru naik lagi biar nggak ketinggalan. Memang, “gara-gara” ikut pramuka (lebih tepatnya, berkat ikut pramuka) jiwa solidaritas dan kecintaan dengan alam yang saya miliki jadi tinggi sekali. Sesuai dengan isi Dasa Dharma ke-dua: cinta alam dan kasih sayang sesama manusia. Hidup Pramuka!!!
Jarak pulau pertama dan kedua tidak begitu jauh sekitar 10 menit perjalanan. Di pulau kedua ini, lebih luas dari pulau pertama. Di sini ada pos penjagaan dan tempat istirahat, selain itu ada banyak kuburan belanda. Pemandu tour menjelaskan, kalau dulunya pulau ini adalah penjara dan tempat buangan para korban kasus politik. Beberapa saat berjalan kaki, saya menjumpai kuburan yang konon adalah peristirahatan terakhir dari........ (wah lupa namanya, sorry!) yang pasti, ada kok di buku pelajaran sejarah. Lalu, tour dilanjutkan ke kuburan belanda. Ada satu makam yang agak nyentrik, karena batu nisannya paling besar sendiri dan ada tulisan bahasa belanda-nya (paling tulisan itu artinya “di sini telah terbaring dengan tenang bla... bla... bla...”). Katanya, kalau malam hari, si nyonya belande ini sering menampakan wujudnya. Puas dengar celotehan si pemandu, saya dan teman-teman sudah nggak sabar foto-foto dengan latar belakang laut lepas. Wuih, keren...
Panitia kemudian membagikan nasi bungkus. Saatnya makan siang rupanya. Jujur, makanannya enak banget, mungkin karena lapar kali, ya. Tidak lupa cari mushola untuk sholat dhuhur sekalian ashar, istirahat sebentar lalu lanjut ke pulau terakhir. Oh, ya... sorry lagi. Saya lupa pulau Onrust tuh yang mana ya, pulau pertama? pulau kedua? atau pulau ketiga?. Pokoknya, Onrust itu dari bahasa belanda yang berarti tidak pernah istirahat, mungkin bahasa inggrisnya unrest kali, ya (maybe). Sebenarnya pulau kedua dan pulau ketiga terhubung oleh jembatan yang melintasi laut, tapi sayang jembatannya terputus di bagian tengah karena ombak. Di pulau ketiga, masih tersisa beberapa bangunan yang dulunya tempat karantina. Saya sempat berjalan di atas jembatan sampai bagian yang terputus. Wow, seram sekali karena jembatan itu benar-benar di tengah laut. Yang jadi pertanyaan, kok, bisa ya bangun jembatan di tengah laut. Secara kalkulasi kedalaman laut lebih dari 10 meter, lalu bagaimana mereka menancapkan tiang-tiangnya dan membuatnya berdiri kokoh (setidaknya sampai sebelum jembatan itu runtuh). Pokoknya keren lah, arsiteknya. menjelang sore, kami kembali ke Muara Kamal. Untuk ke pusat kota, saya naik omprengan Rp 10.000,- menuju pluit. Dari sana dilanjutkan dengan Transjakarta ke downt town. Malamnya, saya diajak teman nonton acara dari kedutaan besar Thailand di Gedung Kesenian Jakarta. Wah, hari yang sangat indah yang tidak terlupakan.
Jalan-jalan ke pulau Seribu merupakan my fulfilled dream. Kalau bukan karena teman-teman saya itu, mungkin saya masih penasaran setengah mati dengan pulau seribu. Kalau ada waktu, saya juga mau ke pulau Tidung, sepertinya pulau itu menjadi terkenal baru-baru ini. Banyak teman yang mengajak ke sana, tapi belum sempat waktunya. Selain pulau Tidung, saya juga mau ke pulau Pramuka (mentang-mentang anak Pramuka), pulau Bidadari, dan pulau Ayer. Semoga saja saat yang tepat untuk mengunjungi pulau-pulau itu datang.


beberapa foto yang menceritakan sejarah pulau

catatan sejarah pulau Onrust


di pulau ini banyak kucing misterius, karena jarak pulau ke daratan Jakarta lebih dari 2 km (nggak mungkin, 'kan mereka berenang?)

Senin, 13 Juni 2011

Backpacking Part 3 (Bandung - Kawah Putih)


Sebenarnya, ini bukan sebuah perjalanan backpacking hanya jalan-jalan biasa untuk mengisi waktu luang saja. Kebetulan, saya sudah pernah dua kali ke Kawah Putih. Perjalanan yang pertama, saya tempuh dengan menggunakan transportasi umum, dan yang kedua menggunakan mobil sewaan. Keduanya sama-sama menyenangkan, tinggal disesuaikan saja dengan kemampuan finansial dan tingkat kenyamanan. Pada umumnya, untuk bepergian dibawah 4 orang, lebih baik menggunakan transportasi umum, karena terhitung lebih murah namun harus rela repot-repot ganti mobil angkutan. Sedangkan, lebih dari 4 orang bisa sewa mobil dari Jakarta. Walaupun sewa mobil cukup mahal, tapi karena di-share dengan yang lain secara umum akan lebih hemat.
Pada awalnya, saya tertarik berniat pergi ke Kawah Putih, karena melihat foto teman yang sudah berkunjung ke sana. Air telaga yang berwarna abu-abu cenderung kehijauan, ditambah banyaknya batang-batang pohon mati yang masih menancap di atas tanah sulfur yang berwarna putih, membuat pemandangan di Kawah Putih begitu dramatis. Mirip sekali dengan lokasi syuting film favorit saya The Lord Of The Rings (sumpah, deh…). Saya seakan tidak percaya, bila tempat tersebut ada di kota Bandung, bukan di Selandia Baru. Itulah sebabnya, alasan kenapa saya sangat ingin pergi ke sana.
Selain itu, alasan saya berikutnya adalah mengantar teman. Baik perjalanan pertama dan kedua, saya memang sengaja memilih Kawah Putih sebagai objek tujuan wisata agar teman-teman saya dari luar negeri bisa tahu betapa indahnya Indonesia. Saking indahnya, Kawah Putih sering dipakai untuk tempat foto pre-wedding orang-orang Bandung, bahkan ada juga dari Jakarta.
Perjalanan pertama saya ke Kawah Putih bermula dari teman saya yang asli Thailand ingin berjalan-jalan ke Bandung. Rencananya, sih, hanya berkeliling Bandung saja. Tapi, setelah saya pikir-pikir akan tidak berkesan bila sudah jauh-jauh ke Bandung hanya pergi ke mal untuk belanja. Kemudian, saya usulkan kepada mereka bagamaina kalau sekalian berkunjung ke Kawah Putih dan mereka pun setuju.
Saya akan bahas step by step menuju Kawah Putih dari Jakarta. Pertama, kita harus mencapai Bandung terlebih dahulu, karena tidak ada bis jurusan Kawah Putih yang langsung dari Jakarta. Untuk itu, kita bisa pilih perusahaan-perusahaan bus tujuan Bandung yang banyak bertebaran (daun kalee…). Yang mau lebih nyaman, dapat memanfaatkan jasa travel. Sebagai perbandingan, harga bus ekonomi Jakarta-Bandung sekitar Rp 25.000, sedangkan untuk bis eksekutif ac bisa sampai Rp 55.000. Harga bus eksekutif reatif sama dengan biaya travel ke Bandung. Jadi tinggal pilih saja, sesuai keinginan.
Lama tempuh ke Bandung kurang lebih sekitar 3 jam, oleh sebab itu usahakan pergi lebih pagi bila berniat hanya satu hari saja. Semua bus dari Jakarta, rata-rata akan berakhir di terminal Leuwi Panjang. Sedangkan untuk travel menggunakan sistem point to point, artinya travel tersebut bisa mengantar kita sesuai tujuan yang dikehendaki. Terminal Leuwi panjang tidak ubahnya seperti terminal-terminal lain di Indonesia (kayak udah pernah keliling Indonesia aja, haha…). Kondisi bangunannya sudah agak tua dan agak kusam (sebenarnya bukan agak tapi memang tua dan kusam). Penempatan bus tidak beraturan, jadi sebaiknya berjalanlah di pinggir kalau tidak mau tertabrak bus yang berseliweran masuk dan keluar terminal.

Saat turun dari bus, kita akan dihampiri oleh banyak calo, supir taksi, tukang jualan, sampai tukang minta-minta. Kalau artis wanna be mungkin akan senang-senang aja, tapi buat yang tidak biasa akan sangat terganggu. Saran saya untuk traveler wanita, kalau ke tempat seperti terminal atau stasiun lebih baik ditemani oleh teman laki-laki. Karena biasanya orang-orang yang saya sebutkan di atas, terkadang sangat mengganggu dan terus mengejar kita. Saya sampai capek untuk bilang “
nggak” berkali-kali kepada mereka. Kasusnya mirip-mirip waktu saya ke Bali dulu. Mereka biasanya akan bertanya,
“mau kemana, mas?”
biasanya, saya jawab “nggak”, maksudnya biar mereka pergi. Tapi, jangan harap mereka menyerah, pertanyaan balasan dari mereka umumnya,
“ mau ke garut, subang, bla… bla… bla…” (mereka nyebutin kota-kota sekitar Bandung, pasti waktu pelajaran IPS dapet nilai bagus)
“jadi, mau kemana, mas?”
Karena saya malas menjawab lagi, saya bilang saja “ntar, saya mau cari makan dulu”
worst case, mereka benar-benar nungguin kita makan kayak waktu ke Gunung Bromo (nah, loh…), kalau diam saja mereka suka bilang,
“ditanya diem aja… gagu, ya?” (bah…)
Kemarin, saya berkesempatan untuk menginap satu malam di Bandung. Sebab Kawah Putih masih 2 jam perjalanan lagi dan akan sangat melelahkan bila langsung ke sana. Apalagi saya membawa teman wanita, jadi saya putuskan cari penginapan di Bandung saja dulu. Sebelumnya kalau ke Bandung, saya selalu menginap di kost teman, sehingga saya sempat kebingungan mencari penginapan yang cocok. Maksudnya, cocok untuk budget saya, karena teman saya dari Thailand sepertinya tidak bermasalah dengan harga penginapan,haha…
Di kota manapun, rasanya mencari penginapan murah gampang-gampang susah. Sekalipun, saya anak jakarta (weee…) kalau bukan dari buku traveling, rasanya saya masih belum tahu kalau pusat penginapan murah di Jakarta ada di jalan Jaksa (dekat Monas). Untuk itu, saya juga memanfaatkan buku traveling untuk mencari penginapan murah. Pilihan saya, jatuh pada Gelanggang Remaja apa gitu… (namanya lupa). Letaknya sangat strategis, persis di samping BIP Plaza di daerah Dago.
Kamar paling bagus dibandrol dengan harga Rp 150 ribu-an dan kamar dormintory seharga Rp 30 ribu/ orang. Anehnya, untuk tidur di dormitory pengelola mengharuskan minimal 4 orang, jadi kalau datang sendiri terpaksa harus bayar penuh untuk 4 orang. Hal itu karena, kunci kamarnya kita yang bawa. Kalau menginap sendirian, pilih saja kamar yang paling bagus daripada tidur di dormitory. Karena, cuma kami berempat yang tidur di dorm¸ kami mengajak 1 orang lagi teman untuk menginap sebab masih banyak kasur kosong. Dia berasal dari Thailand juga yang sedang belajar di UPI. Awalnya agak takut juga, karena kami tidak memberi tahu pengelola kalau ada 1 orang penyelundup,haha…
Ketika itu, saya pergi waktu bulan Ramadhan. Bagi yang shaum, bisa sahur di KFC yang ada di depan Gelanggang Remaja yang buka 24 jam. Habis sahur, saya tidur lagi,hehe… Bangun-bangun sudah pukul 9 pagi alias bablas. Kemudian, kami semua bergegas mandi dan makan pagi untuk menemani teman saya dari Thailand itu. Setalah makan di Pizza Hut, kami kembali ke terminal Leuwi Panjang untuk naik bis tujuan Ciwideuy. Di sini, kami berpisah dengan Supamongkol teman dari Thailand, karena dia sedang ada acara di kampus.
Jalur angkutan di Bandung sangat rumit, bahkan setiap saya tanya orang yang lewat, bisa ada beberapa jawaban untuk satu pertanyaan yang sama. Oleh sebab itu bila mau ke Bandung, akrabkan diri dengan peta atau mau lebih praktis bisa menggunakan google map dari Handphone 3G. Saya tidak melebih-lebihkan, sebab anak kuliah saja yang tinggal di Bandung tidak mengerti jalur angkot, gimana kita yang orang Jakarta. Wajar saja, sih, orang-orang Bandung lebih suka naik motor atau mobil pribadi untuk mobilitas mereka (uh, sombong…).
Setelah sampai Leuwi Panjang, bisa langsung cari bis ukuran sedang tujuan Ciwideuy. Ingat, tidak ada bis kalau sudah sore, jadi kalkulasikan waktu dengan tepat. Tarif ke Ciwideuy dari Bandung Rp 13 ribu memakan waktu 2 jam-an. Di beberapa titik, sering sekali macet, tapi secara umum perjalanan dengan bis cukup lancar. Sepanjang perjalanan, kita akan melihat perkebunan strawberry di kanan-kiri jalan. Sayang, lebar jalan sangat sempit. Tiap jalur hanya cukup untuk satu mobil, jadi saya suka ngeri kalau ada motor yang mencoba menyalip, sebab rata-rata kecepatan mobil lumayan kencang untuk jalur sesempit itu.

Sampai di terminal Ciwideuy jangan kaget, kalau hanya kita yang jadi turis. Sebab, penumpang yang lain adalah penduduk setempat atau pedagang yang memasarkan barangnya di Bandung. Lumayan lama, saya celingak-celinguk di terminal sebab semua supir angkot yang saya tanya bagaimana untuk ke Kawah Putih, semuanya menawarkan harga borongan. Maksudnya, kita disuruh menyewa angkot mereka.
Saya mencoba untuk bertanya pada warga, tapi mereka takut memberi tahu karena supir angkot yang tadi segera menghampiri warga tersebut, sambil teriak-teriak pakai bahasa sunda. Dalam hati saya menggumam, “wah sialan, ini sih kayak waktu ke Bali waktu itu”. Ini salah satu alasan kenapa Indonesia masih terkucil dari pentas pariwisata internasional. Bagaimana turis asing mau nyaman berkunjung, lha wong saya saja yang orang indonesia dikerjai sama mereka. Akhirnya, saya menyerah karena hari sudah siang dan saya berniat kembali ke Jakarta hari itu juga. Lalu, saya tanya ke supir berapa harga sewa angkot, kemudia dia bilang,
“sewanya Rp 500ribu”
eh, buset mahal amat dah… saya bilang “kurangin, lah… orang deket gitu” (padahal saya tidak tahu masih jauh atau nggak, hehe…)
“udah… Rp 300 ribu deh”
“masih mahal, saya mahasiswa, kurangin lagi dong” (trik paling populer di kalangan anak kuliah untuk dapat diskon)
“nggak bisa, karena itu dah sama tiket masuk, uang bensin, bla… bla… bla…”
saya diam, sambil menghitung-hitung variabel biaya yang ada dan menanyakan pendapat yang lain. Tampaknya kita memang tidak punya pilihan.
“200 ribu, ya” saya masih berusaha menego.
“yauda, naik saja dulu” kata supirnya.

Karena, kita masih belum deal soal harga, selama perjalanan saya dan si supir adu bacot. Malah, kadang-kadang si supir pakai bahasa sunda, saya langsung bilang saja “ah, gue nggak ngerti”. Teman-teman yang lain cuma diam saja melihat saya keukeuh-keukeuhan sama supir angkot. Saya sudah sering jalan-jalan dan sering pula dimanfaatin sama tukang jualan, supir angkot, sama pengelola penginapan. Jadi kali ini, setidaknya saya harus melakukan perlawanan. Dengan sedikit nekat, saya bilang ke supir,
“yauda lah, kalau nggak mau saya turun saja
supir pun mikir-mikir, saya selama perjalanan kalkulasi sendiri agar keputusan saya menggertak supir tidak salah.
Perhitungan kasar saya,
tarif masuk biasanya Rp 13 ribu x 4 orang = Rp 62.000
ongkos standar angkot paling Rp 8 ribu x 4 orang = Rp 32.000
ongkos angkutan dari pintu masuk ke kawah Rp 10 ribu x 4 orang = Rp 40.000
jadi paling banter totalnya tidak sampai Rp 140 ribu berarti dia dah untung Rp 160 ribu dengan memasang harga Rp 300 ribu.
Si supir nggak kehilangan akal, lalu dia bilang dengan harga Rp 250 ribu sudah termasuk jalan-jalan ke Situ Patenggang. Karena sedang puasa, kelamaan adu bacot juga tidak baik untuk kesehatan,haha… malah bikin tambah haus saja. Saya pun menyetujui harga tersebut, dengan pertimbangan ada dua objek yang dikunjungi. Tidak rugi-rugi amat lah.

Setelah 15 menit perjalanan dari terminal, kami sampai di Kawah Putih. Angkot pun langsung melaju ke kawah tanpa ba bi bu di depan loket. Artinya, kami tidak bayar uang loket, ealaaah… dasar licik. Saya tidak mau masalah tersebut mengganggu perjalanan, jadi saya nikmati saja wisata ke Kawah Putih. Tidak lama kami sampai di pemberhentian terakhir. Saya hitung-hitung, dari pintu masuk ke sini memakan waktu 10 menit an. Sebenarnya, bisa saja jalan tapi bukan masalah capai-nya. Jalan menuju kawah sekitar 3.5 meter artinya untuk 2 mobil berpapasan saja tidak cukup. Konsekuensi paling besar dari keadaan tersebut cuma ada dua, TERSEREMPET atau TERTABRAK.
Saat kami sampai di kawah, keadaan sedikit gerimis, bukan karena hujan namun karena banyaknya kabut yang mengandung uap air bisa dibilang prosesnya hampir sama dengan hujan juga sih. Tidak sia-sia pergi jauh ke Kawah Putih, apa yang saya lihat di foto sesuai dengan ekspektasi saya. Apalagi, saat itu tidak terlalu banyak wisatawan, jadi aura Kawah Putih benar-benar mistis karena tebalnya kabut yang menyelimuti. Wow, sangat FANTASTIS…
Saya sempat cuci kaki di crater, rasanya hangat sekali padahal udara di sekitar sangat dingin. Disarankan kalau ke Kawah Putih membawa masker atau selendang untuk menutup mulut. Seringkali kawah mengeluarkan uap belerang yang sangat pekat. Tapi, jangan khawatir ada banyak penjual masker dan penyewaan payung kalau hari sedang hujan. Untuk pulang ke Bandung, sama seperti kita pergi. Harap diingat, angkutan ke Bandung kalau malam sangat susah. Kami sempat kemalaman di Ciwideuy, sehingga kami harus berganti-ganti trayek untuk sampai Bandung sebab bis sudah tidak ada. Kalau, kemalaman, naik mobil ELF yang ada di depan indomart, tempat biasa angkutan mangkal, di terminal sudah sepi tidak ada mobil lagi.

Begitulah perjalanan saya yang pertama ke Kawah Putih, untuk perjalanan kedua tidak banyak yang bisa diceritakan, karena saya hanya duduk manis di mobil, tahu-tahu sudah sampai Kawah Putih. Itulah kekurangan naik mobil sewaan, perjalanan menjadi kurang mengesankan. Sebelum pulang, kami menyempatkan untuk pergi ke kebun strawberry. Ada beberapa macam jenis strawberry, yang paling manis adalah jenis calibrate (tahu benar atau salah penulisannya). Harganya sekitar Rp 40 ribu/ Kg, tapi saat kunjungan kedua saya dapat tempat beli strawberry yang harganya Rp 20 ribu/ Kg, jadi kalau dirasa harganya mahal bisa cari perkebunan yang lain. Kita juga bisa mencicipi dulu, kok, strawberry yang mau kita beli tinggal petik saja sendiri. Untuk tips memetik strawberry, sisakan sedikit batangnya agar strawberry tetap segar.
seperti middle earth di TLOTR, kan?

saat kunjungan pertama ke kawah putih

ada buah strawberry yang unik

kalau metik buah strawberry dengan tangkainya agar tidak cepat layu

kunjungan kedua saya bersama teman dari Korea dan Jepang

situ patenggang yang terkenal itu

di tengah situ patenggang ada yang namanya pulau cinta, tapi tidak sempat ke sana

kita bisa makan strawberry yang ada di kebun, gratisss!!!
kalau yang ini harus bayar, karena untuk dibawa pulang